Sebagai seorang penulis skenario yang sudah memiliki nama, Wang Yibo mendapat undangan untuk membuat satu film dan mempertemukannya dengan seorang aktor yang selama ini dia cari. Pertemuannya dengan Sean Xiao membangkitkan kisah dan luka lama. Namun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam itu adalah malam terakhir Yibo berada di rumah yang ia tempati bersama Alina. Setelah pagi itu ia hampir berlutut di depan Alina karena perbuatannya, Yibo memilih untuk pergi. Ia memberikan rumah besar, mobil dan kekayaannya pada Alina. Mereka saling memaafkan dan berjanji akan mengurus perceraian keduanya melalui pengacara masing-masing. Yibo merasa sangat beruntung karena Alina tidak mempersulit dirinya, bahkan gadis itu begitu berbesar hati melepaskannya. Ia tahu alasan di balik semua keputusan Alina, karena gadis itu teramat mencintainya dan ia hanya bisa minta maaf karena tidak mampu membalas perasaan Alina.
Yibo kembali ke rumah mendiang orangtuanya, berdiam diri seharian penuh tanpa melakukan kegiatan apa pun. Ia seperti tak bisa mengenali diri sendiri saat ini. Rasa sakit yang terus menggerogoti membuatnya rapuh, ibarat kayu di cuaca dingin yang terus dimakan rayap, menjadi lapuk dan hancur. Kenangan buruk terus menghantui mimpi-mimpinya, bahkan terkadang ia takut untuk tertidur. Rasa bersalah terhadap Alina pun terus mengusik meski gadis itu sudah tak mengungkit apa-apa tentang hubungan mereka. Tetapi ia merasa menjadi sosok buruk yang tidak berperasaan karena menyakiti seorang istri. Selama beberapa hari ia hanya merenungi diri sendiri di rumah yang selalu dirawat oleh kepala pelayan. Pekerjaannya terbengkalai bahkan studio miliknya sudah lama tak ia kunjungi.
Langit senja berwarna jingga menjadi fokus dari matanya yang memandangi suasana sore itu. Yibo duduk bersandar pada kursi santai di halaman samping, satu rokok menyala berada di jepitan jarinya. Benda yang biasanya tidak pernah singgah dalam hidupnya, kini menjadi teman dalam rasa sepi dan dingin yang menemaninya di rumah itu. Mata hitam yang biasanya jernih dan bersemangat kini menjadi sangat redup. Dalam bayangannya, ia terus mengingat sosok Xiao Zhan yang malam itu ia lihat bersama seorang pria. Bayangan lain tentang hubungan mereka dan apa yang mereka lakukan malam itu menjadi emosi terburuk yang ia rasakan, dan ia lampiaskan pada Alina.
Helaan napas berat mengiringi gerakannya yang memutar sisa rokok pada asbak. Selanjutnya ia menjangkau cangkir berisi kopi hitam yang disediakan oleh kepala pelayan. Sudut matanya melirik di saat ia menikmati kopi karena kemunculan seorang pria paruh baya yang selama ini menjaga rumah orangtuanya.
Paman Zhang, sosok paruh baya yang ia mintai untuk terus mengurus rumah Wang. Laki-laki itu membawa nampan yang di atasnya terdapat piring berisi kue bulan berbagai bentuk. Makanan tradisional yang selalu disiapkan keluarga di saat-saat tertentu. Melihat kue itu sekarang terhidang di depannya, mengingatkan dirinya pada orangtua yang telah tiada. Ibunya meninggal beberapa bulan setelah pernikahannya dengan Alina.
“Yibo, jangan sampai menghilangkan ketampananmu hanya karena hidup yang tidak sehat,” paman Zhang berkata sambil meletakkan nampan ke atas meja. Matanya melirik pada beberapa puntung rokok pada asbak.
“Apakah terlihat sangat jelas?” tanya Yibo. Ia mengambil sepotong kue setelah menyimpan cangkir.
“Wajahmu kusam dan lingkaran hitam di matamu sangat mengganggu. Apa karena perpisahan dengan Nn. Alina?” Paman Zhang menempati kursi di seberang Yibo.