Chapter 41 - âme morte

48.4K 3K 794
                                        

"Aku boleh tanya sesuatu?"

Kiev yang sedang memotong steaknya menoleh pada Dahlia yang duduk di di hadapannya di restoran tempat mereka makan malam. "Ya, silakan."

Gadis itu lalu menatapnya beberapa saat, seolah sedang memastikan sesuatu sebelum akhirnya mengutarakan pertanyaannya. "Apa kau baik-baik saja?"

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Kashi bilang kau tidak sehat. Aku tak paham maksudnya. Namun itu membuatku kepikiran."

Dengan lembut, Kiev meraih tangan Dahlia lalu menggenggamnya di atas meja. "Apa menurutmu aku tak sehat?"

"Entahlah, dia memberitahuku hal-hal yang tak kupahami."

"Kau tak perlu memahaminya. Dia memang gemar melantur."

Mereka saling memandangi satu sama lain untuk waktu yang cukup lama. Kiev mempertahankan tatapannya, sementara Dahlia mencoba untuk mencari jawaban atas kegundahannya yang tiba-tiba muncul. Sebenarnya ia sendiri juga merasakan ada hal yang berbeda dari Harsh. Harsh tak pernah bersikap lembut padanya—dalam artian lembut seperti seorang pria terhadap wanita. Harsh tak memanjakannya. Saat ia menangis, Harsh lebih sering memarahinya ketimbang menjejalinya dengan perhiasan, gaun dan barang-barang mewah lainnya. Dia selalu bilang tak suka melihat perempuan lemah. Harsh yang ia kenal tak akan menggenggam tangannya bahkan ketika seharusnya ia melakukannya dahulu saat Isaac meninggal.

Dahlia tak dapat menjelaskannya. Harsh yang sekarang benar-benar tidak seperti Harsh. Namun ia menyukai Harsh yang sekarang, yang memberikannya perhatian—perhatian yang dari dulu ia dambakan dari sosok laki-laki yang hanya menganggapnya sebagai adik bukan wanita.

Dahlia menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran aneh yang muncul ke dalam benaknya. "Seharusnya Kashi ikut bersama kita, mencari udara segar. Aku sudah mengajaknya tapi dia tak mau. Kalau seperti ini malah dia yang lebih terlihat seperti adik Zacharias ketimbang aku. Dia berduka sementara aku bersenang-senang."

Kiev hanya mengulas senyum tipisnya sambil meneguk anggur merah saat Dahlia tertawa kecil. Gadis itu kini kembali fokus pada makan malamnya. Usai menyantap hidangan penutup, mereka pindah ke area bar untuk minum-minum sambil mengobrol.

"Kau lihat pintu merah itu?" tanya Dahlia sembari menunjuk sebuah pintu yang di jaga oleh dua pria berkulit hitam. "Katanya ada pesta seks di dalam sana setiap jumat malam."

Masih ada sisa-sisa tawa saat Dahlia selesai bicara. Kiev kembali meneguk minumannya sementara Dahlia masih sedang bernostalgia.

"Aku rindu kehidupan kita saat semuanya masih lengkap," kata Dahlia. "Meskipun melarat, namun kita bahagia. Sekarang kita punya segalanya dan satu persatu dari kita pergi untuk selamanya."

Kiev mengabaikan perkataan Dahlia dan meneguk sisa minumannya. "Ayo kita masuk ke dalam sana."

Dahlia menoleh pada pintu merah dan menatap Kiev dengan kening berkerut tipis. "Kau serius?"

"Ya."

"Denganku?"

"Ya, Dahlia, denganmu."

Dahlia terdiam dengan bola mata memandangi Kiev yang sedang menunggu reaksinya. Namun entah bagaimana tiba-tiba saja mereka berdua kini sudah berjalan memasuki pintu tersebut, menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah yang megah, menelusuri koridor sambil berpegangan tangan. Musik erotis, desahan dan erangan langsung memenuhi telinga sementara di sisi kiri dan kanan mereka berbagai jenis manusia sibuk mencari kepuasan dari tubuh-tubuh asing. Ada yang baru saja menanggalkan busana, ada pula yang sudah telanjang sepenuhnya, tak peduli pada banyak mata yang sedang mengawasi seakan dunia miliknya seorang. Di sudut sana beberapa pria sedang menghirup narkoba dan mendengus puas sambil membiarkan para perempuan mencumbu mereka.

CLIMAXTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang