"Mereka bilang kau tak datang." kata Harsh dengan suaranya yang berat.
"Siapa?"
"Awak pesawat."
"Aku memang tak datang kesana. Tapi sekarang aku disini."
Harsh terdiam, bukan tak tahu harus berkata apa, namun ia ingin menikmati apa yang sedang melandanya. Ia rindu luar biasa, pada momen-momen seperti ini. Pada cara Kashi memandanginya penuh damba, cinta kepadanya, bergantung kepadanya seolah di dunia ini hanya ia seorang yang dimilikinya. Ia rindu dicintai dan diperhatikan meskipun terkadang menyangkal bahwa seseorang seperti dirinya membutuhkan semua itu untuk hidup.
Kedua bola mata Kashi yang redup balas menatap manik mata Harsh yang mengkilap. Hatinya bergemuruh, jantungnya berdegup kencang.
Tak ada satu pun di antara mereka yang sanggup mengucapkan sepatah kata lagi. Saat wajah mereka mendekat, deru nafas keduanya menyatu dalam satu irama yang semakin lama semakin menggebu-gebu. Di waktu yang tepat, Harsh langsung mencium bibirnya. Yang semula hanya kecupan demi kecupan basah, kini berubah menjadi semakin liar dan panas. Tubuh Kashi selangkah demi selangkah mundur ke belakang, kakinya menabrak tempat tidur sebelum ia terduduk di tepi ranjang hingga kemudian tubuhnya lantas jatuh memantul ke atas kasur.
Buru-buru Harsh membuka kancing kemejanya sendiri yang basah, menanggalkannya dan membuangnya ke sembarang arah.
Debar di seluruh aliran darah Kashi kini mengambil alih nafasnya ketika menatap Harsh yang sudah bertelanjang dada berada tepat di atasnya. Dia menyodorkan wajahnya dan mata Kashi kembali terpejam menikmati setiap sentuhan dan ciuman yang diberikan oleh pria itu. Harsh mengulum bibirnya dan membelit lidahnya sembari melepaskan satu persatu kancing blus yang dikenakan Kashi. Ketika tubuh bagian atas Kashi sudah telanjang, Harsh melepaskan pagutan bibir mereka sejenak. Bola matanya berkabut gairah, seolah sudah ribuan tahun lama nya ia tak rasakan kenikmatan itu. Tangannya yang panas bergerak perlahan mengikuti garis wajah Kashi, mengaguminya, memujinya, turun hingga ke leher dan mendarat di buah dadanya yang membusung.
"Apa kau masih ingat tentang 500-dollar-ciuman yang kujanjikan untukmu?" tanya Harsh. "Hitunglah 499 kali di dalam kepalamu setiap kali aku menciummu."
Pria itu sudah langsung menyasar lehernya, daun telinganya, dan tulang selangkanya. Kashi mendongak sementara tangannya menyusup dan mencengkram rambut Harsh. Seolah semua sarafnya di bakar, ia mendesah berat kala bibir Harsh mulai mengulum buah dadanya, mengecup perutnya, lalu pusarnya.
Tahu-tahu pria itu sudah berada di antara kedua pangkal pahanya.
Bola mata Kashi terpejam dan nafasnya mulai tak menentu, membayangkan apa yang akan dilakukan Harsh disana. Sekujur pahanya seakan lumpuh saat lidah Harsh menyentuh titik sensitifnya dan mencumbunya dengan sensual. Ia mencoba menghitung di dalam kepalanya setiap kali menerima kecupan-kecupan panas di bawah sana.
Ia mendesah, memohon, dan meminta ampun pada Harsh, namun pria itu sama sekali tak berhenti. Dia menggelitiki bagian tertentu yang mampu membuat punggung Kashi melengkung. Dia menahannya yang berusaha melepaskan diri sampai-sampai ia memasrahkan dirinya dan kedua kakinya terbuka semakin lebar untuk pria itu. Semua ini memberikan sensasi tersendiri yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata. Harsh menghujaninya dengan kenikmatan duniawi yang mendebarkan dadanya. Dia membasahinya di bawah sana namun jiwa Kashi seakan basah seluruhnya. Ia sudah tak tahan lagi. Mulutnya terbuka, matanya terpejam. Puncak itu datang menghantam, membuat sekujur tubuhnya gemetaran tiada tara.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
RomansaLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
