Rencana Ansara

12 0 0
                                        


***

"An, thank you loh. Kalau bukan karena lo, kita gak mungkin dapat undangan VVIP seperti ini." Ujar Jingga senang.

"Sama sama Jingga, itu juga karena bang Ares, bukan aku kok." Jawab Ansara tersenyum. Ia senang jika teman temannya juga merasa senang akan hal itu.

Rania menopang dagu dengan kedua tangan, "semoga tahun ini, pesta yang diadakan oleh Empat pilar berjalan dengan lancar. Kalian tahu sendirikan, apalagi sejak kejadian hilangnya Kak Rami di acara camping kita kemarin, gue jadi sedikit takut, kalau boleh jujur." Papar Rania menyampaikan gundah yang di rasakan saat ini.

Ansara jadi teringat, keinginan yang ingin ia ketahui, tentang siapa siswi yang tewas setelah acara yang diadakan Empat pilar. Apa Berlian itu adalah Kak Lian atau bukan?.

Ansara berdeham, "kalian punya foto siswi, yang mati bunuh diri itu?" Tanya Ansara hati-hati.

"Untuk apa?" Sahut Bianca, gadis itu menjadi penasaran.

Ansara terdiam sejenak, "tidak ada, hanya ingin tahu saja. Itupun kalau kalian mempunyai fotonya." Jawab Ansara.

"Sebentar, setelah kejadian itu, keluarga Wijaya memang menghapus hampir seluruh foto Berlian di berbagai media. Kata Satya Wijaya, selaku ayahnya, beliau bilang dia tidak ingin memberitahu wajah yang membuat aib di keluarganya." Papar Jingga memberi tahu, gadis itu masih sibuk men-scroll gallery nya untuk mencari foto Berlian yang dia screenshot. Entah untuk apa, tapi, saat ini ternyata cukup berguna.

"Kasian sekali, belum tentu semua itu keinginannya." Gumam Ansara sedih.

"Itulah manusia, An." Jawab Jingga.

"Bi, keluarga lo udah dapat kabar, Kak Rami kemana?" Ucap Rania, sambil menyeruput jus Mangga.

Bianca gelapan, ia terlihat gugup. "Belum ada perkembangan,"

"Dia gadis nakal, menghilang seperti ini, tidak akan membuat Papa mencarinya, kalau gue boleh jujur sama kalian." Tambahnya lagi.

Ansara menyerit bingung, memangnya ada orang tua di dunia ini yang tidak mengkhawatirkan anaknya sendiri?

"Hm, begitu." Jawab Rania singkat, sepertinya pertanyaan sedikit menyentil ego Bianca, dan membuat suasana mereka menjadi canggung.

"Ini Berlian, An." Jingga memberikan ponselnya pada Ansara.

Ansara menerima ponsel itu, dia memandang lama foto gadis yang sedang tersenyum tipis itu. Gadis itu adalah orang sama, dia adalah Kak Lian.

Ansara berdiri, dia memberikan ponsel Jingga dengan terburu-buru.

"Aku pamit duluan," Ansara berjalan dengan tergesa meninggalkan Kafetaria, membuat ketiga temannya menyerit bingung, apa Ansara mengenal Berlian?

Ansara menempelkan kartu aksesnya, dengan gemetar, bahkan kartu itu terjatuh berkali-kali.

Daren yang ada di dalam dibuat menyerit, karena suara pintu yang di akses, namun, tidak terbuka juga. Itu di sebabkan kartu tidak menempel dengan benar pada layarnya.

Daren menempelkan kartunya, ia melihat jika Ansara sudah berada di hadapannya, berdiri dengan tatapan yang tidak terbaca oleh Daren sama sekali.

"Sayang, ada apa?" Daren melangkah mendekat, ia hendak menyentuh bahu Ansara. Namun, gadis itu menghindar.

"Ada apa, An?" Tanya Daren bingung.

"Ayo masuk, kita bisa bicarakan baik-baik apa yang membuatmu, marah seperti ini, sayang." Ucap Daren, ia menggeser tubuh tegapnya memberi akses Ansara untuk masuk ke ruangan khusus Empat pilar.

The VillianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang