Harsh belum juga kembali keesokan paginya, atau esoknya lagi, atau esoknya lagi.
Seminggu sudah berlalu. Kashi berada di rumah yang letaknya begitu jauh dari keramaian, bahkan mereka butuh lebih dari tiga puluh menit berkendara dengan mobil untuk sampai di kota. Sementara sepanjang jalan menuju kesana dipenuhi pepohonan yang lebat dan sepi. Kashi tak tahu apa lagi yang harus dilakukan seorang diri selain menyibukkan diri pada sesuatu yang bukan pekerjaannya. Ia menata rumah ini—hampir seluruhnya sekarang. Ruang tamu, telah diisi dengan satu set sofa, lampu mewah dan vas-vas bunga. Dapur kini memiliki kabinet dengan nuansa warna putih gading, kompor listrik, pemanggang dan segala macamnya. Ia juga membeli TV berukuran 60 inch untuk diletakkan di ruang TV. Setelahnya, kamar-kamar lantai dua, bahkan halaman belakang pun telah terisi dengan perabotan yang diperlukan.
Ketika selesai—seolah semua itu sebuah pencapaian besar—Kashi dan para pelayan mengadakan pesta. Mereka minum-minum sampai mabuk, berdansa dan bernyanyi. Setiap pagi ia bangun lebih awal untuk lari pagi. Dan sepulangnya ia habiskan waktunya duduk di depan TV menonton film. Sesekali ia akan mengajak Helena untuk pergi ke kota jika sudah terlalu bosan di rumah. Sore hari ia sering berselonjoran di tepi kolam sambil menikmati hidangan hangat, lalu jika tak begitu dingin, ia akan berenang.
"Apa kau bisa menghubunginya, Blaise?" tanya Kashi suatu hari.
"Aku hanya seorang supir, Nona."
"Kau tak bisa hubungi Timothi juga? Setidaknya tanyakan padanya atau siapapun."
"Saat seperti ini, bukan kita yang menghubungi mereka namun mereka yang akan menghubungi kita. Mereka yang paling paham seperti apa situasi diluar sana. Kau harus bersabar."
"Apa maksudmu mereka yang paling paham situasi di luar sana? Apa yang terjadi?"
Namun Blaise tak menjawab.
Hari ini tepat tiga minggu lima hari semenjak Harsh menghilang. Dan masih saja tak ada yang menghubunginya.
"Apalagi yang bisa kita lakukan setelah ini, Helena?" tanya Kashi sambil menari bersama kerumunan turis lokal di pasar seni yang sedang mereka kunjungi.
"Nikmatilah musiknya, Nona Kashi. Ini salah satu lagu favoritku. Las caras lindas... de me raza prieta... tienen de llanto," Helena bernyanyi sembari menggoyangkan pinggulnya. "Kau tahu lagu ini?"
"Las caras lindas de mi gente negra... mucha melodía, te digo
tienen belleza y también... tienen poesía de la bien linda."
"Wah kau hafal!"
Helena dan Kashi tertawa bersama.
"Kita bisa pergi ke tempat lain kalau kau mau." kata Helena kemudian.
"Kemana? Kita sudah menjelajahi kota ini."
"Kau benar," desah Helena. "Kota ini kecil dan kita hanya butuh dua hari untuk menjelajahi seisinya. Ditambah, tak ada yang menarik, tak ada pria-pria tampan yang cocok untuk di ajak bersenang-senang. Aku sudah lama tak bercinta. Terakhir kali aku bercinta dengan Blaise."
"Kau serius?" Kashi tertawa tak percaya.
"Dia seksi, kan?"
"Aku pikir dia sudah beristri."
"Memang, namun hubungan mereka tak baik. Dan kami hanya sebatas teman tidur. Kau lihat sendiri, kan, seperti apa bekerja pada Tuan Kiev. Dia bisa pergi sesuka hati, menghilang seperti ini, sementara kita terkurung disini tanpa kepastian. Apa kau tak pernah berpikir untuk kembali ke Seattle?"
"Hidupku disana juga membosankan."
"Namun setidaknya kau tak akan mati kebosanan disana."
"Kau sendiri, pernah berpikir untuk kembali ke kota asalmu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
RomantizmLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
