"Kau tak bisa mengurungku disini." ujar Kashi tajam sementara tubuhnya terbaring di atas kasur dengan kedua tangan Harsh yang memenjaranya.
"Kenapa tidak? Sekarang buktinya kau terkurung disini."
"Aku tak punya waktu untuk permainanmu. Suruh Timothi buka pintunya sekarang."
"Tidak."
"Apa kau pikir dengan begini kau bisa meniduriku?"
"Apa menurutmu aku mengurungmu karena ingin menidurimu?"
Kashi memilih untuk tak merespon pertanyaan tersebut, berusaha untuk tetap tenang walau bola matanya menusuk jauh lebih tajam ke dalam tatapan pria itu.
"Kalau aku mau, aku bisa saja." sambung Harsh.
Jawaban tersebut membuat kening Kashi berkerut tipis. Tanpa berkata apa-apa, nafasnya kembali tertahan saat wajah Harsh didekatkan ke wajahnya hingga kini deru nafas panas laki-laki itu terasa membakar kulit pipi dan sekujur tubuhnya.
"Aku bisa melakukan apa saja. Aku bahkan bisa keluar dari ruangan ini hanya dengan satu panggilan telepon. Dan aku bisa saja menidurimu semauku. Tapi aku tak akan meniduri perempuan yang tak mau ditiduri. Aku tak pernah memaksa. Aku memang seorang penjahat dimatamu tapi aku bukan pemerkosa. Jika hanya ingin memenuhi kebutuhan seksual, bisa kulakukan dengan para PSK. Aku punya uang yang tak terbatas untuk membayar seribu pelacur sekalipun. Denganmu, aku ingin bercinta. Sama seperti saat kita sama-sama mabuk kepayang dan menginginkan satu sama lain. Bukan seperti sekarang ini."
Kashi masih diam namun detak jantungnya terus saja berpacu cepat.
"Aku tak akan pernah menidurimu sebelum kau menginginkanku lagi." kata Harsh yang setelah beberapa detik kemudian, melepaskan Kashi.
"Apa mau mu?"
"Bercakap-cakaplah denganku. Ceritakan apa saja yang telah kulewati saat aku tak bersamamu. Ceritakan seperti apa hari-harimu tanpaku. Aku ingin mendengarnya."
"Akan ada saatnya kita bicara, itu memang sudah menjadi tugasku sebagai seorang psikiater."
"Aku tak akan menunggu saat yang kau maksud itu," tutur Harsh. "Aku ingin mendengarnya sekarang. Pasti banyak sekali yang telah kulewatkan. Kau bahkan punya seorang adik— atau lebih? Siapa namanya?"
Untuk beberapa detik Kashi merasakan dadanya terasa penuh. Ia ambil nafasnya sebelum bangun dari duduknya. Di hadapannya, pria itu berjalan dengan santai ke arah lemari untuk mengambil baju kaos berwarna putih yang kini sedang dipakainya.
"Bagaimana kabar Matthias? Apa kakinya berhasil diselamatkan? Atau sekarang dia terpaksa harus pakai kaki palsu?"
Kashi kembali teringat tentang hari dimana dirinya menceritakan tentang hubungannya yang tidak baik dengan Matthias dan segala perlakuan buruk yang kakak laki-lakinya itu lakukan di masa kecilnya, Harsh berkata akan memberi pelajaran pada Matthias. Malam itu— ketika dirinya sedang mengerjakan tugas sekolah— rumahnya digegerkan oleh kabar bahwa Matthias kena tembakan. Dengan perasaan tak enak karena sudah menduga ada yang tidak beres, Kashi pergi ke rumah sakit bersama ayahnya. Matthias terbaring dengan kaki di gips. Wajahnya frustasi seolah satu-satunya hal berharga dalam hidupnya telah direnggut. Dokter tak mampu menyelamatkan kaki kanannya yang pada akhirnya harus di amputasi.
Harsh telah menghancurkan masa depan Matthias sebagai seorang pemain bola lewat dua buah peluru. Dan sampai sekarang Kashi tak pernah memberitahu siapapun soal itu— bahkan pada ayahnya yang mati-matian mencari pelaku penembakan tersebut.
"Apa ada laki-laki lain selain aku dan Kiev yang kau tiduri?"
Merasa topik pembicaraan mulai tak masuk akal, Kashi menoleh ke pesawat telepon dan berjalan ke arahnya. Ia tekan nomor tertentu namun seperti dugaannya, sebelum sempat mengucapkan sesuatu, laki-laki itu sudah lebih dulu meraih benda tersebut dari telinganya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
RomanceLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
