Chapter 57 - our last sex

35.6K 1.7K 438
                                        

"Apa yang dikatakan Mario?"

Pertanyaan Kenya membuyarkan lamunan Kiev. Lalu ia menoleh sambil melepaskan earphone dari telinganya. "Apa kau mengatakan sesuatu?"

"Aku tanya apa yang dikatakan Mario. Aku lihat kau bicara dengannya kemarin."

Saudari kembarnya itu kini berlari sejajar dengannya menyusuri trotoar khusus orang-orang yang lari pagi. Keringat membasahi sebagian kaus yang dikenakan Kiev. Entah sudah berapa lama ia berlari, yang jelas sebelum matahari terbit.

Ia menghembuskan nafas dan menggelengkan kepalanya. "Mario tahu semuanya."

"Ya," Kenya mengangguk seolah sudah tidak terkejut lagi. "Aku kenal Mario. Dia tak akan tinggal diam. Dia gigih, pintar, sama sepertimu. Aku nyaris berpikir seandainya kau masih polisi, kau akan cocok dengan dia," Kenya menoleh sekilas pada saudara kembarnya. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"I don't know, Kenya."

"Apapun itu, ikuti kata hati dan logikamu, Kiev."

"Logikaku, akal sehatku, sudah lama hilang," sahut Kiev. "Mereka akan menempatkan Kashi di penjara khusus orang dengan gangguan jiwa jika tertangkap. Mereka akan memperlakukannya seperti binatang disana."

"Aku juga tak ingin itu terjadi. Tapi Mario tak akan berhenti. Hanya ada satu cara, Kiev. Bukit Cerro de Las Tres Cruses. Kau tahu maksudku." kata Kenya sebelum memilih jalan berbelok ke kanan.

Sementara Kiev berbelok ke kiri, menyusuri jalan setapak yang mengarah pada markasnya. Semalam ia menghabiskan waktunya disana mengurus banyak hal untuk misi. Sejenak, itu membuatnya melupakan masalah dengan Kashi meskipun kepalanya masih saja dipenuhi oleh wanita itu apalagi semenjak percakapannya dengan Mario.

"Ricardo, bagaimana kapalnya?" tanyanya dengan nafas yang sedikit terengah.

"Beres, Tuan."

"Harus selesai hari ini."

"Tentu."

Kiev mengangguk sebelum menanggalkan baju kaosnya yang basah melewati kepala.

"Tuan, ada yang ingin menemuimu."

Langkahnya yang sedang berjalan ke arah lain pun berhenti, ia menoleh. Seorang perempuan berdiri di dekat kapal kayu yang rusak, menunggunya. Bibirnya pucat, matanya tak memiliki sinar. Kiev mencampakkan kausnya sembarang lalu menghampirinya.

"Kashi."

Untuk sesaat, Kashi hanya bisa memandangi wajah pria itu. Dia baru saja lari pagi. Rambut, leher, dan otot-otot perutnya yang kencang basah oleh keringat. Dan itu mengingatkannya pada pagi-pagi yang mereka habiskan saat berolahraga bersama. Aroma tubuh yang ia sukai, tawa dan obrolan nakal mereka sebelum akhirnya berakhir menjadi sebuah percintaan liar di atas lantai. Kenangan saat Kiev melakukan push-up dengan tubuh Kashi terbaring di bawahnya langsung menyusup ke dalam benaknya. Dia akan menghitung gerakannya dengan kecupan-kecupan di bibir Kashi. 500 dollars ciuman.

Kashi membuang muka, berusaha menenangkan kecamuk di dalam rongga dadanya. Setelah beberapa detik berlalu dalam diam, ia pun berkata dengan nadanya yang dingin. "Entah apa yang mau aku katakan padamu."

Kiev masih diam.

"Aku bertemu dengan Bibi Ileana." Kashi memberitahu.

"Kapan?"

"Kemarin."

Kashi tak bisa menahan dirinya untuk tidak merasa semakin rapuh oleh cara pria itu memandanginya. Hatinya seakan remuk.

"Dia mengoceh banyak hal yang tak kusuka." sambung Kashi sambil tertawa rendah dan menggelengkan kepalanya. "Dia juga memberiku kuliah psikologi gratis."

CLIMAXTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang