Leonelle #3
Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Present day.
"Tsavo disembunyikan di dalam kotak susu bubuk balita, bukan lansia. Nomor kontainernya AS089. Matthias akan naik pesawat satu hari sebelum kapal itu tiba. Seperti biasa mereka akan bongkar muat di malam hari namun yang berbeda adalah, mereka tak membawa muatan menggunakan truk barang. Melainkan dengan taksi-taksi. Ada sekitar sepuluh taksi dengan rute yang berbeda. Berpencar-pencar tapi akan berkumpul pada satu titik akhir yang sama. Di gudang Fais de Lad."
"Jadi, Rashe akan menunggu di titik ini."
"Enric, August dan aku di titik akhir." kata Adriano sembari menunjukkan satu titik pada peta yang terbentang di atas meja. "Disini kita sergap semua taksi itu."
Kiev memperhatikan dengan seksama, mencurahkan konsentrasi penuh. Selama tiga hari belakangan, ia menyibukkan diri, mengalihkan pikirannya dengan mempelajari peta rute yang akan digunakan oleh Matthias untuk mendistribusikan Tsavo ke Brussels.
"Bukan disitu," ujar Enric. "Saint-Albert punya empat persimpangan dengan jarak yang berjauhan. Taksi-taksi itu tak akan tiba bersamaan disana. Kalau mau menyergap mereka sekaligus, kita harus mengulur waktu taksi-taksi yang berjauhan agar mereka bisa tiba bersamaan."
"Caranya?"
"Razia palsu," jawab Kenya. "Kita tempatkan dua orang berseragam polisi di setiap persimpangan."
"Mereka juga pasti punya orang di setiap persimpangan." jawab August.
"Kita punya cukup senjata jika memang perlu terjadi baku tembak." sahut Dominico.
"Tidak, itu tak semudah yang dibayangkan." kata Rashe.
"Jadi, apa saranmu, Rashe?" tanya Adriano sementara Kiev masih diam mendengarkan dan berpikir keras.
"Aku tahu mungkin kalian tak akan suka ide ini tapi kurasa kita harus melibatkan kepolisian," jawab Rashe. "Bukankah Adriano punya kenalan yang juga berminat menangkap Matthias Patlers?"
"Mario Derall?"
"Ya. Mungkin dia mau ikut bekerjasama."
"Aku setuju."
"Tapi melibatkan kepolisian itu akan merepotkan."
"Mungkin kita punya senjata, namun kita sudah pasti kekurangan orang," kata Rashe lalu menatap Kiev. "Sejak kau pergi tiga bulan yang lalu, kelompok kita mulai goyah, beberapa anggota keluar. Mau tak mau kita butuh bantuan dari luar jika ingin ini berhasil."
"Jika polisi terlibat, itu hanya akan jadi operasi mereka. Mereka tak butuh kita. Mereka akan bawa Tsavo untuk disita, lalu memusnahkan sebagian dan sebagian lagi untuk diselundupkan oleh oknum-oknum di dalamnya," kata Kiev. "Kita harus memastikan tiga ratus kilogram narkoba itu hanya akan musnah di tangan kita."
Mereka terdiam, berpikir lagi.
"Mario Derall menginginkan Matthias Patlers. Dia bilang tak peduli jika semua narkoba itu berada di tangan kita, kan?" tanya Kenya pada Adriano. "Beritahu saja mobil dan hotel yang akan digunakan Matthias untuk bermalam di Brussels. Aku yakin dia tak mendapatkan itu dari informannya sama seperti saat mereka memberinya informasi palsu tentang nomor kontainer. Dengan syarat, dia harus berikan kita orangnya secara diam-diam. Suruh dia tempatkan beberapa polisi untuk berpatroli di sekitar Saint-Albert. Jika memang harus terjadi baku tembak, setidaknya kita punya cukup orang."