Note : Semua Bonchap timelinenya sebelum time skip 4 tahun.
🐇
Anka menghela napas berat. Dia mengeratkan jaketnya melindungi tubuhnya dari dinginnya udara malam, kebetulan juga saat ini sudah masuk musim dingin. Anka lalu mendongak, dia tersenyum melihat bulan yang bersinar cantik dan bintang-bintang yang bertaburan.
Anka baru saja pulang dari tempat kerjanya. Anka bekerja disebuah rumah makan. Dia biasanya bekerja dari sore hingga malam.
Seperti permintaan Arvie, Anka memutuskan untuk pindah negara ke negara yang berbeda benua. Anka menjalani kehidupan yang benar-benar baru, dia mengubah nama belakangnya, menjalani kehidupan yang sederhana.
Sudah 1 tahun Anka menjalani kehidupan yang damai. Meski terus diliputi perasaan sedih, dan perasaan bersalah, Anka tetap berusaha bertahan hidup. Beberapa kali Anka mencoba mengakhiri hidupnya, tapi niatnya selalu gagal karena Anka merasa takut setiap kali mencoba untuk bunuh diri.
"Hm... Malam ini makan apa ya." Anka mulai membayangkan rumahnya yang hangat, dia jadi ingin cepat-cepat sampai rumah.
Untuk menuju rumahnya, Anka harus melewati sebuah jalan yang dikelilingi kebun. Rumah Anka memang terpencil, sengaja karena Anka ingin hidup jauh dari keramaian.
Tapi ada sesuatu yang selalu membuat Anka takut setiap kali pulang malam. Yaitu sebuah rumah kosong yang ada dipinggir jalan, rumah itu tidak berpenghuni selama belasan tahun. Meski takut, Anka mau tidak mau harus melewati rumah itu, karena jalan itu adalah satu-satunya jalan menuju rumahnya.
Saat akan melewati rumah kosong itu, Anka menundukkan kepalanya, dia sama sekali tidak ingin melihat rumah itu.
"ARGHHHH."
Anka tersentak membeku mendengar suara itu. Tepat setelah Anka sampai di depan rumah kosong, dia mendengar suara aneh dari dalam rumah kosong itu.
Anka langsung menoleh, dia mengernyitkan dahinya, "Kayak suara orang kesakitan..." Anka bergumam pelan.
"Apa terjadi sesuatu ya?" Anka menggigit kuku jari telunjuknya.
Anka sangat yakin kalau yang dia dengar tadi itu suara orang yang berteriak kesakitan. Tapi, Anka juga takut kalau itu bukan suara orang tapi suara hantu.
Anka kembali melihat rumah kosong dengan ragu. Anka melihat ke sekitarnya, berharap ada orang lain yang lewat. Tapi tentu itu hal yang mustahil. Rumah di sekitar jalan dan kebun itu hanya ada 3. 1 rumah tepat di ujung menuju jalan besar, 1 rumah kosong di hadapan Anka sekarang, dan 1 lagi adalah rumah Anka yang ada dibagian paling dalam kebun.
Anka meremat jarinya, "Kalau itu beneran orang, dia pasti lagi dalam bahaya. Tapi kalau itu bukan orang..."
Anka menggelengkan kepalanya, "Enggak nggak, kalau itu bukan orang seharusnya itu disyukuri, karena berarti nggak ada orang yang lagi dalam bahaya. Tapi kalau itu orang..."
Anka menatap tajam rumah kosong itu, dia lalu menganggukkan kepalanya, "Harus di cek!" Anka lebih khawatir kalau suara tadi beneran suara orang asli.
Dengan yakin Anka membuka pagar besi rumah kosong itu, dia lalu kaget karena pagarnya ternyata tidak dikunci, "Perasaan tadi siang waktu lewat sini masih digembok deh." Melihat pagar yang tadinya dikunci menjadi tidak dikunci, Anka menjadi semakin yakin kalau yang tadi itu suara manusia asli.
Dengan cukup buru-buru Anka memasuki rumah itu. Rumah kosong itu adalah rumah yang cukup besar. Tapi seperti kebanyakan rumah kosong lainnya, rumah kosong itu sudah tidak memiliki pintu dan jendela-jendelanya sudah rusak.
"Permisi..." Anka berbisik pelan. Dia mulai memasuki rumah dengan mengendap-endap.
Bugh bugh
KAMU SEDANG MEMBACA
Askara : Peace (END)
General Fiction⚠️ Ini cerita BL Askar Riendra. Seorang pemuda workaholic, yang mati karena terlalu lelah bekerja. Bukannya ke alam baka, dia malah terbangun ditubuh Askar lainnya. Askara Allaver. Remaja yang menjalani hidup yang berat. Askara asli mati karena jat...
