Alana membuka kain putih penutup meja itu dan keluar dengan tubub gemetar saat matanya menangkap suaminya terkapar dengan sebuah peluru tertancap didadanya. Dengan histeris gadis itu terduduk disamping tubuh suaminya yang kini sudah menutup matanya.
"Jack! Bangun hiks please bangun! Jack!"
Alana meraung dengan keras menatap tubuh suaminya yang kini sedang dibawa oleh beberapa orang.
Alana dibantu berdiri oleh Reynand, kalau saja Reynand tidak menopang tubuh Alana mungkin Alana sudah tak sanggup lagi berdiri. Bahkan Alana sudah dalam gendongannya. Mereka dengan cepat meninggalkan gedung yang sudah memakan banyak korban itu.
"Rey.. tolong.. bantu suamiku hiks.. bantu dia.. selamatkan dia"
"Nyonya tenang.. tuan akan segera ditangani oleh dokter. Aaron sedang melakukan penanganan pertama."
Mereka memasuki mobil yang berbeda dengan Jack. Jack dibawa oleh sebuah ambulan dan beberapa pegawainya yang kemudian mengikuti mobil ambulan Jack. Sedangkan Alana menggunakan mobil yang tadi ia pakai saat berangkat bersama Jack.
"Kenapa kita pakai mobil ini?! Aku ingin menemani suamiku! Reynand cepat ikuti ambulan itu hiks."
Alana yang duduk dibelakang menangis sesegukan dan terus memanggil suaminya. Hatinya hancur, ia tidak pernah melihat suaminya terlihat selemah itu.
"Nyonya tenang ya, tuan Jack orang yang kuat ia pasti akan selamat. Kita akan melakukan yang terbaik "
Sedangkan keadaan di ambulan terlihat Aaron berkeringat dengan sangat serius berusaha memasang peralatan ditubuh Jack. Ia memasang alat bantu pernafasan pada hidung Jack.
Untuk saat ini ia tidak bisa sembarangan langsung mengambil peluru yang masih tertancap ditubuh Jack karena peluru itu tertancap didaerah yang sangat rawan, jika ia langsung mencabutnya tanpa alat bantu lain kemungkinan darah akan semakin banyak keluar dan keadaan Jack mungkin bisa kritis.
Untungnya letak rumah sakit tak jauh dari gedung pertemuan sehingga kini mereka sudah sampai. Dengan terburu-buru Aaron dan beberapa pegawai lainnya mendorong brankar Jack. Sebelum mereka sampai, bawahan Jack sudah lebih dulu mengabari pihak rumah sakit untuk mempersiapkan ruang operasi sesuai dengan perintah Aaron.
Meskipun Aaron bukanlah dokter di rumah sakit itu namun ia sudah mendapat izin jadi seolah mereka hanya menyewa seluruh peralatan dan ruangan. Selama ini hanya dokter yang Jack percaya saja yang bisa merawatnya karena bisa saja ada musuh Jack yang menyamar dan melakukan hal yang tak diinginkan.
"Jack.." ucap Alana sendu kala saat ia sampai didepan ruangan yang membawa suaminya, pintu tertutup. Seketika lampu diatas pintu menyala menandakan operasi sedang berlangsung.
Alana terduduk lemas didepan pintu, ia bersandar pada tembok disamping pintu dan menangis. Menutupi wajahnya dengan lipatan tangannya. Ia terus memanjatkan harapan agar suaminya bisa tertolong. Seumur hidupnya selama ia mengenal Jack, tak pernah sekalipun Alana melihat Jack yang sepucat dan terlihat tak berdaya seperti itu.
"Jack kuat! Suamiku tidak lemah hiks." Alana terus bergumam untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Nyonya.."
Reynand yang sebelumnya sedang mencari tempat parkir untuk mobilnya dikejutkan dengan Alana yang tiba-tiba keluar dari mobil. Untungnya ia sedang tidak menjalankan mobil itu, jika iya Alana bisa saja terluka. Sopir pribadi Jack itu berjalan mendekati istri atasannya yang terlihat sangat menyedihkan.
"Nyonya, duduk diatas ayo." Reynand menepuk pundak Alana tanpa segan, karena ia pikir yang Alana butuhkan sekarang adalah kehadiran orang yang bisa memberinya kehangatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jack's Obsession
RomanceBagaimana jika waktu liburan yang kamu pikir akan menyenangkan justru membawamu kesebuah sangkar tanpa pintu? Dimana seseorang yang tidak pernah kamu bayangkan kini sangat terobsesi denganmu. "Apa kamu pikir aku akan dengan mudah melepasmu hanya den...
