Wanita itu bergegas sesaat setelah mandi. Hari ini dirinya akan pindah dari apartemen suaminya dan menyewa apartemen yang lebih kecil untuknya beristirahat.
3 hari lalu ia menemui sang pemilik apartemen dengan maksud untuk menyewanya. Dengan nego sampai mendapat harga yang cocok ia pun setuju membayarnya.
Tidak mungkin ia terus berlama-lama menempati apartemen suaminya karena Rony akan terus datang kesana untuk memantau proyek yang tengah ia jalankan.
2 hari setelah dirinya menempati apartemen Rony.
Ia merasa Rony pasti dengan mudah akan mondar mandir ke Singapore, melihat dia mempunyai tanggung jawab untuk proyek papanya jadi mau tidak mau ia akan singgah diapartemen bahkan bisa jadi ia akan mencari Salsa di sana.
Setelah mandi ia sudah mulai memboyong kopernya di ruang tengah sembari menunggu taksi yang akan menjemputnya.
Ia menuliskan ucapan terima kasihnya pada secarik kertas yang ia tujukan pada Rony.
Mengapa bisa se berantakan ini dia sekarang, kehidupan yang tidak pernah terlintas olehnya namun bisa ia melewati hal seperti sekarang.
Kak hati-hati kalau pindahan ya, maafin aku nggak bisa bantu :(
It's Okay ontyyy sayang, ini mami dorong koper sambil pegangin adik bayi biar nggak jatuh :)
Kakkkkk kuat kuat ya, 2 minggu lagi kita ketemu. Jangan pernah khawatir semua pasti akan baik-baik aja
Okayy onty biluvvv adik bayi tunggu disini ya 🤍
Sayang mami dan adik bayi 🤍🤍🤍
Sampai di kediaman barunya Salsa disibukkan membongkar koper. Koper pertama adalah baju serta perlengkapan adik bayi yang ia bawa semua kecuali baju yang Rony beli dari Singapore. Koper kedua adalah baju serta perlengkapannya yang kini telah ia susun di lemari kamarnya.
Perasaan kemarin ada baju kotornya 2 kenapa tinggal 1. Batin Salsa menghitung setelan yang ia bawa.
Beberapa sudah ia pindahkan namun beberapa lagi masih ada di dalam kopernya. Perutnya tiba-tiba terasa kram mungkin karena terlalu lama duduk di lantai.
Salsa berusaha berdiri dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Mengelus perutnya serta menahan rasa sakit yang teramat.
Adik mami sendirian nak, adik pintar ya. Ucap Salsa dalam hati
Salsa mengusap perutnya tanpa terasa air matanya turun. Dibayangannya sangat tergambar jelas bagaimana sikap Rony yang kini membuatnya harus pergi dari rumah.
Impian dan harapan mereka berdua sirnah begitu saja bahkan mungkin impian yang sudah disusun untuk buah hatinya pun ikut sirnah.
Lamunan Salsa pecah saat deringan telfonnya berbunyi. Mengapa bisa ia lupa mematikan data ponselnya sampai ada yang bisa menghubunginya.
Biasanya ia selalu mematikan data ponselnya untuk menghindari pikiran negatif yang selalu muncul dan berputar di otaknya.
Jika ia ingin mengetahui kabar adiknya barulah ia yang akan menghubungi sekedar bertukar cerita.
'Ca udah 3 hari ponsel lo nggak bisa gue hubungi. Lo baik aja kan?' cecaran itu berhasil menusuk telinganya
'Apasih Nop, gue baik aja kenapa' balasnya
'Rony lagi cariin lo ke Singapore, lo aman kan ?'
'Gue udah pindah Nop, tapi lo nggak perlu bilang ke Paul ya ini rahasia kita'
'Lo pindah? pindah kemana? jangan bikin gue khawatir Ca'
'Ada pokoknya nanti lo gue kasih tau kalo kesini tapi plis jangan kasih tau siapapun termasuk laki lo' ucap Salsa
'Paul kan udah janji Ca kalo bisa jaga rahasia, kalo bukan Paul siapa lagi yang bisa gue andalin buat jenguk lo disana' suara Novia pelan
'Aku akan baik-baik aja yaa jangan khawatir. Nop udah dulu ya gue harus beberes nih nanti kalo ada waktu gue kabari lagi. Daaaa' tanpa menunggu balasan dari Novia, Salsa menutup panggilannya.
Bukan hanya menutup panggilan tapi juga mematikan data seperti biasa.
Menenangkan diri adalah hal yang paling baik untuknya sekarang.
Menjauh dari semua orang agar tidak ada yang mengkhawatirkan dirinya saat ini.
——
Seminggu telah berlalu sedangkan Rony masih seperti ini saja, tidak pergi ke kantor, tidak ada di apartemennya bahkan ia tidak datang ketika meeting penting yang diadakan oleh papanya.
Ia mengurung diri di rumah yang ia dan Salsa namakan 'rumah masa depan' yang sempat akan ia tinggali saat anaknya sudah besar. Ia akan pergi dari Jakarta dan menetap di Bandung dengan keluarga kecilnya.
Hari ini terasa sepi, hanya duduk di teras belakang yang ia lakukan setiap harinya. Menyalakan rokok dan duduk di tepi taman memberinya sedikit kelegaan meskipun hatinya sedang kalut.
Terdengar suara gerbang yang di dorong membuat nya menoleh karena pasti ada seseorang yang datang menemuinya.
Terlihat dari cela jendela kaca Paul turun dari mobil membuat lelaki itu memalingkan wajahnya, pasalnya bukan Paul yang ia tunggu.
"Ron susah banget dihubungi" ucap Paul yang kini duduk di samping sahabatnya dengan membawa berkas yang tebal
"Sini mana yang perlu gue tanda tangani" ucap Rony melirik lelaki disampingnya
"Gue jadi jauh kalo perlu tanda tangan lo" Paul menyerahkan berkas itu pada Rony
"Lo beda banget padahal baru seminggu gue nggak liat lo" lanjut Paul. Bagaimana tidak berbeda rambutnya acak-acakan, kumisnya dibiarkan tumbuh, paling parahnya kantong mata itu semakin menghitam.
"Gue kacau Powl, setiap gue mau mulai nutup mata selalu kebayang wajah Salsa, suara panggilan dia, ketawanya, harumnya. Bahkan gue nggak mau buka mata dan gue pilih buat nggak tidur biar gue tetep denger suara dia" ucap Rony yang meniupkan asap rokoknya ke sembarang arah
"Lo yang sabar, jangan berhenti berusaha Ron. Salsa lagi menyembuhkan apa yang telah terluka. Gue yakin kalo lo bener minta maaf ke dia tulus dari hati lo pasti Salsa bakal maafin lo. Cinta dia ke lo nggak main-main" ucap Paul yang berusaha menenangkan sahabatnya.
Rony hanya menghembuskan nafasnya kasar mendengar tutur Paul. Dirinya mengakui salah namun semua sudah terlambat.
"Lo nggak mau tanya Billa?" tanya Paul pada Rony
"Minggu lalu gue ke Jogja buat nemuin Billa. Gue punya tanggung jawab sama dia buat lanjutin biaya kuliah yang biasa Salsa kasih" ucap Rony
"Sejauh ini Salsa pasti masih bisa bertahan dengan tabungan yang dia punya tapi sampai kapan itu bisa bertahan. Meskipun nominalnya cukup besar yang gue tau" lanjut Rony
"Lo kan bisa kirim uang ke dia, itu masih tanggung jawab lo Ron" Paul menatap lekat sahabatnya
"Kalo gue tau buat kirim duit kemana udah ga perlu lo ingetin lagi. Tanggung jawab gue nggak perlu lo raguin Powl. Anak gue mau lahir bahkan udah kurang hitungan minggu tapi gue nggak tau harus gimana" Rony kini beranjak dari duduknya untuk mengambil selang air dan mengarahkan ke tanaman yang hampir saja mati.
"Lo bilang bukan anak lo. Ada gilanya manusia kaya lo emang" ucap Paul yang kini membakar rokoknya
Rony hanya diam meresapi apa yang Paul katakan. Ia masih setia berdiri menyiram tanaman yang layu. Taman itu sebelumnya dirawat dengan baik oleh penjaga yang ia tugaskan merawat rumahnya. Namun seminggu ini Rony menyuruh pulang agar ia bisa leluasa sendirian.
✨✨
Selamat membaca, semoga suka ya 🫶🏻
