Bunyi pintu yang tertutup meninggalkan keheningan yang menyesakkan dada.
Kashi seperti baru saja terjatuh ke dalam lubang hitam tempat hatinya pernah terpuruk dulu. Setelah susah payah bangkit, rasa sakit yang manis ini muncul untuk menenggelamkannya kembali. Suka dan duka yang digoreskan oleh Harsh masih terasa. Jika soal memaafkan, ia sudah memaafkan, tetapi melupakan, itu tak akan pernah. Kini hanya ada perasaan rindu yang memenuhi relung hatinya, tapi bukan kepadanya. Ia pernah mencintai keperibadian gelap Kiev dengan sepenuh hati, katakan padanya bagaimana mungkin ia tak terpikat pada keperibadian yang mau memperlakukannya dengan baik, menghormatinya sebagai orang yang akan membantunya pulih dan mau menghargainya sebagai seorang perempuan?
Saat remaja, kau memang lebih tertarik pada laki-laki berandalan. Tapi beranjak dewasa, kau akan paham bahwa seseorang yang tak tahu caranya menghargai sama sekali tak pantas mendapatkan tulusnya cintamu.
"Setelah sekian lama, akhirnya kita bertemu lagi."
Perkataan itu dilontarkan dengan suara rendah dan penuh siksaan yang pernah menjerat Kashi ke dalam kegilaan. Tak ada yang berubah, masih sama memabukkannya seperti waktu itu. Betapa uniknya dunia ini, bahkan dengan wujud yang sama, seseorang bisa memiliki dua karakter yang sangat berbeda. Bahkan dengan bibir yang sama, setiap kata yang terucap seperti berasal dari suara yang berbeda.
Setelah sama-sama terdiam cukup lama, akhirnya pria itu bicara.
"Apa kabarmu?" tanyanya.
Namun Kashi belum mampu menjawab.
"Tak kusangka kita akan bertemu disini. Namun aku sangat senang."
Kashi menjatuhkan pandangannya pada jemari yang masih membelai wajahnya dan kini turun perlahan ke lehernya.
"Tahu kah kau, seberapa besar rindu ini telah menyiksaku, Kashi-ku?"
Tangan Harsh berhenti di lekukan pinggang Kashi, lalu tanpa permisi menyusup ke dalam bajunya pelan-pelan. Jejak-jejak sentuhan itu meninggalkan rasa sejuk dan panas diwaktu yang sama hingga jantungnya berdentum seiring dengan nafasnya yang tertahan.
"Pandangilah aku sejenak," kata Harsh. Lalu ketika kedua pasang bola mata mereka menyatu, ia bertanya. "Apakah kau tidak merindukanku?"
Bola mata Harsh yang sayu dan lelah membuat hati kecil Kashi tersentuh, namun ia tak punya apapun yang bisa dikatakan sehingga memilih untuk diam.
"Ataukah kau sudah melupakanku?"
Kashi memalingkan wajah dan merasakan dadanya seperti baru saja dipenuhi oleh satu ton batu yang berat. Bagaimana mungkin ia bisa melupakannya? Tak ada satu pun yang terlupa. Dan itulah hal paling menyiksa yang pernah hadir dalam hidupnya.
"Kau sudah berdiam diri cukup lama. Jawablah salah satu pertanyaanku."
Namun Kashi masih saja diam.
"Baiklah." Kashi dapat merasakan Harsh tersenyum kecil. "Jadi kau sudah menjadi psikiater sekarang."
Kashi pernah berbagi tentang cita-citanya kepada Harsh. Berbaring setelah bercinta lalu mengatakan bahwa suatu saat ia ingin menjadi seorang desain interior dan akan menata rumah masa depan mereka. Bahkan Kashi sempat mengatakan dengan bodohnya bahwa ia ingin menghias kamar anak-anak mereka dengan nuansa warna merah muda untuk anak perempuan dan abu-abu untuk anak laki-laki.
"Apakah sudah tak memungkinkan lagi untukku melihatmu mendesain rumah kita—"
"Aku akan meminta Helena untuk membawakan sarapan yang baru. Apa ada menu yang ingin kau makan?" Kashi melirik nampan berisi sarapan yang dihamburkan ke lantai.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
RomanceLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
