46. Pemakaman

40.9K 3.5K 252
                                        

Arvie, Savian, dan Askar menatap kuburan di hadapan mereka. Askar mengelus punggung Arvie, "Kamu gapapa kan, Lace?"

Arvie tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Aku sedih. Tapi mau bagaimana lagi, lagipula dia juga bersalah. Selain itu, sekarangkan aku punya kakak, hehe."

Askar balas tersenyum, dia lalu menatap Savi, "Savi, kamu juga gapapakan?"

Savi menoleh dan mengerucutkan bibirnya, "Untuk kesekian kalinya, jangan panggil aku Sapiii. Dan ya aku tidak apa-apa, perasaanku sudah mati semenjak tau fakta yang sebenarnya." Savi menundukkan kepalanya.

Askar lalu mengelus kepala Savi, "Aku tidak tau harus mengatakan apa. Tapi Savi, kamu adalah manusia yang sangat kuat. Kamu menahan semua penderitaanmu selama bertahun-tahun, tanpa ada satu orangpun yang membantu ataupun berpihak padamu."

Savian menatap Askar dengan mata berkaca-kaca, baru kali ini ada orang yang mengakui kalau Savi adalah orang yang kuat.

Savi lalu memeluk Askar, "Terimakasih, terimakasih banyak. Askar... Bolehkan aku memanggilmu kakak, bagaimanapun kamu aslinya kan jauh lebih tua dari kami."

Askar terkekeh, "Tentu."

Savi terkekeh dan menduselkan kepalanya ke bahu Askar, akhirnya dia memiliki seorang kakak yang benar-benar menyayanginya.

Sementara itu, Askar merasa tertampar mendengar ucapan Savi. Savi membuat Askar teringat kembali kalau dia sebenarnya sudah tua. Semenjak memasuki tubuh Askara, atau tubuh asli Savi, Askar selalu merasa dia memang masih muda.

Arvie mendengus kesal melihat pemandangan itu, dia lalu memisahkan paksa Askar dan Savi. Arvie memeluk Askar dan menatap tajam Savi, "Jangan sentuh abangnya Lace. No no!"

Askar terkekeh melihat kedua adiknya yang saling melempar tatapan membunuh, "Dah yuk kita pulang."

Arvie dan Savi menganggukkan kepala mereka. Mereka bertiga lalu menatap sejenak ke arah makam.

"Selamat tinggal... Ayah." Savian berkata dengan lirih mewakili Askar dan Arvie. Ketiganya lalu berlalu dari sana.

Ya, Dominic meninggal dunia. Karena bunuh diri.

Dominic sangat depresi setelah mengetahui fakta akan Clara dan Aleyya. Dia sangat sangat sangat merasa bersalah mengingat perlakuannya pada Clara dulu. Perasaan bersalahnya bertambah mengingat bukan hanya sudah menyakiti Clara, dia juga sudah menyakiti Askara, anaknya sendiri.

Dominic yang terus dihantui oleh bayang-bayang Clara, akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Sebelum meninggal, Dominic menyerahkan perusahaan pada Arvie. Dan dia memberikan sejumlah uang untuk Allen, dan Savian, sebagai ganti rugi atas perusahaan yang diberikan sepenuhnya pada Arvie.

Dominic ditemukan meninggal dini hari tadi, saat Arvie akan mengecek keadaannya. Dan ternyata Dominic sudah tidak bernyawa dengan botol bekas racun di samping tubuhnya. Botol racun yang memang Arvie taruh di kamarnya.

Arvie memang sengaja menaruh racun itu di kamar Dominic. Dia tau Dominic akan depresi berat setelah mengetahui semuanya. Arvie hanya ingin memberikan Dominic pilihan, apakah dia ingin tetap hidup dengan menanggung beban penyesalan dan perasaan bersalah yang begitu besar, atau dia memilih untuk menyerah.

"Kita langsung pulang?" Arvie bertanya.

"Ayok ke rumah sakit dulu. Kakak mau cek keadaan kak Allen." Askar menundukkan kepalanya, dia masih sedih mengingat keadaan Allen.

Sudah 3 hari berlalu semenjak kejadian penangkapan Aleyya dan Anka, juga kejadian penembakan Allen.

Setelah tertembak di kepala, Allen masih bisa bertahan hidup, diapun dengan cepat dibawa ke rumah sakit mengenakan helikopter.

Askara : Peace (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang