Sint-Agatha Boxing Club, Rue de Las
Tempat itu adalah sebuah gedung kosong yang telah lama terbengkalai. Dengan papan nama Sint-Agatha Boxing Club seadanya—tempat dimana semua orang boleh beradu tinju. Tak perlu mendaftarkan diri, siapapun diizinkan melawan siapa saja di arena. Semua yang menyukai hiburan semacam itu berkumpul sambil berteriak memberi dukungan pada jagoan mereka—yang mungkin tak mereka kenal sama sekali.
Para penonton berkumpul dalam bentuk lingkaran, berseru, atau mengumpat. Tak jauh dari situ, ada area lain yang dibatasi oleh dinding jeruji. Biasanya penonton disana berasal dari kalangan atas. Orang kaya, pengusaha, politikus.
"Matthias dan kapalnya akan tiba hari kamis." kata August pada Kiev yang sedang menonton Romeo Salo melawan Farabi Rix di arena.
"Kau yang urus, August."
"Tidak mungkin."
"Aku sudah minta istirahat sebentar. Beri aku waktu sejenak."
"Jadi kau tak tertarik lagi dengan tujuan hidupmu?"
"Kau lihat sendiri apa yang terjadi saat aku terlalu fokus pada semua ini. Seorang gadis mati."
"Apa ada bedanya? Tiga bulan bebas tugas, fokus pada Kashi seorang, apa bedanya? Tetap saja seorang gadis mati lagi, di rumahmu, di bawah atap yang sama denganmu."
Kiev menghisap rokoknya dalam-dalam. Pandangannya tajam, namun ia tetap tampak begitu tenang menanggapi kenyataan menohok itu. "Sulit untuk fokus pada dua hal sekaligus. Tapi akan kuatasi semua itu."
"Kurasa Adriano telah memberitahumu tentang pertemuannya dengan Mario Derall. Polisi itu mendekati dan menawarkan bantuan untuk membekuk Matthias. Tapi kentara sekali, dia mencurigaimu. Aku yakin kematian Dahlia tak akan luput darinya—bahkan mungkin dia sudah tahu cerita yang sebenarnya, yang terjadi pada Amelia Cavalo dan saudara laki-lakinya." August menoleh pada sepupunya itu. Namun ketika masih tak ada respon, ia kembali menatap lurus ke depan sambil menghembuskan asap rokoknya. "Berhati-hatilah."
Lalu suara teriakan kemenangan dari para pendukung Romeo Salo memenuhi seisi gedung. Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya ke udara dengan sombong. Dia meludah dua kali ke tanah ketika Farabi Rix yang terkapar sedang diseret keluar dari arena. Romeo berseru dengan lantang, menantang siapa saja yang ada disana untuk melawannya—seolah ia tak terkalahkan.
Membuang rokoknya, Kiev membuka kancing kemejanya satu persatu sambil berjalan menuruni tangga.
Dada dan otot perutnya yang kencang mengkilap diterpa cahaya dari lampu sorot. Tato-tato kecil di tulang selangkanya pun seakan tak ingin luput dari bidikan. Ikat pinggang yang melingkar di pinggangnya seakan terpahat kuat di atas celana hitam yang membungkus kaki jenjangnya. Teriakan para gadis hanya angin lalu yang hanya lewat di telinganya. Matanya tertuju pada mata hitam Romeo Salo. Bahkan saat salah seorang petugas datang untuk memasangkan pelindung mulut serta sarung tinju, ia tak memindahkan tatapannya.
Wasit yang berdiri di antara mereka, menyatakan pertandingan dimulai. Kiev langsung menghindar saat Romeo mengarahkan tinju ke wajahnya. Pria itu menyeringai. Seringaian yang berhasil membuat semangat Kiev untuk menjatuhkannya semakin membara. Layaknya petinju profesional, Kiev menguasai taktik bermain. Ia layangkan pukulan demi pukulan, tak memberikan celah pada sang lawan balas memukulnya.
Begitu banyak hal yang memenuhi kepalanya saat ini. Begitu sulit untuk berpikir jernih. Kegiatan ini, hanya membuat pikirannya teralihkan sejenak. Hiburan baginya melihat sang lawan mulai kewalahan.
Seruan penonton semakin menggema di udara.
Romeo tersungkur ke tanah. Sang wasit menunggu detik demi detik. Namun Romeo mengangkat tangannya—menyatakan dirinya menyerah. Maka pertandingan dinyatakan usai. Kiev menang. Romeo diseret keluar dari arena.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
RomanceLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
