Sebagai seorang penulis skenario yang sudah memiliki nama, Wang Yibo mendapat undangan untuk membuat satu film dan mempertemukannya dengan seorang aktor yang selama ini dia cari. Pertemuannya dengan Sean Xiao membangkitkan kisah dan luka lama. Namun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Komplek yang nyaman itu bernama Champs Elyses, jalanannya yang cantik dihiasi pepohonan dan toko-toko serta kafe untuk bersantai. Semilir angin pagi menyapa wajah Yibo yang baru keluar dari mobil. Dia menoleh waktu pintu rumah terbuka dan memunculkan sosok Tn. Ken yang berdiri menyambutnya. Dia pun segera melangkah mendekat.
“Wang Yibo, akhirnya kau datang,” sambut Tn. Ken. Tanpa ragu menarik pemuda itu ke dalam pelukan, merangkulnya erat. “Bagaimana kabarmu?” tanyanya.
Yibo sedikit terkejut mendapat perlakuan pengusaha itu namun bersikap tenang seperti biasanya. Dia membalas rangkulan dan tersenyum tipis.
“Kabarku baik,” jawabnya singkat.
Tn. Ken melepas pelukan. Mengamati si pemuda yang tampak lesu. Keningnya berkerut sekilas.
“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menjadi sangat kurus?” tanyanya sambil mengusap pipi Yibo.
“Hanya makan lebih sedikit,” jawab Yibo.
“Aku sudah mendengarnya dari media, tapi akan lebih jelas jika kau menceritakannya padaku. Ayo, kita masuk,” ajak Tn. Ken. Kemudian berpaling pada Terry. “Simpan semua barangnya ke kamar.”
Terry mengangguk dengan patuh dan meminta yang lainnya untuk membawa semua koper milik Yibo.
“Yibo, rumah ini akan menjadi tempatmu selama di sini. Kau tinggallah dengan tenang,” Tn. Ken berkata seraya merangkul bahu Yibo, mengajaknya untuk melihat-lihat seluruh isi rumah.
“Anda menyiapkan ini untukku?” tanya Yibo.
“Hmm, aku yang mengundangmu, tentunya aku harus menjamu dengan baik. Kau tidak akan kekurangan apa pun selama di sini.”
Tn. Ken berpaling pada Paul yang sedang merapikan koper ke kamar.
“Ah, dia asistenku,” Yibo berkata mendapati tatapan Tn. Ken. “Namanya Paul. Dia hanya akan menemani selama beberapa bulan saja.”
“Tidak masalah. Jika kau butuh bantuan apa pun jangan ragu untuk mengatakannya padaku. Jam berapa sekarang?”
Tn. Ken melirik jam tangan. “Kau pasti belum sarapan. Lebih baik kita makan bersama, setelah itu kau bisa beristirahat. Kita akan berbincang serius setelah kau benar-benar fit,” lanjutnya.
“Terima kasih, Tn. Ken,” Yibo tersenyum.
Acara makan pagi berlangsung di rumah. Tn. Ken memesan dari restoran 24 jam untuk menu pagi itu dan semuanya tampak menikmati semua hidangan. Tn. Ken dan Yibo terpisah di meja khusus ruang samping, di dekat jendela yang dibiarkan terbuka hingga hembusan angin pagi menyerbu masuk. Selama menikmati makanan, Tn. Ken tak hentinya melirik pada Yibo yang berbeda jauh di kala pemuda itu menemuinya pertama kali.
“Selama di sini, kau jangan memikirkan apa pun. Serahkan semua padaku. Kau membuatku terkejut dengan penampilanmu. Kau seperti orang yang baru bangun dari sakit parah,” ia berkata di sela makannya.