Sebagai seorang penulis skenario yang sudah memiliki nama, Wang Yibo mendapat undangan untuk membuat satu film dan mempertemukannya dengan seorang aktor yang selama ini dia cari. Pertemuannya dengan Sean Xiao membangkitkan kisah dan luka lama. Namun...
"Sean, ke mana pun kau pergi, kehidupan ini akan selalu membayangimu. Apa kau bisa hidup dalam keterbatasan?"
Kalimat yang diucapkan Vin saat perpisahan mereka dan masa lalu Sean di Guangzhou berakhir di tahun itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Present Day.
Kembali pada malam Sean pulang dari pesta Mr. Zhang.
Semua bayangan buruk dan menyakitkan itu mengiringi Sean berjalan menembus hujan salju. Tanpa memedulikan rasa dingin, ia terus melangkah menyusuri jalanan komplek dari paving-block. Kedua tangannya masuk ke dalam saku mantel, melangkah lambat-lambat dalam renungan yang tak kunjung usai. Hal-hal yang terjadi dalam hidupnya, kesedihan dan patah hati, membuat langkahnya tak tentu arah. Ia sempat berada di atas namun jatuh dengan cara menyakitkan hingga ia mengambil jalan yang bertentangan dengan keinginan hati.
Di kala langkahnya semakin jauh, ia memilih berhenti di dekat satu lampu taman. Berdiri menghadap sungai Huangpu, menyaksikan gemerlap kota. Tidak jauh dari sisi taman, satu mobil lain berwarna hitam berhenti. Sosok di dalamnya hendak keluar namun tertahan oleh suara seseorang di dalam mobil.
“Yibo, pikirkan lagi. Bagaimana jika Mark melihat kalian?”
Itu suara peringatan dari Paul.
Mobil yang mengikuti Sean ternyata bukan hanya kendaraan mewah yang ditumpangi Mark, namun mobil yang membawa Yibo di dalamnya ternyata mengekori langkah Sean. Wang Yibo berencana untuk pulang ke hotel setelah melihat kepergian Sean. Ia khawatir dan merasa prihatin karena pemuda manis itu pergi dalam keadaan galau. Ia menduga Sean dan Mark sudah tiba di hotel, tetapi secara tidak terduga ia melihat Sean berjalan seorang diri.
“Bukankah itu Sean?” gumam Yibo yang sedang memperhatikan ke luar jendela. Ia mempertajam penglihatan di antara bola-bola putih halus yang melayang turun.
Paul yang duduk di sebelah Yibo ikut memperhatikan. Melihat sesosok tinggi ramping dalam balutan mantel hitam berjalan lambat dengan wajah tertunduk.
“Sepertinya iya,” ia membenarkan dugaan Yibo.
“Kenapa dia berjalan sendirian? Bukankah dia pergi bersama Mark? Tolong ikuti lebih dekat.” Yibo langsung meminta sopir untuk mengikuti dalam jarak dekat.
Gelengan kepala Paul tercipta tanpa suara. Ia hanya mengamati keadaan dan mencoba memahami situasi meskipun tidak benar-benar paham hubungan yang terjalin di antara mereka.
“Aku turun. Tolong berhenti di depan,” pinta Yibo ketika melihat Sean diam mematung di dekat tiang lampu taman.
“Buat apa kau turun?” Pangkal alis Paul bertaut bingung.
“Aku tidak mungkin membiarkannya sendirian,” sahut Yibo.
“Mungkin saja itu keinginan sendiri. Kita tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka. Jangan mencari masalah, Yibo,” cegah Paul.