Passion_part 43

329 40 9
                                        

\•\•\•\

Ketika tiba di depan pintu ruang rawat Mark, detektif Wang melirik sekilas pada Xie Huan yang berdiri di dekat pintu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ketika tiba di depan pintu ruang rawat Mark, detektif Wang melirik sekilas pada Xie Huan yang berdiri di dekat pintu. Dia pun memberi tanda pada Jia Er yang sama-sama berjaga di depan pintu. Setelahnya, detektif Wang membuka dan mendorong pintu putih ruangan bersama anggota lain yang menemaninya. Di dalam sana, dia melihat Sean yang sedang duduk di sisi tempat tidur menemani Mark yang masih terbaring. Dua kepala itu menoleh padanya di kala ia melangkah masuk.

“Saudara Mark, maaf jika kedatanganku sedikit mengganggu,” ia memulai dengan basa basi busuk. Melempar senyuman tipis namun tatapannya tidak seramah senyumannya.

“Ah, Detektif Wang,” gumam Mark. Dia berusaha untuk beringsut bangun namun wajahnya menampilkan kernyitan rasa sakit.

“Tidak perlu bangun jika masih belum benar-benar pulih,” kata detektif Wang. “Tapi maafkan jika aku harus mulai bertanya-tanya tentang kejadian kemarin.”

“Tidak masalah, Detektif,” sahut Mark. Dia menatap pada Sean yang perlahan bangun dari duduknya. “Apakah tidak masalah jika kekasihku menemaniku di sini?” lanjutnya.

“Tergantung apakah kehadiran saudara Sean akan mempengaruhi kondisi Anda atau tidak.”

“Aku akan lebih nyaman didampingi olehnya. Aku hanya meminta ditemani,” Mark menimpali, raut mukanya begitu memohon.

Detektif Wang melirik pada Sean, tersenyum kecil melihat perubahan warna muka Sean. Pemuda itu memalingkan muka dengan pura-pura menekan tombol pada sisi ranjang hingga bagian kepala bergerak naik.

“Baiklah,” sang detektif berkata. Dia pun menarik satu kursi ke dekat ranjang. Mulai duduk menghadap Mark sementara Sean berdiri di dekat kepala ranjang.

Anggota polisi lain menyiapkan satu kamera yang terpasang pada tripod, menampilkan Mark yang sepenuhnya memenuhi layar.

“Aku akan memulai dengan permintaan kecil. Tolong ceritakan kronologis pada saat kalian melakukan syuting sampai terjadi hal yang tidak diharapkan. Jangan ada yang ditutupi.”

Mark menggumam seiring anggukan kepalanya. Sesaat dia menoleh pada Sean dan mengulas senyum untuk membalas senyuman Sean. Diawali tarikan napas panjang, dia pun mulai menceritakan tentang persiapan syuting, dialog, dan adegan yang sudah tertulis dalam naskah film.

“Aku pun tidak menyangka akan ada pisau di sana. Ketika aku terjatuh, rasa sakitnya luar biasa bahkan aku berpikir mungkin nyawaku akan melayang saat itu,” desah Mark, mengakhiri ceritanya dengan gelengan kepala.

“Ketika Anda menabrak railing, apakah tidak terasa apa pun sampai Anda terhempas pada kasur pengaman?” tanya detektif Wang.

“Tidak. Rasa sakit dari tusukan pisau itu terasa di kala mengenai kasur pengaman,” jawab Mark.

“Pada saat syuting, bukankah dalam naskah tidak ada adegan menabrak railing balkon? Kenapa bisa terjadi hal di luar rencana?”

“Tidak, tidak. Naskahnya memang aku terjatuh menabrak railing. Dalam cerita, tokoh Mark diceritakan meninggal,” ralat Mark.

𝐏𝐀𝐒𝐒𝐈𝐎𝐍 𝓲𝓷 𝓛𝓸𝓿𝓮 [𝐄𝐧𝐝]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang