66. LAMPU HIJAU

904 70 17
                                        

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

JANGAN LUPA BERIKAN VOTE DAN KOMENTNYA YA 💚✨

☁️☁️☁️

Minggu pagi Zehra dan Gaffi lewati dengan aktivitas produktif yakni, lari pagi di taman komplek.

Sejak menikah, Zehra jadi lebih produktif, ya walau ada beberapa saat ingin bermalas-malasan. Tapi setidaknya jadi lebih produktif. Contoh kecil, dari yang tidak sering olahraga jadi sering berolahraga.

Seperti hari ini, selesai lari pagi, sorenya mereka lanjut berkebun. Kebetulan cuaca sore hari cerah dan cocok untuk berkebun, alhasil mereka memutuskan berkebun.

Pertama kali berkebun membuat Zehra kegirangan setelah melihat hasil mini kebun buatannya dan sang suami.

Bersama Gaffi, dia membuat mini kebun di halaman belakang rumah seperti rencana mereka. Dengan Gaffi yang mengerjakan pekerjaan yang berat, sementara Zehra diberikan pekerjaan ringan.

Awalnya Gaffi menyarankan agar seluruhnya dia yang mengerjakan, tapi Zehra menolak dan tetap ingin ikut berkebun. Akhirnya dia hanya mengizinkan Zehra melakukan pekerjaan ringan saja, dia tidak mau Zehra kelelahan.

Melihat mini kebun buatan mereka yang tertata rapi membuat Zehra gembira. Saking senangnya, gadis dengan kaos polos berwarna putih itu melompat girang seraya mengitari mini tersebut.

"Cantik banget kan mini kebun kita, Gaf?"

Melihat pemandangan di depannya membuat Gaffi terkekeh gemas. Dia mengangguk seraya mendekati sang istri.

"Tapi cantikan yang punya."

"Gombalan klasik itu mah, nggak mempan," balas Zehra sok santai. Padahal dalam hati sudah berbunga-bunga.

"Siapa yang gombal? Aku kan cuma bilang fakta."

"Iya deh, iya. Tapi mini kebun kita ucul banget tau. Nggak sabar deh berkebun bareng bocil kita nanti."

Lagi, Gaffi kembali dibuat terkekeh. Kali ini akibat perkataan gadis itu.

"Kamu bicara seakan anak kita bakal ikut berkebun dalam waktu dekat, Ra. Padahal kita belum program punya anak sama sekali, Sayang," ucap Gaffi lembut seraya mengelus puncak kepala Zehra.

Zehra sedikit mendungak, menatap sang suami yang kini menatapnya gemas. Mendengar ucapan Gaffi membuat ide usil muncul.

"Iya juga ya. Ya udah, kalo gitu kita buat sekarang aja gimana?"

Gaffi kontan terkejut, dia bahkan sampai mematung sesaat kala Zehra menggandeng mesra tangan kanannya.

"Ra, kamu serius? Sekarang banget nih?" tanya Gaffi mencoba menyadarkan Zehra akan tindakan yang diambil.

Bukan tidak ingin, semua lelaki yang sudah menikah juga menginginkan hal tersebut, tapi jika Zehra belum siap tentu dia akan mengurungkan keinginannya.

Bagaimana pun kenyamanan Zehra lebih utama daripada nafsu semata.

Cinta untuk ZehraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang