Setelah ulang tahun Ara yang selesai pukul sebelas malam, Salsa masuk ke kamar terlebih dahulu meninggalkan keluarga serta teman mama mertuanya untuk beristirahat. Rony sudah menyiapkan kamar untuk keluarganya yang berkenan menginap di hotel tempat acara digelar.
Rasa lelah merasuk dalam-dalam. Rasanya tulangnya rontok karena terlalu lelah. Masih ulang tahun pertama Ara sudah membuat badannya ringkih begini, apalagi nanti saat pesta pernikahan anaknya. Bahkan diam diam Salsa sudah memikirkan hingga sejauh yang Salsa bisa pikirkan.
Salsa berbaring di sebelah putrinya yang sudah terlelap. Mengusap lembut pipi anaknya dengan jari telunjuk serta mencium lembut pipi kenyal anaknya.
Sudah setahun berarti tepat di hari ini nyawanya dipertaruhkan untuk menyelamatkan permata hatinya.
Tetesan air mata lolos ketika melihat wajah teduh putrinya. Mengapa bisa begitu besarnya ia menaruh harapan, kasih sayang terhadap mahluk kecil yang setiap hari membuatnya menghembuskan nafas panjang.
"Sayang" sosok lelaki yang muncul dari balik pintu membuatnya terkejut.
Kamar yang Salsa tempati terdapat ruang tamu dan dapur terpisah dengan kamar, jadi jika ada yang masuk maka ia akan masuk ke ruang tamu terlebih dahulu sebelum melangkah ke kamar.
"Udah selesai acaranya?" Salsa mengusap sisa air mata yang masih menggenangi pelupuk matanya
"Sudah baru pada bubar. Lagi capek ya?" tanya Rony yang sepertinya melihat istrinya mennagis
"Iya capek banget. Anak kamu geol-geol mulu jadi agak nyeri" ucap Salsa menekan perutnya dengan jari telunjuk. Merasakan ada yang bergerak disana.
"Ini anak papi lagi gulat ya di dalam. Menang siapa sih nak heboh banget. Bobo yuk kasihan maminya nih belum bisa istirahat sama sekali" Rony mencium sisi perut Salsa
"Mau pelukan" ucap Salsa yang sudah merentangkan tangan
"Bentar ya aku bersih-bersih dulu. Bau rokok" ucap Rony yang sudah masuk ke kamar mandi.
Rony jarang sekali merokok jika tidak ada temannya. Sepertinya tadi om-om nya dengan senang hati menemaninya merokok.
Salsa tidak marah, ia tidak anti dengan lelaki perokok namun ia anti jika bau rokok menempel di bajunya. Ya bisa disimpulkan, alih-alih boleh merokok tapi tanpa terlihat mata Salsa dengan terang-terangan.
Rony sudah berada di samping Salsa. Memeluk wanitanya dari belakang dengan mengusap lembut perut yang sudah mulai membesar. Tidak heran mengapa perut Salsa ukurannya lebih besar dari wanita hamil pada umumnya.
"Anak kita udah gede ya" ucap Salsa dengan tiba-tiba.
Ara tidur tepat di samping Salsa, yang artinya Salsa berada di tengah antara Ara dan Rony.
"Hm" Rony sedikit memundurkan kepalanya
"Aku kayanya nggak bisa deh lihat Ara tiba-tiba gede gini" lanjut Salsa
"Ca. Kebiasaan deh. Ara masih setahun. Belum remaja yang udah bawa cowonya ke rumah" jawab Rony
"Eh tapi.. nanti kalau anak gadis kamu bawa pacarnya pulang. Em— respon kamu gimana?" tanya Salsa pada Rony
"Gimana apanya?"
"Ya gimana respon kamu kalo dikenalin?" tanya Salsa seperti mengulang pertanyaannya lagi
"Belum kepikiran" ucap Rony singkat
"Ck... ayolah Rony. Aku serius nih" jawab Salsa sedikit kesal
"Yaaa paling simpel aku tanya— dia CEO perusahaan apa" ucap Rony yang membuat Salsa kesal tidak karuan.
"Udahlah mi itu masih jauh, masih panjang. Aku juga pengen putriku— Anakku dapat pendamping yang pas. Cocok dan setara kan?" penjelasan Rony sepertinya hanya lewat saja di telinga istrinya
"Aku nggak mau anak aku dijodohkan sama rekanan bisnis papinya. Biar dia memilih pasangan hidupnya. Seumur hidup itu waktu yang sangat lama. Tentunya tidak mudah" cerocos Salsa
"I know" ia mengomentari singkat lalu memejamkan mata. Salsa hanya berdecak dan menyusul suaminya.
——
Pagi ini Rony berangkat ke kantor lebih siang dari biasanya karena Ara yang terus menempel padanya seperti bayi koala. Rony tidak masalah sebetulnya tapi pagi tadi harusnya dia ada meeting yang harus ia hadiri.
"Sayang maaf ya, kamu jadi terlambat" ucap Salsa yang menemani suaminya bersiap
"Nggak terlambat banget kok, masih kekejar" Rony hanya menampilkan ulasan senyumnya.
Harusnya pukul sepuluh pagi meeting sudah dimulai namun sudah jam setengah dua belas dirinya baru bersiap. Tidak mungkin jika meeting tanpa adanya Rony disana yang artinya meeting diundur sampai setelah makan siang.
"Aku titip anakku ya, nanti aku pulang lebih cepet dari kantor" ucap Rony yang kini sudah bersiap berangkat
"Nggak makan siang dulu? atau mau bekal aja?"
"Nggak sayang. Nanti makan di kantor aja ya. Kabari aku terus" Rony mencium pipi istrinya singkat sebelum pergi.
Ara demam dari semalam bahkan membuat Rony tidak tidur karena terlalu khawatir. Sudah Salsa beritahukan bahwa ini adalah hal yang biasa bagi bayi.
Di mata Salsa lagi-lagi Rony adalah seseorang yang hebat, ayah hebat serta peran yang tidak pernah tergantikan. Setelah persoalan panjang dalam rumah tangganya kini sepertinya ia memetik sebuah hal yang sangat manis.
Pernikahan yang selalu dihiasi keistimewaan, kasih sayang serta kehangatan.
Rumahnya penuh dengan cinta serta orang didalamnya yang selalu hangat.
Mertuanya tidak pernah absen menjenguknya, meski seminggu dua tau tiga kali jika memang tidak ada halangan.
Rony memang sibuk di kantor, bahkan ia tidak jarang pulang malam bahkan harus lembur. Namun Salsa sadar semua yang dilakukan suaminya hanyalah demi kebahagiaan Salsa serta anak mereka.
Sayang, lagi apa nih?
Jangan telat makan
Aku lagi meeting sama pak Erwin
Bener kata kamu. Duitnya nggak berseri 😂
Wahhh. Good luck deh 🤍
Kamu jangan lupa makan ya.
Aku selesaikan semuanya dulu biar minggu depan bisa full temani kamu persiapan lahiran
Oke sayang
Salam buat pak Erwin dan istri ya. Brownies nya enak
Aku sampaikan nanti
Dah ya, jangan cape cape mami. Aku sayang kamu dan anak-anak 😘
Dih emotnya. Geli
🤍
✨✨
Hola gengs..
Jangan lupa vote dan komen ya,
Part Salsa Rony sudah lengkap ditulis sampai "EXTRA PART" jadi tungguin terus 🫶🏻
Enjoy!!
