Passion_part 49

256 35 3
                                        

\•\•\•\

Di ruang tamu kecil apartemen Liu Feng, pemuda itu tampak tertegun untuk beberapa saat. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan tentang ponsel dan hanya memandangi detektif Wang yang memandanginya penuh selidik.

“Ponsel lamaku hilang,” jawabnya kemudian.

“Hilang?” Detektif Wang memicingkan mata.

“Hmm.”

“Sejak kapan?”

“Sehari sebelum syuting,” jawab Liu Feng.

“Kau ingat ponselmu hilang di mana?” tanya detektif Wang.

“Entahlah. Tapi sepertinya sewaktu aku pergi ke toilet umum. Aku teledor meletakkannya waktu mencuci muka dan pergi begitu saja.”

“Dan kau langsung membeli ponsel baru?”

“Tidak. Aku belum sempat. Aku membelinya sebelum pergi ke gedung teater. Jadi aku belum sempat menggunakan dengan benar karena langsung disibukkan oleh pekerjaan dan berlanjut dengan insiden di sana.”

Detektif Wang masih menancapkan tatapan selidiknya. Dia merasa jawaban Liu Feng begitu lancar dan seperti terencana. Tapi dia pun tidak memiliki hak untuk mendesak lebih keras lagi karena saat ini bukanlah sesi interogasi yang biasa dilakukan. Dia pun selalu memperhatikan gerak gerik dan bahasa tubuh Liu Feng. Entah kenapa dia melihat laki-laki itu sedikit gelisah dan berkali-kali menenggak minuman.

Merasa saat ini tidak bisa mendapatkan jawaban lebih, detektif Wang memilih untuk mundur sementara waktu. Namun kecurigaan terhadap Liu Feng masih tetap ada dan dia harus mencari jalan lain untuk mengorek keterangan. Dia pun menegakkan punggung, menatap lagi beberapa saat.

“Kau yakin tidak melihat apa pun saat itu?” tanyanya penasaran.

“Detektif, aku sudah mengatakan semuanya di awal. Aku sibuk mengurus keperluan untuk syuting. Aku benar-benar tidak tahu dan tidak melihat apa pun sampai insiden itu terjadi,” sahut Liu Feng.

“Baiklah.”

Detektif Wang menghela napas.

“Jika suatu saat kau mengingat sesuatu atau berubah pikiran, aku harap kau langsung menghubungiku,” lanjutnya, kemudian bangun dari kursi.

“Aku harap kau tidak menyembunyikan apa pun atau kau akan berurusan dengan hukum. Ingat, kau bisa saja menjerumuskan seseorang yang tidak bersalah. Buatlah hidupmu tenang.”

Detektif Wang masih menyempatkan untuk berkata-kata sebelum keluar dari unit apartemen Liu Feng.

Di balik pintu yang tergesa ditutup oleh Liu Feng, dia menyandarkan punggung dan menghembuskan napas panjang. Wajahnya tampak diliputi kegelisahan.

\•\•\•\

Mark baru selesai bicara dengan seseorang melalui ponsel ketika Leon masuk ke ruangannya. Saat ini, dia sudah pulang ke rumahnya di komplek Green Court. Perumahan mewah yang terdapat di daerah Pudong, bersisian dengan sungai Huangpu dan dekat dengan pusat perbelanjaan Nanjing. Dengan alasan kondisinya yang lumpuh, dia dipulangkan ditemani seorang perawat untuk mengurus segala keperluannya. Dia pun masih harus menjalani fisioterapi setiap minggunya untuk mempercepat kesembuhan.

Di samping itu, Mark tetap menahan Sean di sisinya dengan alasan untuk memberinya semangat sembuh. Meski begitu, dia tetap membebaskan Sean untuk pergi keluar untuk memberinya kesan bahwa kekasih manis itu tidak ditahan di rumah. Namun diam-diam dia selalu meminta seseorang mengawasi semua gerak gerik Sean, bahkan mengikutinya ke mana pun pemuda itu pergi.

𝐏𝐀𝐒𝐒𝐈𝐎𝐍 𝓲𝓷 𝓛𝓸𝓿𝓮 [𝐄𝐧𝐝]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang