Hari ini semua berkumpul merayakan setahun usia anak pertama Rony dan Salsa. Acara diselenggarakan di hotel bintang lima yang berada di tengah kota. Dibalut dengan gaun bernuansa hitam elegan Salsa tampak ayu. Sedangkan Ara sengaja ia pakaikan gaun berwarna merah muda pemberian mama mertuanya saat Ara masih dalam kandungan. Memakaikan pita pada rambutnya membuat Ara semakin mengemaskan. Keduanya tampak sibuk mengabsen keluarga yang sudah datang namun karena Salsa sedang hamil maka yang membantunya adalah Billa.
Billa kini lebih banyak berada di Jakarta. Lima bulan yang lalu dirinya memenangkan audisi untuk tampil di istana negara. Namanya kini sudah jauh dikenal meski masih dalam masa merintis.
Usahanya yang tidak main-main pun membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Ia sudah masuk label resmi meski ada campur tangan Rony didalamnya sebagai pembuka jalan kalau kata Salsa.
Billa sudah sering manggung meski masih di area Jakarta. Sepertinya ia memang langganannya para pejabat deh karena semua acara di tebas sama adiknya.
Masalah kuliah ia dapat keringanan untuk melakukannya tanpa harus datang ke kampus. Salsa tidak memaksa apapun yang dilakukan Billa. Apapun. Asalkan adiknya bersungguh-sungguh.
"Kak ini meja kak Paul sama kak Novia dibiarin aja?" tanya Billa yang akan meletakkan sebuah nama di dua meja tersebut
"Biarin aja mereka pasti datang kok" ucap Salsa dengan yakin
Keluarga dari Dharma pun datang dengan formasi lengkap. Sepertinya ini baru pertama Salsa bisa berkumpul dengan keluarga besar dari papa serta mama mertuanya. Biasanya hanya sebagian atau perwakilan keluarga yang ikut menghadiri makan malam karena rata-rata semua memiliki kesibukan masing-masing.
"Wahhh terima kasih tente" Salsa menyalami adik dari papa mertuanya dengan antusias dan menerima kado untuk anaknya.
Ruangan yang sangat hangat dan mewah sepertinya cocok untuk ulang tahun anak usia 17 tahun, karena terlalu besar menurut Salsa. Acara sederhana yang mereka susun di awal ternyata di rombak habis-habisan oleh mama mertuanya.
"Kayanya yang antusias mama deh" ucap Salsa pada Rony.
"Mama tuh baru pertama punya cucu sayang. Wajar kalau mama sampai seperti ini, kasih sayang seorang nenek untuk cucunya" jawab Rony menggenggam tangan Salsa.
Ulang tahun Cucu pertama sepertinya membuat Sheila tidak tidur, pasalnya ia terus ngomel jika ada yang tidak pas padahal mama mertuanya sudah bekerjasama dengan EO terbaik langganan Dharma Graha.
"Kalung yang mama kasih kenapa nggak di pakai sih Ca. Adik bayi perlu pakai sepatu ini atau yang satu lagi ya" Sheila mengeluarkan isi tasnya seperti mencari benda pipih kesayangannya.
"Mama. Ma— mama santai ya jangan terlalu sibuk gini ah. Cucunya aja duduk manis tuh" Salsa merangkul tangan mama mertuanya dan menempelkan pipinya disana
"Mama jangan kaya gini. Caca jadi sungkan soalnya nggak bisa bantu apapun" Salsa masih bergelayut disana dengan kepala mendongak menatap mama mertuanya
"Kan kamu lagi hamil sayang. Udah kamu duduk manis aja biar mama yang urus. Mama seneng bahagia banget malah nggak merasa repot" Sheila mengusap lembut kepala Salsa seperti usapan sayang ibu kepada anaknya.
Rony sudah memberikan kode pada istrinya bahwa biarkan saja. Toh kebanyakan yang diundang mamanya adalah teman arisan, keluarga besar, teman kongkow kalau kata Rony. Jadi acara Ara sudah seperti acara reuni Sheila dengan teman-temannya.
"Maaf ya ma. Kalung Salsa ketinggalan" ucap Salsa merasa bersalah.
Kalung berlian pemberian Sheila saat mertuanya tau Salsa mengandung lagi. Bukan kalung yang baru karena itu adalah salah satu kalung kesayangan Sheila yang ia beli saat Rony berusia enam tahun, bertujuan untuk diberikan kepada anak perempuannya kelak saat ia melahirkan lagi. Sayangnya Sheila tidak pernah berhasil mempunyai keturunan lagi setelah ia melahirkan Rony.
Jadi Sheila bertekat untuk memberikannya pada menantunya saja toh ia rasa sama seperti ia memberikan pada anaknya sendiri.
