67. TAMAT

852 72 21
                                        

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

☁️☁️☁️

Kelima insan manusia baru saja keluar dari gedung berwarna putih secara beriringan. Angin malam langsung menyapa kelimanya usai melangkah keluar menjauhi pintu keluar yang terbuat dari kaca itu.

Salah satu diantara mereka menghela nafas lega, seolah telah lolos dari suatu bencana.

"Gila, lega banget gue," ucap seorang lelaki yang mengenakan kemeja batik berlengan panjang berwarna dasar navy.

"Lega kenapa dah?" tanya lelaki di sebelahnya yang malam ini juga mengenakan outfit batik.

"Pake nanya lo, Thar. Lega karena bisa lolos dari pertanyaan kapan nyusullah. Gue udah eneg mampus dengar pertanyaan kapan nikah."

"Mana pake ada yang nanya gandengannya mana? Si bego emang, kalo punya gandengan juga bakal gue bawa kayak lo berdua. Ya kali gue umpetin," dumelnya sebal.

"Ya, namanya juga basa-basi, To."

"Basa-basinya basi banget, Ra. Mual gue dengernya," balas Vito mendengus.

Mendengar ocehan temannya, membuat keempat insan itu terkekeh kecil. Keempat orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Gaffi, Zehra, Nathar, dan Hana.

Mereka baru saja selesai menghadiri acara pernikahan rekan bisnis Gaffi, Nathar dan Vito. Acara pernikahan malam ini digelar di sebuah gedung serbaguna yang lokasinya cukup jauh dari kota. Jadi mengharuskan mereka pergi dan pulang lebih awal.

Selama sesi acara, Vito dilanda keresahan akibat serangan pertanyaan bertubi-tubi dari para rekan bisnis yang juga hadir sebagai tamu.

Kebanyakan dari mereka berharap Vito segera menyusul, lantaran lelaki itu sama sekali tidak pernah membawa perempuan ke acara manapun.

"Makanya nyusul kalo gamau eneg," ceplos Nathar gampang.

"Lisan lo, Alvanendra! Dikira gampang, susah bege."

"Susah kalo lo doa tanpa ikhtiar," balas Nathar tak mau kalah.

Mendengar itu Vito langsung kalah telak. Bahu lelaki itu turun disertai helaan nafas panjang.

"Jujur, selama ini perihal jodoh gue emang doa doang tanpa ikhtiar. Lagian bingung mau nyari kemana."

"Dulu naksir Bulan, eh doi malah naksir Raihan. Kan gue jadi ga suka lagi," curhatnya pada semua.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 20 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cinta untuk ZehraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang