Chapter 42 - inquiétude

23K 2.2K 556
                                        

31/08/2024

Cek ombak dulu, masih rame ga yg nungguin cerita ini?

In the end of august bgt ya aku update nya. Btw sebenarnya selama ini aku ttp nulis, tp gak berani publish dulu karna takut gantung pembaca kalo semisal tiba-tiba ada halangan yg gak memungkinkan aku utk nulis. Skrg cerita ini udah aku tulis sampai tamat, akhirnya! Lega bgt! Gak bs diungkapkan lewat kata-kata deh pokoknya :')

Oh ya, kalau udah lupa sama alurnya, bs baca ulang tipis-tipis dr chapter awal. Tp kalau mager gpp lanjut aja ntar bakal nyambung sendiri kok.

Mau minta vote dan comment yg banyak tp maklum sih pasti udah pada kabur karena ditinggal kelamaan. Maap maap, khusus buat yg masih setia di lapak ini, boleh dong minta vote dan comment yg banyak ehe!

***

Dahlia berjalan menghampiri Kiev yang baru saja mengeluarkan bungkusan roti dari dalam kabinet dapur sambil menyeret koper di belakangnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dahlia berjalan menghampiri Kiev yang baru saja mengeluarkan bungkusan roti dari dalam kabinet dapur sambil menyeret koper di belakangnya. Ia berhenti saat Kiev berbalik untuk meletakkan piring, roti dan selai di atas meja makan.

"Aku harus kembali ke Amerika pagi ini." katanya memberitahu.

Kiev mengambil sepotong roti dan mengolesi selai di atasnya. "Kau bilang padaku masih ada beberapa hari lagi disini."

"Ya, tapi aku mendapat telepon bahwa besok pagi aku harus menjumpai dosenku."

"Kalau begitu sarapan lah dulu sebelum berangkat. Aku membuat roti selai—"

"Terima kasih, tapi aku takut ketinggalan pesawat, tempat ini lumayan jauh dari bandara dan penerbanganku di jam delapan. Aku bisa sarapan di perjalanan."

Masih sambil mengolesi rotinya, Kiev tak mengucapkan apa-apa untuk beberapa saat. Dua detik setelah menuangkan susu ke dalam gelas, Kiev pun menatap Dahlia sambil mengusap tangannya dengan sapu tangan dan berkata. "Kau benar. Kalau begitu biar aku antar ke depan."

Dahlia terdiam dan berusaha kuat menahan diri untuk tak memperlihatkan gelisah diraut wajahnya. Ia mengangguk, tak berani memandangi saat Kiev berjalan mengitari meja dan kini melangkah bersama di sampingnya menuju pintu keluar.

"Kau baik-baik saja, Dahlia?" tanya Kiev.

Dahlia mengangguk sekali lagi dan memaksakan senyumnya. "Ya, tentu. Aku baik-baik saja."

"Kau yakin?"

"Ya, tentu. Aku hanya takut terlambat saja." jawab Dahlia. Begitu tiba di ambang pintu, mereka berhenti dan saling berhadapan. "Baiklah, aku pamit."

"Akan kusuruh supirku untuk mengantarmu ke bandara."

"Tak perlu, aku sudah memesan taksi," kata Dahlia yang baru saja membuka pintu cepat-cepat. "Sampai jumpa lagi."

CLIMAXTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang