Chapter 17 - infirmière

65.6K 4.2K 759
                                        

"Bibi Micka, maaf aku tak sempat berpamitan kemarin. Ada hal mendesak sehingga harus segera kembali ke Brussels. Bagaimana keadaan Lily Rose?"

"Aku mengerti," sahut Bibi Micka dari seberang telepon. "Dokter bilang Lily Rose boleh pulang sore ini. Keadaannya baik, hanya saja dia harus pakai penyangga sampai kakinya pulih."

"Syukurlah. Tolong kabari aku selalu tentang perkembangannya. Oh ya kemarin aku juga tidak sempat memberi makan Denver."

"Ah sudahlah, kau tak perlu mengkhawatirkan kucing nakal itu. Dia pasti bisa cari makan sendiri diluar sana," Bibi Micka tertawa pelan lalu setelah jeda beberapa detik ia pun kembali bicara. "Apa keadaan pasienmu baik-baik saja disana?"

"Ya, dia baik. Hanya saja kemarin ada sedikit masalah. Tapi sekarang dia baik-baik saja."

"Kau pasti kelelahan. Istirahatlah yang cukup, minum vitamin dan makan yang teratur. Jangan abaikan kesehatanmu. Juga jangan khawatirkan Lily Rose, dia akan baik-baik saja. Fokus saja pada pekerjaanmu, oke?"

"Baiklah. Sampaikan salamku padanya."

"Tentu."

"Sampai jumpa."

Kashi baru saja hendak meletakkan ponselnya sebelum benda itu kembali berdering.

"Halo, Kash, ini aku Fernando."

"Halo, Fernando. Tentu saja aku tahu ini kau."

Fernando tertawa kecil. "Hanya jaga-jaga kalau kau diharuskan untuk menghapus semua kontak di ponselmu."

"Tidak, pasienku tidak segila itu. Ada apa menghubungiku?"

"Beberapa hari yang lalu aku mengirimimu surel. Apa kau sudah memeriksanya?"

"Sebentar."

Kashi langsung membuka kotak masuk. Fernando mengirimkan sebuah flyer tentang seminar psikologi yang diadakan oleh universitas Libre de Bruxelles dan Action On Addiction— sebuah pusat rehabilitasi pecandu narkotika yang akan diselenggarakan besok pagi.

"Aku diundang untuk hadir. Tapi seminar itu sebenarnya diadakan untuk para mahasiswa, psikolog, dan psikiater yang tertarik untuk ikut. Kebetulan diadakan di Brussels." kata Fernando.

"Kau di Brussels sekarang?"

"Baru saja sampai hotel. Aku bersama Selena. Kebetulan dia ada syuting disini. Bagaimana? Kau tertarik? Kita bisa pergi bersama-sama besok."

"Aku ingin sekali tapi sepertinya tak memungkinkan."

"Aku mengerti."

"Tapi aku pasti bisa mentraktir kalian berdua kopi Belgia terbaik di Brussels seusai acara." ujar Kashi.

"Tentu saja! Kau harus traktir, jauh-jauh kami ke Brussels hanya untuk mengunjungimu!" seru Selena dari kejauhan.

"Kau pembual yang handal, Selena. Tak heran kenapa bisa jadi aktris terkenal."

Kashi mendengar Selena tertawa lalu Fernando pun berkata. "Baiklah, besok kita bertemu seusai seminar. Aku akan menghubungimu lagi."

"Sampai jumpa."

Kashi memutuskan sambungan telepon dan menghela nafas lalu kembali menatap layar laptopnya.

Ia baru saja selesai melanjutkan tulisannya setelah semalaman tak bisa tidur. Kala suasana hatinya sedang tak menentu, menumpahkan isi hatinya ke dalam sebuah tulisan sering kali berhasil menjernihkan kembali kecamuk di dalam kepalanya. Namun kali ini rasanya terlalu memusingkan. Ditutupnya laptop tersebut, memutuskan untuk menyudahi kegiatannya.

CLIMAXTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang