Helai demi helai rambut ikalnya jatuh ke lantai.
Matanya menatap pantulan wajah di cermin. Suara gunting yang tajam terdengar seperti tikus yang sedang mengerat kain di balik telinganya. Sesekali ujung gunting itu bersentuhan dengan kulit lehernya.
Satu untaian rambut jatuh lagi.
Seumur-umur Kashi tak pernah berpikir untuk memangkas rambut panjangnya karena saat-saat Kiev menyisir, mengucir dan mengepang rambutnya di masa lalu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang disukainya.
"Apa kau akan merindukan rambutku?" tanya Kashi.
"Your hair will grow again later."
"Mungkin aku harus menyamar jadi laki-laki seumur hidupku."
"Kau tak perlu menyamar di tempat baru kita."
Satu untaian terakhir jatuh ke lantai. Kini rambut Kashi sepenuhnya pendek.
"Apa kau menyukai rambut barumu, Nona Kashi?" tanya Kiev dengan senyum tipis dibibirnya. Tatapannya bertemu dengan dua bola mata Kashi di dalam cermin.
"Harusnya itu pertanyaanku. Apa kau suka?"
Kedua lengan Kiev bergerak mengalungi tubuh Kashi dari belakang lalu ia memiringkan kepalanya ke samping. "Tak ada satu pun gaya rambut yang dapat mengubah kecantikanmu. You are still too beautiful for me."
"Selain tukang pijat yang baik, kau juga tukang pangkas yang handal."
Suara rendah dari tawa Kiev membuat Kashi tersenyum.
"Ceritakan padaku seperti apa tempat yang akan kita datangi?" tanya Kashi.
"Ada sebuah pemukiman di atas bukit Cerro de Las Tres Cruses, Cali, Colombia," jawab Kiev. "Saat masih kecil dulu, ayah mengasingkanku dan Kenya bersama Paman Sebastian di tempat itu. Tak ada yang dapat melacak keberadaan kami. Tak ada yang mengenal kami. Tak ada yang tahu bahwa kami adalah anak-anak Juan Leonelle. Bagi dunia luar, kami seolah telah mati."
Kashi masih mendengarkan sembari merasakan dekapan yang lebih erat dan hembusan nafas yang membelai kulit lehernya.
"Tempat itu akan menjadi dunia baru kita," ujar Kiev pelan. "Tak ada Manuel. Tak ada Harsh. Tak ada Kiev," Ia berbisik dengan suara berat yang khas—suara yang selalu berhasil menyuntikkan rasa tenang ke dalam jiwa Kashi. "Tak ada Kashi."
Kedua pasang manik mata mereka kini saling menjelajahi wajah satu sama lain di cermin.
"Hanya ada kita berdua dan Lily Rose."
Namun Kashi masih diam.
"You can do whatever you want there." sambung Kiev.
Betapa indah dunia yang dia tawarkan. Tetapi Kashi terlanjur meyakini bahwa dunia seperti itu hanya ada di dalam dongeng.
"Aku membelikan alat melukis," kata Kashi kemudian. "Maukah kau melukiskan dunia baru kita di atas kanvas?"
Saat Kiev duduk di depan kanvas dengan kuas di tangannya, Kashi berbaring di sebelahnya. Memperhatikan jemari pria itu bergerak membawa warna-warna di atas hamparan kertas putih. Dia mulai tampak begitu serius disana, walau sesekali menghisap rokoknya. Kashi tak pernah tertarik pada lukisan-lukisan Kiev. Ia bahkan sering kali jengkel saat Kiev larut di dalam imajinasinya, seolah dia sedang berada di dunia lain. Dan Kiev tahu itu. Oleh karenanya, laki-laki itu sempat mengerutkan dahi seolah bertanya-tanya apa gerangan Kashi meminta dirinya melukis.
Namun dia tetap melakukannya.
"Kau percaya kalau dia akan membawamu ke dunia tanpa aku di dalamnya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
RomanceLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
