Leonelle #3
Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
Double update! Tp bagi yg blm baca chapter sebelumnya, baca dulu ya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kashi tahu ia telah menikam hati Kiev dengan ucapannya. Namun nyatanya, dirinya lah yang kesakitan.
Semenjak malam itu, Kiev tak pernah menghubunginya lagi. Dia juga tak pernah membalas pesan atau menjawab teleponnya. Setiap hari Kashi bergumul dengan perasaan gelisah, bingung, tak menentu. Ia tidur dengan mimpi buruk yang sama setiap malamnya lalu terbangun dengan butir-butir keringat di dahinya. Mimpi tentang ruang bawah tanah tempat Matthias pernah mengurungnya. Mimpi tentang dirinya yang masih remaja, polos dan bodoh. Dalam mimpi itu ia seperti seekor burung kecil dalam cengkraman sekelompok laki-laki yang mempermainkannya. Suara tawa, teriakan, dan tangisan bercampur, seperti kaset rusak. Wajah-wajah menjijikkan muncul silih berganti saat ia terpejam.
Ini sudah hari ketiga.
Sudah tiga hari pula ia mendekam di dalam apartemennya, tak dapat berkonsentrasi melakukan apapun. Ia mencoba menulis surel kepada dokter Shu untuk meminta sarannya namun hingga sekarang tak ada balasan. Ia juga mengirim surel yang sama kepada Fernando, tetap tak ada balasan. Lalu ia melanjutkan tulisan fiksinya namun matanya hanya menerawang ke layar laptop sementara benaknya memikirkan beberapa hari belakangan yang dihabiskan bersama Kiev.
Dan kini membayangkan harus kehilangan semua itu membuatnya mual.
Kashi bangkit dari tempat tidur setelah beberapa saat, mondar-mandir memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ketakutan, kegelisahan, kemarahan, emosinya bercampur membentuk sebilah pisau yang terus menyayat kewarasannya. Akhirnya ia meraih ponselnya lagi, dan mengetik pesan kepada Kiev. Namun ia hapus lagi pesan itu sebelum sempat menekan tombol kirim. Lebih baik langsung menghubunginya saja. Dan ia menunggu nada dering sambil duduk di tepi tempat tidur.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan—
Hanya sepersekian detik, ponsel itu membentur lantai vas bunga di nakas hingga pecah. Tak puas sampai disitu, Kashi juga membanting laptopnya yang terbuka di atas kasur ke lantai.
Lalu bunyi surel masuk membuat matanya kembali menoleh pada laptop tersebut.
From : ladyboy@gmail.com Hei, ini aku Matthias. Apa kabarmu? Kamis ini aku ada di Brussels. Aku sudah coba meneleponmu namun nomormu tak aktif. Oke... hanya itu saja. Jika kau punya waktu, ayo bertemu.
Itu adalah email dari orang yang tak diharapkannya sama sekali. Namun Kashi tetap membalas.
From : ka.ssshi@gmail.com Kamis besok? Ada perlu apa kau ke Brussels?
From : ladyboy@gmail.com Urusan bisnis. Tapi aku tak akan lama, setelah itu harus terbang ke Ibiza. Seperti yang kau tahu, aku sudah jadi orang sibuk sekarang.