Anka memeluk ibunya dengan erat, dan mengelus punggung Aleyya mencoba menenangkannya.
Tadi, sepulang dari kantor, Anka langsung disambut oleh Aleyya yang 'sakit'nya kambuh.
"Tenanglah, mom."
Aleyya sesenggukan di dalam pelukan Anka, dia lalu menarik kerah baju Anka dan menatapnya dengan tatapan tajam, "Anka, kau harus membunuh anak itu. Selama dia hidup, kita akan terus menderita. Kau harus membunuh dia secepatnya, Anka."
Anka tersenyum dan mengelus lembut pipi ibunya, "Tentu. Aku pasti akan membunuhnya secepat mungkin. Aku sedang mempersiapkan semuanya..."
"Sekarang mommy tenang dulu ya, ini sudah saatnya mommy tidur siang, sebaiknya mommy tidur agar cepat sembuh. Mom harus melihat kematian Askar dalam keadaan sehat."
Aleyya menganggukkan kepalanya, dia lalu membaringkan tubuhnya ke kasur. Anka menyelimuti ibunya, dan mengelus lembut kepala Aleyya.
"Anka, bagaimana dengan ayahmu? Apakah dia sudah membaik?"
Dominic memang sudah beberapa hari ini dirawat di rumah sakit, itu karena kondisinya yang terus memburuk, dia juga terus mengeluh sakit kepala.
Anka tersenyum mendengar pertanyaan ibunya, "Iya, ayah sudah membaik. Mommy tenang saja, dalam beberapa hari ayah pasti akan pulang."
Bohong. Anka sebenarnya tidak tau keadaan Dominic saat ini. Semenjak masuk rumah sakit, Anka tidak pernah satu kalipun menjenguk Dominic, karena dia disibukkan dengan urusan perusahaan. Hanya Allen dan Arvie yang selalu menjenguk Dominic.
Setelah memastikan Aleyya tertidur, Anka lalu keluar dari kamar Aleyya dan berlalu menuju kamarnya sendiri.
Diperjalanan menuju kamar, dia berpapasan dengan Allen yang sepertinya akan pergi keluar.
"Mau kemana?"
Allen sedikit tersentak mendengar suara kakaknya, dia lalu menoleh menatap Anka dan tersenyum, "Mau ke rumah sakit, jaga ayah. Sama Arvie juga, dia udah nunggu di mobil."
"Oh." Anka menganggukkan kepalanya, dan berlalu melewati Allen.
Setelah Anka menjauh, Allen menghela napas lega, "Hampir saja..." Dia lalu berlalu dari tempatnya.
~~~
Anka menatap langit-langit kamarnya, dia memikirkan kembali ucapan ibunya. Seperti yang dikatakan Aleyya, dia harus segera menyusun rencana untuk menyingkirkan Askar.
Tapi, tentu itu bukan hal yang mudah. Apalagi sekarang Askar berada di bawah perlindungan Nirvallen. Jika Anka macam-macam, dia akan berhadapan dengan Nirvallen, dan itu bukan hal yang bagus.
Seharusnya, Anka memang menyingkirkan Askar sejak dulu. Bahkan mungkin sejak Askar masih sangat kecil.
Tapi, ada sesuatu yang terus menganggu Anka. Dia terus terbayang-bayang tubuh telanjang Askar yang dia lihat sebelum Askar keluar dari rumah Allaver.
"Kau memang harus segera disingkirkan. Kamu dan ibumu memang sama saja, sama-sama iblis pembawa sial." Anka bergumam pelan.
Anka lalu teringat pada sosok wanita yang dulu begitu dia kagumi, Clara, ibu kandung Askar, ibu tirinya. Sekaligus orang pertama yang mengajari Anka arti kekecewaan.
Anka mengenal Clara. Dulu, saat Anka masih kecil, Dominic sering membawa Anka untuk bertemu dengan Clara.
Setiap beberapa minggu sekali, Anka dan Dominic akan mengunjungi Clara, di desa tempat dia tinggal. Anka awalnya sangat menyukai Clara, sangat sangat sangat menyukainya. Bagi Anka, Clara adalah sosok ibu paling sempurna. Clara sangat cantik dan penuh kasih sayang. Hal itu membuat Anka begitu nyaman berada di dekat Clara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Askara : Peace (END)
Novela Juvenil⚠️ Ini cerita BL Askar Riendra. Seorang pemuda workaholic, yang mati karena terlalu lelah bekerja. Bukannya ke alam baka, dia malah terbangun ditubuh Askar lainnya. Askara Allaver. Remaja yang menjalani hidup yang berat. Askara asli mati karena jat...
