Notif masuk?
😇
Arvie menatap malas orang di depannya, Sammael, "Kamu... Ngapainsih pake ke sini segala?"
Pagi-pagi sekali Sammael mengunjungi mansion Allaver, katanya dia ingin bertemu dengan 'kakak'nya. Arvie tentu saja tau tujuan sebenarnya Sammael.
Allen sendiri memang sudah pulang sejak beberapa minggu lalu. Kondisinya perlahan membaik, dia sudah mulai bisa diajak bicara, walau Allen memang agak lambat dalam mengolah informasi.
Sammael tersenyum lebar, "Memangnya kenapa? Kan sudah kubilang aku hanya ingin bertemu kakakku? Aku ini adiknya loh, masa aku tidak boleh menemui kakakku?"
Arvie berdecih sinis, "Sejak kapan kamu jadi adiknya kakakku? Kak Allen hanya memiliki tiga adik, Aku, kak Askar, dan kak Savi."
Sammael tersenyum dan menyipitkan matanya, "Heee... Tapi, kalian sendirikan yang menyuruhku untuk mengaku-ngaku menjadi adiknya Allen. Padahal saat dia bertanya, aku sudah mengatakan kalau aku bukan adiknya loh."
Arvie menggertakkan giginya, "Kami melakukannya karena saat itu kakak terlihat sedih, saat kamu mengatakan kamu bukan adiknya."
"Begitukah? Tapikan tetap saja, Allen saat ini tetap berpikir kalau aku benar adiknya."
Wajah Arvie memerah padam, dia sudah akan mengamuk. Tapi tiba-tiba Sam menangis tersedu-sedu.
Arvie seketika menjadi bingung, "Kamu kenapa njir?"
"Hiks hiks... Padahal aku cuma mau bertemu kak Allen, masa kamu gak bolehin aku ketemu kakak. Aku jugakan adiknya."
"Adik?"
Arvie tersentak mendengar suara yang dia kenali, Arvie refleks menoleh kebelakang, Allen. Allen menghampiri mereka dengan ekspresi bingung.
Arvie langsung berdiri dari duduknya, dan menghampiri Allen, "Kakak kenapa keluar kamar? Kakak kan harus banyak istirahat."
Allen tidak menjawab pertanyaan Arvie, dia malah berjalan mendekat ke arah Sam. Allen lalu duduk di samping Sam, dia mengelus bahu Sam dengan lembut, "Adik nangis?"
Sam menoleh menatap Allen dengan tatapan sedih, "Hiks... Huhuhu kakak." Sam memeluk Allen dengan erat, dan kembali menumpahkan air matanya.
Arvie menganga melihat itu, ah... Dia mengerti. Sam sedang akting! Dia sengaja menangis begitu melihat Allen!
"Adik kenapa?" Allen mengelus punggung Sam, mata Allen sudah berkaca-kaca, dia tidak suka melihat adiknya bersedih.
"Hiks... Adik kangen kakak. Tapi kak Vie bilang, adik tidak boleh bertemu kakak... Huhuhu."
Arvie semakin menganga mendengar Sam memanggilnya 'kakak'. Hey! Arvie lebih muda dari dia!
Allen langsung menatap Arvie dengan tatapan bertanya dan tatapan sedih, "Vie?"
Arvie menggeleng ribut, dan berjalan mendekat dan duduk di karpet di bawah Allen. Arvie memeluk kaki Allen, dan menatap Allen dengan tatapan berkaca-kaca, "Dia bohong kakak. Vie tidak mungkin berlaku jahat. Kakak taukan Vie itu seperti apa?"
Arvie lalu meneteskan air matanya, "Hiks... T- tapi tidak apa-apa kalau kakak tidak percaya. Hiks... Vie memang pantas dibenci, sangat pantas. Hiks..."
Kini giliran Sam yang menganga melihat tingkah Arvie. Arvie diam-diam tersenyum mengejek ke arah Sam, kalau cuma aktingsih Arvie juga bisa.
"Huaaa huhuhu.... Sam memang seharusnya tidak bertemu kakak... Huhuhu." Sam melanjutkan kembali aktingnya.
Allen langsung kelimpungan melihat kedua adiknya sama-sama menangis. Dia harus bagaimana? Yang mana dulu yang harus ditenangkan? Tidak, bagaimana caranya menenangkan orang yang menangis?!
KAMU SEDANG MEMBACA
Askara : Peace (END)
Teen Fiction⚠️ Ini cerita BL Askar Riendra. Seorang pemuda workaholic, yang mati karena terlalu lelah bekerja. Bukannya ke alam baka, dia malah terbangun ditubuh Askar lainnya. Askara Allaver. Remaja yang menjalani hidup yang berat. Askara asli mati karena jat...
