Passion_part 27

379 46 4
                                        

\•\•\•\

Pagi hari setelah pertemuan di ruang bioskop yang menyatukan dua hati, Sean tidak mengetahui kepergian Mark yang tiba-tiba karena malamnya ia tidak melihat Mark kembali ke kamar mereka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi hari setelah pertemuan di ruang bioskop yang menyatukan dua hati, Sean tidak mengetahui kepergian Mark yang tiba-tiba karena malamnya ia tidak melihat Mark kembali ke kamar mereka. Kabar itu ia dapat di kala sarapan pagi diantarkan pelayan yang diikuti oleh Leon di belakangnya.

“Selamat pagi, Sean.” Senyum Leon terukir di bibir.

“Pagi,” balas Sean. Ia baru saja mengenakan setelan santai sewaktu pintu kamarnya diketuk. Ia keluar dan melirik pada Leon. “Di mana Mark? Aku tidak melihatnya semalam,” tanyanya.

“Dia pergi,” sahut Leon, sekilas mengangguk pada pelayan hotel yang mundur teratur.

Kening Sean berkerut dalam.

“Ada acara apa? Kenapa mendadak pergi? Dia bahkan tidak memberitahuku." Suaranya penuh tanya dan tuntutan karena merasa Mark tidak lagi menganggapnya.

“Dia sempat merapikan pakaian, berarti dia mengunjungimu ke kamar ini.” Helaan napas Leon mengakhiri ucapannya. Ia melihat alis Sean terangkat naik dan satu senyum sinis, samar tercipta di bibir. “Mungkin kau tertidur pulas dan dia tidak ingin mengganggumu,” lanjutnya.

Sean tidak menanggapi, dengan santai melangkah mendekati meja makan dan duduk pada salah satu kursi. Ia melihat menu sarapan dua potong sandwich, dua mangkuk nasi bertabur keju dan potongan ayam bakar dan dua cangkir berisi kopi hitam.

“Kau membawakan sarapan untuk dua orang,” komentarnya sambil mengangkat cangkir kopi, mencicipi sekilas.

“Aku hanya memesan untuk kamar ini, dan di sini ada dua kepala,” sahut Leon.

“Kalau begitu kau yang harus menghabiskan menu ini. Temani aku,” pinta Sean.

Sejenak terdiam, Leon merasa ada sesuatu yang ingin dikatakan pria manis itu. Diiringi helaan napas, ia beranjak dan kini menarik kursi di seberang Sean. Sekilas memandang pada Sean yang mulai menyuapkan sesendok nasi. Ia meraih garpu dan pisau yang terdapat pada piring sandwich. Ia mulai memotong namun kembali melirik sebelum memasukkan potongan sandwich ke dalam mulut.

“Ada yang ingin kau katakan?” tanyanya.

Bibir Sean menahan senyuman, namun ia masih terus menyuapkan beberapa sendok nasi lagi sebelum menjawab pertanyaan Leon.

“Kau sangat menyenangkan, Leon,” ujarnya, tidak langsung pada tujuan yang hendak ia ungkapkan.

“Kau mulai berbeda, sering tersenyum dibanding sebelumnya. Sepertinya kehadiran Wang Yibo memberi pengaruh yang luar biasa.”

“Jadi itu menurut pandanganmu?” Senyum Sean terkulum.

“Aku tidak bisa menebak secara tepat, tapi kebetulan Mark pergi dan syuting kalian sedang berhenti untuk beberapa hari. Kau akan menggunakan kesempatan ini untuk pergi bersamanya, hanya saja aku tidak tahu ke mana tujuan kalian,” ungkap Leon.

𝐏𝐀𝐒𝐒𝐈𝐎𝐍 𝓲𝓷 𝓛𝓸𝓿𝓮 [𝐄𝐧𝐝]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang