Leonelle #3
Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
Trigger warning! This chapter contain disturbing scene.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
9 years ago.
Hari itu, hari ulang tahunku yang ke enam belas.
Usai meletakkan buket bunga di atas nisan ibuku, Matthias sebenarnya tak meninggalkanku disana seperti yang kuharapkan terjadi. Dia membawaku ke kelab tempat dia dan teman-temannya sering berkumpul.
Dulu ketika aku masih kecil, mereka sering mengucapkan kata-kata berbau seksual. Sekarang pun tak ada beda, mereka tak berubah. Bahkan semakin menjijikkan. Jadi, hal terbaik yang bisa kulakukan untuk menghadapi mereka adalah bersikap seperti orang tuli.
"Selamat ulang tahun gadis kecil kami."
"Astaga, lihat, dadanya sudah tumbuh besar sekarang."
"Kau sudah enam belas, ya? Pasti sudah tahu caranya bercinta, kan?"
Mereka bahkan memperagakan cara orang bercinta seolah aku anak kecil yang sering mereka ganggu dulu. Aku menghembuskan nafasku bosan.
"Tadaa!" Kemudian Rocío mengeluarkan kue coklat berbentuk kelamin laki-laki dari balik punggungnya. "Kau tahu, kue ini sangat unik. Cara menikmatinya bukan dimakan tapi...dikulum. Seperti ini."
Rocío menggerak-gerakkan lidah di balik pipinya. Mungkin aku akan tertawa atas lawakan itu dan mengulum kuenya dengan senang hati andai yang memberikannya adalah teman-teman yang kusuka.
Namun aku benci Matthias dan bajingan-bajingan kecilnya.
Ketika Rocío mendekat-dekatkan kue itu ke mulutku sambil menyuruhku menjilatinya, kesabaranku runtuh, kutampar dia. Dia terkejut dan marah. Dia pasti tak menduga gadis kecil yang dulu sering mereka ganggu kini berani melakukan sesuatu.
Namun Matthias lebih marah lagi. Dia membentakku dengan kasar. "Pantas saja kau tak punya teman, kau orang yang tak bisa diajak bercanda. Dasar norak kau."
"Kalian lebih norak."
"Reaksimu berlebihan. Kau tak perlu sampai menampar seseorang hanya karena tak suka. Teman-temanku hanya ingin merayakan ulang tahunmu untuk menghiburmu."
"Kau pikir aku terhibur?"
"Persetan. Cepat minta maaf pada Rocío."
Aku menatap Rocío tanpa emosi. Dia jelas sedang menunggu aku minta maaf. Namun alih-alih permintaan maaf, kulayangkan sebuah tamparan lagi. Tetapi kali ini menggunakan kue itu.
"Maaf karena tadi aku tak menamparmu dengan benar. Dan sekarang, baru lah aku terhibur." kataku.
Muka Rocío yang hampir semuanya belepotan krim coklat semakin memerah menahan malu ketika teman mereka yang lain menahan tawa. Matthias pun akhirnya mengajak mereka semua meninggalkanku saat Rocío terlihat mulai hilang kendali. Satu persatu bajingan kecil itu pun keluar dari kelab.