Vote dulu yuk sebelum baca hehe
***
Orang yang dimaksud oleh Harsh datang satu jam setelah kepergiannya.
Selama satu jam itu pula Kashi menghabiskan waktu memikirkan segalanya sembari duduk dengan kaki yang dinaikkan ke sofa. Ia melipat kedua tangannya di dada dan merenung ke udara kosong. Satu jam adalah waktu yang sangat singkat untuk membuat keputusan besar. Dulu ketika mendapat tawaran pekerjaan menjadi psikiater pribadi Kiev, rasanya tak sesulit ini memutuskannya. Ikut dengan Harsh untuk memulai semuanya dari awal, rasanya seperti sedang menginjakkan kaki ke hamparan beling yang tajam. Ketika kakimu terlanjur menapak disana, maka maju atau mundur pun kau sama-sama akan terluka.
Sebenarnya, Helena benar. Apa yang bisa diharapkan dari seorang penjahat seperti Harsh? Yang kini mungkin sedang dalam pelarian.
"Maaf lancang, Senora," Aristofanes—pria berkebangsaan Spanyol yang diutus oleh Harsh itu—berdeham sambil menyodorkan sapu tangannya. "Ada darah di bibirmu."
Kashi mengusap menerima sapu tangan itu dan mengusap bibirnya. "Terima kasih."
"Baiklah, tanda tangan disini, Senora."
Kashi lantas menandatangani dokumen-dokumen di atas meja. Disana ada paspor palsu, identitas palsu, dan segala dokumen palsu lainnya. Jika seandainya ia berangkat nanti, ia pasti membutuhkan semua itu agar tak terlacak oleh orang-orang yang akan membahayakan keselamatan mereka. Kashi paham, dan oleh sebab itu tak mempermasalahkannya sama sekali.
Setelah selesai, Aristofanes memeriksa sejenak lalu mengangguk. "Senor Harsh memberitahuku soal jadwal penerbangannya, kau yang tentukan sendiri ingin berangkat kapan. Jadi apa aku boleh tahu kau ingin pergi kapan, Senora? Agar aku bisa segera mengurusnya."
"Aku belum memutuskannya."
"Tetapi aku butuh kepastian segera karena dokumen-dokumen ini tak boleh dibiarkan aktif terlalu lama. Setelah selesai digunakan, aku harus langsung memusnahkannya—"
"Aku mengerti," sela Kashi. "Aku akan menghubungimu segera jika memang nanti aku ingin pergi atau tidak."
"Tapi—"
"Tapi urusan aku pergi atau tidak, itu bukan tanggung jawabmu, kan? Atau dia juga membebankan itu kepadamu?"
Aristofanes terdiam sejenak, tampak jengkel. "Kalau begitu, aku tinggalkan kartu namaku. Aku tunggu teleponmu, Senora."
Selepas mengantarkan pria itu sampai ke ambang pintu, Kashi kembali masuk dan Helena langsung mengikutinya di belakang.
"Kau akan ikut Tuan Harsh ke Marseille?" tanya Helena.
"Kau dengar sendiri, aku belum memutuskannya."
"Tapi kau tandatangani semua dokumen itu. Artinya kemungkinan besar kau akan ikut."
"Lalu kenapa?"
"Kau tak tahu," kata Helena bersungguh-sungguh. "Saat ini tak ada tempat yang aman bagi Tuan Harsh. Kau lihat sendiri, situasi sedang panas akibat kematian Francia Santos. Dalam dunia mereka, nyawa selalu harus di balas nyawa. Seharusnya dia menjauh dulu darimu kalau dia memang mencintaimu, tetapi sebaliknya dia malah mengajakmu ikut bersamanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
CLIMAX
RomanceLeonelle #3 Memiliki profesi sebagai seorang psikiater telah membuat Kashi Patlers terbiasa menghadapi pasien-pasien dengan gangguan mental. Ia ahli dan kompeten. Banyak yang berhasil sembuh usai dirawat olehnya. Namun keahlian tersebut malah menyer...
