Chapter 8 - haute allure

70.5K 4.4K 269
                                        

Pesawat telah mengudara di atas langit Brussels.

Semua yang ada di bawah sana perlahan-lahan mulai mengecil hingga akhirnya kepulan awan cerah pun menenggelamkan mereka.

Tak jauh berbeda dari rumah megahnya, pesawat ini juga memiliki desain interior yang di dominasi oleh warna hitam. Lantainya terbuat dari marmer mengkilap yang jika terkena cahaya lampu akan membiaskan bulir-bulir seperti kristal. Lalu kursi-kursinya pun dilapisi kulit dengan kualitas terbaik berwarna abu-abu gelap. Di sudut sebelah kiri ada sebuah mini bar dengan dereten botol-botol mahal. Seorang pramusaji dibaliknya terlihat sibuk menyiapkan minuman yang tak lama kemudian berjalan membawa nampan untuk disuguhkan kepada mereka. Kashi menerima segelas lalu tersenyum sebagai ucapan terima kasih.

Setelah itu, Kashi memperhatikan Kiev yang sedang menoleh keluar kaca pesawat. Ia duduk bersandar dengan kaki bersilang tepat di kursi di depannya. Lututnya nyaris menyentuh lutut Kashi.

"Apa yang akan kalian lakukan di Paris?"

Kiev menoleh. "Menghadiri pesta pernikahan salah satu kolegaku."

"Bagaimana denganku? Aku tak harus hadir di pesta itu, kan?"

"Aku baru saja mengumumkan pada mereka berdua kalau kau kekasihku, Kashi. Tentu kau akan mendampingiku di pesta itu dengan gaun yang cantik."

"Kau juga bilang aku hamil, katakan saja aku tiba-tiba mual berat dan tak bisa hadir ke pesta."

Kiev menurunkan kakinya yang bersilang lalu mencondongkan tubuhnya sedikit sehingga lututnya menekan lutut Kashi lebih kuat kini. "Lebih baik selama kita di Paris, kita bersikap seperti sepasang kekasih."

Kashi menggeleng tak habis pikir. "Aku tak punya persiapan untuk semua sandiwara ini."

"Aku juga tak punya persiapan saat kau mengejarku kesini."

"Seharusnya kau tak menyebutku kekasihmu. Kenapa tidak teman, saudara atau siapapun."

"Sudah kutinggalkan semuanya hanya untukmu. Sudah kulupakan semua masa laluku. Kejadian itu sudah lama sekali dan sekarang tak ada artinya apa-apa lagi bagiku. Apa pun yang terjadi saat itu, aku berjanji tak akan berpengaruh sama sekali pada hubungan kita." kata Kiev. "Aku hanya mendengar kalimat-kalimat seperti itu diucapkan oleh seorang kekasih. Bukan teman ataupun saudara."

"Kau pasti paham perkataanku tak ditujukan untuk hal-hal romantis. Hubungan yang kumaksud adalah antara dokter dan pasien, jika kau salah mengartikannya."

"Aku paham," jawab Kiev. "Tapi apakah mereka paham?"

"Sepertinya setan pun akan kalah jika berdebat denganmu." gumam Kashi— tak bermaksud untuk memperdengarkannya pada Kiev. Lalu ia kembali meneguk minumannya sambil memalingkan wajah ke jendela, namun setelah beberapa saat ia sadar Kiev masih memandanginya. "Kenapa masih memandangiku?"

"Tidak boleh kah aku memandangi kekasihku?"

"Aku bukan kekasihmu."

"Selama di Paris, kau kekasihku. Anggap saja sekarang aku sedang belajar."

"Kita belum sampai di Paris." balas Kashi. Lalu ia menarik lengan Kiev dan melihat arlojinya. "Masih satu jam dua puluh dua menit lagi."

Kiev kembali menyandarkan punggungnya sambil mengetuk-ngetuk jemarinya di lengan kursi. "Sepertinya setan pun akan kalah jika berdebat denganmu, Kashi."

Selama itu, tak ada satu pun yang kembali bicara. Meskipun Kashi dapat melihat sudut bibir Kiev yang sedang tersenyum, tapi ia tak mau meresponnya lagi. Ia lebih baik menikmati awan-awan cerah yang bergerak di luar sana.

CLIMAXTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang