Note :
• Setiap kata kasar dalam cerita tidak untuk dicontoh
• Setiap tindakan buruk dalam cerita ini tidak untuk dicontoh
• Bijakhlah menjadi pembaca
"Mom?" Ucap Alana dengan suara seraknya.
"Syukurlah kamu sudah sadar ana.. mimpi apa kamu sampai menangis terus menerus seperti itu?" Pertanyaan Cleora membuat jantung Alana seketika berdebar kencang.
'jadi.. tadi mimpi?' batin Alana.
.
.
"Di-dimana Jack?" Tanya Alana kemudian netranya mengitari penujuru kamar ini.
"Dia diruangan sebelah sayang."
Tanpa menunggu apapun Alana menuruni brankar dengan tergesa-gesa. Ia melepas infus ditangannya tanpa perduli kini tangannya mengeluarkan darah.
"Kamu harus istirahat nak" Cleora tampak menyusul gadis itu.
"Alana mau bertemu Jack mom.." ujar Alana dan terus berjalan ia menyingkirkan tangan Cleora yang memegang pergelangan tangannya.
Alana membuka pintu kamar yang ia yakini rawat inap Jack karena didepan pintu itu dan pintu kamarnya ada beberapa pria berbaju hitam yang berjaga.
"Jack.." ucap Alana sendu begitu matanya melihat suaminya terbaring dengan baju rumah sakit yang sama dengan apa yang ia pakai saat ini.
Alana duduk dikursi samping brankar Jack. Tangannya menggenggam dengan erat tangan yang kini terpasang jarum infus. Sedangkan Cleora yang mengerti bagaimana perasaan menantunya itu kemudian keluar dari ruangan Jack menyisakan mereka berdua.
"Sayang.. bangun."
"Hiks.. Jack.. aku merindukanmu."
Tidak mendapat sahutan apapun Alana menunduk dan terisak sembari tangannya menciumi tangan Jack dengan perasaan bersalah. Jack melakukan ini untuk menyelamatkannya. Entah hal apa yang harus Alana lakukan untuk membalas suaminya.
Alana terhenyak kala jemari yang ia genggam bergerak secara perlahan. Sebuah suara berat yang ia harapkan untuk didengar lagi kini memasuki indera pendengarannya.
Alana menutup matanya dan semakin mengeratkan genggamannya. Ia takut jika ia membuka mata ternyata itu hanya sebuah halusinasinya saja.
"Sayang.." panggilan itu membuat jantung Alana semakin berdebar. Dengan penuh harap Alana membuka matanya. Netranya bersitubruk dengan mata tajam yang sangat ia cintai.
Jack tersenyum tipis menatap istrinya. Keadaan Jack sebenarnya bisa berujung kritis apabila tidak mendapat penanganan pertama secara cepat. Aaron berusaha semaksimal mungkin untuk tidak membuat bagian rawan yang hampir terkena tembakan itu semakin tergores.
Operasinya berjalan dengan sangat lancar, selain karena para tenaga medis yang profesional tubuh Jack juga sangat kuat. Kekebalan tubuhnya benar-benar patut diacungi jempol.
"Kamu.. bangun" suara serak Alana diakhiri dengan tangisan nya yang semakin pecah.
"Don't cry ana.."
(Jangan menangis ana..)
"Hiks.. aku minta maaf sudah membuatmu terluka.. maafkan aku Jack.."
"No.. it's not your fault love. Come and hug me"
(Tidak.. ini bukan salahmu sayang. Kemari dan peluk aku)
Alana berdiri dengan ragu ia menatap bagian dada Jack yang semalam ia ingat terluka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jack's Obsession
RomanceBagaimana jika waktu liburan yang kamu pikir akan menyenangkan justru membawamu kesebuah sangkar tanpa pintu? Dimana seseorang yang tidak pernah kamu bayangkan kini sangat terobsesi denganmu. "Apa kamu pikir aku akan dengan mudah melepasmu hanya den...
