Hari ini Salsa mempersiapkan mentalnya untuk mengajukan pengunduran dirinya. Dia tidak sanggup lagi meladeni kemauan Bobby karena semakin hari semakin tidak wajar. Seperti yang Salsa sudah alami ketika ia mengantarkan Bobby untuk meeting dan mereka hanya berdua saja di dalam mobil mungkin ini juga strategi Bobby agar ia leluasa dekat dengan Salsa.
"Bapak mau ngapain, jangan aneh ya pak saya bisa teriak loh" Salsa menepis tangan Bobby yang tiba tiba mengelus pipinya
"Sa dikit aja, pengen coba bibir pink kamu biar saya tau lipstik mana yang cocok saya belikan buat kamu"
"Pak cukup, saya sudah punya calon suami"
"Cantik cuma dikit aja pelit banget, kamu itu kerja buat saya jadi apapun yang saya perintah kamu harus lakukan" tangan Bobby terus menggenggam erat tangan Salsa, dengan tatapan menjijikan Bobby terus mendekatkan wajahnya pada Salsa yang saat ini terus meronta ronta.
"Diem!!" Seru Bobby yang sedikit emosi karena Salsa terus saja memberontak. Tanpa basa basi Salsa mencakar leher Bobby saat tangannya mulai longgar dan membuka mobil dengan paksa. Cacian dan makian yang saat ini keluar dari mulut Bobby.
"Dasar pelacur, tunggu aja saya pasti bisa dapetin kamu" teriakan Bobby cukup terdengar di telinga Salsa meskipun ia sudah menjauh dari mobil tersebut. Setelah dirasa sudah aman ia langsung memesan taksi online untuk membawanya pulang. Sampai di rumah ia langsung masuk ke kamar dan menangis sejadinya karena merasa takut dan sedih dirinya bisa dijadikan konsumsi oleh managernya sendiri.
——
"Bismillah demi kebaikan Caa kamu harus bisa" semangat itu ia tujukan kepada dirinya sembari berjalan ke ruangan Bobby. Tubuhnya sedikit bergetar karena ia harus berurusan dengan Bobby lagi setelah 2 hari yang lalu ia dilecehkan.
"Selamat pagi pak, mohon maaf mengganggu waktunya" sapa Salsa dengan sedikit membuka pintu ruangan Bobby
"Cantik masuk sayang, kamu pasti mau minta maaf kan sama saya dan berubah pikiran kan" Bobby berdiri dari duduknya sambil mempersilakan Salsa duduk
"Tidak usah pak cukup singkat saja, permisi ini pengajuan pengunduran diri saya" Salsa menolak untuk duduk dan langsung menyerahkan amplop coklat di meja Bobby
"Enak aja kamu bilang mau resign, kamu sudah tanda tangan kontrak selama 1 tahun tapi masih seminggu udah mengundurkan diri" Bobby mendekat pada Salsa dan memegang pundaknya, dengan cepat Salsa menepis tangan Bobby
"Sayang ayo lah kamu pasti bahagia dengan saya, kamu mau minta apa saya belikan" tangan Bobby mulai merangkul pinggang Salsa dan mulai akan turun menelusuri tubuh Salsa
"Anda jangan kurang ajar ya" Salsa menampar pipi Bobby dan membuka pintu ruangan itu. Semua staff yang berada dekat dengan ruangan Bobby pun ikut mengintip keributan yang tengah terjadi
'Halo.. ikuti perginya wanita berengsek itu dan beritahu saya dimana dia' obrolan yang tengah terjadi antara Bobby dan orang di sambungan telfonnya.
——
Setengah bergetar ia memutuskan untuk pulang.
"Assalamualaikum, Bunda Caca pulang" ucapnya dengan mencium lembut tangan bundanya yang sedang menonton siaran televisi
"Walaikumsallam, cepet banget perasaan belum sejam yang lalu kakak pamit ke bunda buat berangkat kerja"
"Bunda jangan marah ya, kakak hari ini resign bun. Tadi ke kantor cuma kasih surat resign nya aja" ucap Salsa yang saat ini berbaring di pangkuan bundanya
"Kakak nggak kerasan ya ?" Usapan lembut di kepala Salsa membuatnya nyaman. Selama seminggu belakangan ini Salsa tidak bercerita apapun pada bunda karena akan membuat khawatir bundanya, di samping itu Salsa adalah tipe cewe yang tidak suka menunjukkan kesedihannya pada keluarga kecilnya itu karena cukup dia yang tau.
"Bunda maaf, habis kerjaannya padet banget bun Caca bingung jadi fokusnya ke pecah pecah deh" ucapnya sembari duduk dan membetulkan jilbabnya
"Selain kerjaannya padet banget Caca juga dapat tawaran di Jakarta bun, di kantor kemarin". Tepat 2 hari yang lalu Salsa mendapatkan tawaran yang ke 3 dari PT. Dharma Graha dengan nominal yang tidak pernah Salsa pikirkan sebelumnya. Ya nominalnya 18 juta sudah termasuk jaminan tempat tinggal layak untuknya selama di Jakarta. Itu artinya Salsa tidak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk tempat tinggalnya.
"Kakak mau ambil itu?" pertanyaan Nina membuat Selasa menatapnya sendu
"Bunda kakak minta ijin ya bun, kakak ambil tawaran itu karena Caca butuh banget buat beliin Billa piano" tegasnya yang saat ini menggenggam tangan Nina yang tidak bisa menyembunyikan air matanya
"Maafkan bunda kak, kakak satu satunya yang bunda punya untuk membantu kita tapi malah seakan bunda mempekerjakan kakak tanpa jeda" seketika Salsa menarik tangan bundanya dan memeluk erat
"Bunda Caca janji setelah Billa lulus Caca akan bawa bunda dan Billa ke Jakarta, kita hidup di Jakarta bareng bareng bun" pernyataan itu hanya mendapat anggukan dari Nina
"Lusa Caca berangkat karena harus segera masuk kerja" lagi lagi Nina hanya mengangguk pasrah atas keputusan anaknya itu.
Sebetulnya keputusan Salsa mendapat pertimbangan yang cukup panjang, selain karena ada Rony di kantor itu namun ada lagi kegundahan yang menyelimutinya adalah meninggalkan bunda dan adiknya. Namun karena tanggung jawab yang memaksa Salsa menerima penawaran ini.
——
"Permisi pak Rony, berikut update perkembangan dari Salsa" Norma memberikan sebuah amplop pada Rony
"Terima kasih bu Norma atas usahanya, secepatnya saya ingin Salsa sudah bergabung bersama kita" Sahut Rony dengan wajah yang sulit di artikan
"Baik pak lusa sudah mulai bergabung, boleh dibantu untuk kunci apartemen apakah sudah ada di bapak?"
"Oiya sudah di saya 2 hari lalu, serahkan ke Salsa ketika dia datang. Unitnya ada di 808" key card itu ia serahkan pada Norma.
"Terima kasih pak saya permisi" pamitnya pada Rony yang hanya mendapat anggukan saja. Ya managernya yang dingin itu selalu ditakuti oleh karyawannya.
✨✨
