Sebagai seorang penulis skenario yang sudah memiliki nama, Wang Yibo mendapat undangan untuk membuat satu film dan mempertemukannya dengan seorang aktor yang selama ini dia cari. Pertemuannya dengan Sean Xiao membangkitkan kisah dan luka lama. Namun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sean berdiri termangu di dekat partisi kayu, melayangkan pandang pada kedai pangsit yang begitu hidup. Satu tangannya memegang cangkir berisi kopi hitam yang disediakan oleh bibi Lan. Ia tidak pernah menduga, beberapa hal yang hilang dalam hidupnya ternyata dimiliki oleh Wang Yibo. Suatu kejutan luar biasa mengetahui ternyata rumah dan kedai pangsit itu sekarang adalah milik Yibo. Dikelola dengan baik dan semakin tumbuh dengan pelayanan yang lebih baik.
Dulu ia terpaksa menjual rumah dan kedai karena kepergiannya ke Guangzhou, mengikuti Vin untuk memasuki kehidupan glamor di sana. Cukup lama rumah itu tidak ada kabar berita hingga satu tahun berikutnya, ia mendengar bahwa ada yang berminat pada rumah dan kedai peninggalan orangtua. Tanpa berpikir panjang, ia pun menyetujui harga yang ditawarkan. Saat itu ia tidak terlalu memperhatikan siapa yang membeli rumah orangtuanya.
Ternyata ...
Sean menghembuskan napas panjang, sedikit berat. Perlahan ia mendekatkan sisi cangkir ke mulut, menyesap sekilas.
“Hal apa yang membuatmu menghela napas?”
Satu suara berat mengusiknya, dan ia mendapati Yibo yang berdiri di sebelah.
“Aku sudah bilang, bagikan masalahmu padaku,” Yibo berkata seraya mengambil alih cangkir dari tangan Sean. Ia mencicipi kopi hitam itu pelan-pelan.
“Jadi saat itu, yang membeli rumahku adalah dirimu?” tanya Sean. Tatapannya kembali tertuju ke kedai yang kembali didatangi pengunjung.
Yibo ikut melempar pandangan ke arah kedai, senyumnya tersungging tipis, merasa senang karena usahanya kini berhasil.
“Saat itu, aku tidak sanggup membelinya, kau memasang harga yang lumayan tinggi,” ia mulai menjawab.
“Jadi?”
Sean menoleh, menatap si pemuda yang ikut menolehkan wajah. Ia menangkap kilau lain di mata hitamnya yang jernih.
“Aku akan mengatakan semuanya padamu,” desah Yibo. Sesaat ia menyesap lagi dari cangkir sambil melempar pandang ke jalanan depan.
“Terus terang, aku bukan seseorang yang memiliki kekayaan berlimpah. Aku berusaha dari bawah, dan mendaki perlahan-lahan. Setelah kepergianmu yang memutuskan untuk menggapai hidup baru dengan Vin, aku patah hati. Hampir satu tahun aku mengalami depresi dan putus asa hingga semuanya terbengkalai. Aku benar-benar jatuh saat itu.”
Yibo berhenti sejenak, menghela napas panjang sekian detik.
“Selama itu, Alina selalu ada untuk mendukungku. Karena itulah, ibuku ingin aku menikah dengannya. Pada awalnya aku menolak tetapi akhirnya aku menyetujui keinginan ibu karena ternyata ibu berjanji pada ibunya Alina untuk menyatukan kami. Demi hal itu, aku pun setuju dan merasa hubungan kami akan sangat menguntungkan. Aku tahu, aku terkesan jahat karena banyak memanfaatkan Alina bahkan aku meminta syarat, aku akan menikah dengannya jika membeli rumah ini atas namaku. Aku beruntung karena selama setahun itu, belum ada yang membeli rumahmu.”