- Extra Chapter 4 -

2.3K 78 6
                                        

Harsa gelisah, tangan nya memegang benda pipih itu dengan gemetar, ia sudah pernah mencoba sebelumnya dan hasilnya sangat mengecewakan, ia takut, sangat takut. Ia langsung berdoa penuh harap dan memasukan kedua benda itu ke dalam gelas yang sudah tertampung urinenya.
Harsa menunggu sejenak sembari memejamkan matanya, memasrahkan semuanya kepada sang pencipta. Dengan Hati hati Harsa mengambil testpack yang sudah ia di celup itu, ia langsung melihat hasilnya dengan takut takut, sampai akhirnya ia melihat 2 garis berwarna merah — Ya Harsa tau itu apa, Harsa itu anak kedokteran tidak mungkin ia tidak tau artinya apa, ia benar benar sedang mengandung.

Harsa menangis dengan lirih, hatinya hangat dan terasa penuh ia benar benar sangat bahagia, ia bahkan memegang testpack itu dengan gemetar.

"Hey sayang? kamu gapapa? masih lemes?" tanya Jaziel dari luar kamar mandi.

Harsa masih belum berhenti menangis mungkin karena hormon kehamilan yang membuat Harsa semakin sensitif.
Dengan pelan Harsa membuka pintu kamar mandi dengan air mata yang deras.

Jaziel tersenyum
"Sayang gak papa kalau negatif kita coba lagi nanti ya? perut nya masih gak enak hum?" tanya Jaziel lembut.

Harsa menggeleng dan langsung memeluk sang suami erat, menumpahkan segala rasa yang ia pendam selama ini, ini berasa mimpi bagi Harsa.

Harsa memberikan testpack itu pada Jaziel, Jaziel yang melihat itu langsung membulatkan matanya.

"S-sayang?" ujar Jaziel gemetar, kedua matanya sudah berkaca kaca karena ia sangat tau arti dari alat test kehamilan itu.

"Kakkk, Asa hamil... kita di kasih kepercayaan sama Allah hiksssss akhirnya ya kakkkk, Asa minta maaf kalau kakak nunggu lama" ujar Harsa dengan menangis semakin keras di ceruk leher sang suami.

Jaziel ikut menangis dan tak henti hentinya mencium Harsa.
"Sayang gak apa apa, kakak gak pernah paksa kamu untuk punya anak, anak itu titipan sayang, dan sekarang Allah kasih, terimakasih banyak sayangku terimakasih... Kakak seneng banget sampe kakak bingung harus apa, Alhamdulillah ya Allah..."

Harsa mengangguk
"Hikssss... Asa ga di bilang mandul lagi kan kak, huhu ada dedek di sini..."

Jaziel menggeleng sembari mengelus punggung dan rambut Harsa dengan sayang.
"Siapa yang bilang mandul hum? engga dong istri kakak selalu sempurna, punya anak ataupun tidak ga ada yang berubah sayang, jangan begitu... ayo udahan nangisnya, kasihan adek loh bunda nya sedih terus"

Harsa mengangguk
"Kakak... Asa laper tapi mau gendong boleh? Asa mau makan sambil di suapin"

Jaziel terkekeh gemas, menghapus air mata istrinya.
"Boleh cintaku, sayangku, manisku"

"hihi Asa mau di gendong terus, jangan kerja ya besok? Asa mau manjaan"

Jaziel tersenyum "Ya ampun adek manja ya sama ayahhh, gemes nya jangan nyusahin bunda nya ya adek, harus nurut." bisik Jaziel di depan perut rata istrinya.

Harsa tersenyum hangat
"Iya ayah Adek nurut" ujar Harsa dengan suara seperti anak kecil.

Jaziel dengan senang hati menggendong Harsa ke arah meja makan, ia akan menyuapi bubur yang sudah ia pesan tadi.

"Hey sayang gimana? masih mual?" tanya Umi Jaziel.

"Masih dikit katanya mi, pusing juga jadi manja nih jadinya"

Sang umi tersenyum
"Wajar, namanya lagi hamil mau nya deketan suami terus"

Harsa mengangguk
"Tau tuh, kok umi tau Asa hamil?"

"Umi sudah feeling dari Asa yang minta masakin umi ayam semur, terus tadi pas dokter bilang hamil pasti bener ga mungkin meleset."

Harsa tersenyum mengangguk
"Iya mi, Alhamdulillah, berkat doa umi juga kan?"

"Iya Alhamdulillah, makan nya ya sayang di jaga mending besok cek ke dokter biar dapet vitamin, sekalian beli susu ibu hamil nanti"

Jaziel mengangguk
"Iya besok aby juga cuti, aby ambil cuti 1 Minggu si"

"Iya bagus temenin istrinya dulu, hamil trimester awal itu ga enak loh, capek, mau nya di manja terus, dulu umi hamil kamu gitu, mau nya nempel abimu terus"

Harsa bergelayut manja di lengan sang suami.
"Kak... Asa mau beli boneka boleh ga?"

Jaziel terkekeh
"Tiba tiba banget? mau boneka apa memang hum?" tanya Jaziel sambil mengusap pipi Harsa.

"Boneka yang beruang lucu itu loh kakk, yang viral di tik tuk"

"Iya boleh.... mau beli berapa memang?"

"2 ya, boleh?"

"Boleh sayangku cantik bolehh"

Sang umi tersenyum melihat menantu nya yang sepertinya mengidam.
"Wahhhhh dede nya udah bisa nih ngerepotin ayah nya, repotin aja terus ya de... biarin ayah nya kesusahan, biar bunda nya gak sendirian susah nya" ledek sang umi sambil mengusap perut rata menantunya.

"Hihi iya betul mi, nanti aku sama dede repotin kakak" timpal Harsa.

Jaziel mengangguk senang
"Boleh Bu dokter boleh.. repotin kakak sesukamu, apapun boleh minta, kamu gak hamil aja kakak turutin terus kan?"

Harsa mengangguk
"umumu baiknya suami Asa"

"Suami mu ini sayang kamu banget loh dek Asa, kakak selalu cinta Asa karena Allah"

"Asa juga cinta kakak karena Allah"

Jaziel tersenyum mencium pucuk kepala Harsa lembut sembari mengusap usap perut rata Harsa yang terdapat buah cinta mereka.

"Alhamdulillahnya kamu udah KKN loh sayang, tinggal nyusun skripsi nyicil aja, coba kalau kamu hamil semester kemarin, duh ga bisa bayangin kakak, ga bakalan tega ngebiarin kamu capek capek, kakak kamu tinggal 2 bulanan kemarin aja kakak nyamperin kamu mulu seminggu sekali... ga kuat kakak ldr tau"

Harsa tertawa mengingat fakta itu, benar sekitar 6 bulan lalu ia melaksanakan KKN di pedesaan yang jauh untuk akses ke rumah sakit, mereka juga memiliki beberapa program kerja yang setidaknya membantu sedikit keadaan di sana.
Omongan suaminya itu benar, Harsa kebetulan dapat KKN di desa terpencil daerah Kalimantan, dan tentunya Jaziel rela bolak balik seminggu sekali untuk bertemu istrinya itu, katakan Jaziel bucin, itu memang benar adanya.

"Asa pusing kak... ga enak, ga suka begini...Asa mau tidur tapi peluk ya? puk puk juga Asa nya"

"Iya, ayu ke kamar yu..."

Harsa tidak bergeming ia hanya memeluk suaminya erat dan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher suaminya.

"maaf ya kakak, Asa rasanya lemes banget"

Jaziel mengusap Harsa dengan sayang
"Hey gapapa sayang, repotin kakak terus, kakak seneng kokkk.. lagian kamu sudah bawa adek pasti ga nyaman, bukan sekarang aja nanti pas adek mulai gede pun kamu pasti semakin ga nyaman, dan kakak maklumi itu, terimakasih banyak ya cintaku? terimakasih banyak" ujar Jaziel tulus sembari mengecup Harsa berkali kali.

Sesungguhnya Allah maha adil, ia maha mengetahui kapan waktu yang tepat untuk hambanya berbahagia, mari berprasangka baik pada sang pencipta, Allah pasti memberikan yang terbaik dari yang paling baik.


To Be Continued

H A R S A [ E N D ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang