Obat bagi Daren

24 0 0
                                        

****

Ansara turun dari mobil milik keluarga Aldrich. Ia menatap dalam Mansion milik Daren, sangat indah dan luas. Namun, terasa aura yang sulit dijelaskan oleh Ansara.

Ansara menghembuskan napas pelan, sesuai janjinya dengan Hellena, hari ini Ansara mengunjungi Mansion Aldrich untuk menemui Daren.

Saat keluar dari lift, Ansara bisa melihat beberapa Dokter pribadi keluarga Aldrich termasuk Dokter Farla yang bertugas sebagai penanggung jawab kesehatan Ansara ada disini.

Hellena yang sedang meremas kedua jari tangannya, tersenyum saat melihat kehadiran Ansara.

"An, tolong, Mommy, Nak." Ucap Hellena tersedu-sedu. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menghentikan amarah Daren saat ini. Putra semata wayangnya itu, kembali mengamuk dan terus memanggil nama Ansara.

Ansara mengelus pelan bahu Hellena, "mom, biarkan An, masuk." Pinta Ansara dengan tenang.

Ia pernah menghadapi Daren yang seperti ini, dan, penyebab kambuhnya temperamental Daren saat itu karena Ansara yang meminta Daren untuk memilih Anindhya daripada dirinya.

"Maaf, merepotkan mu, Nak." Lirih Hellena.

Ansara menggeleng, "tidak sama sekali, Mom."

Ansara mengambil kunci yang diberikan oleh pelayan, ia memejamkan matanya sejenak. Lalu, memasukan kunci itu dan memutar kenop pintu kamar milik Daren. Setelah masuk, Ansara menutup pintu itu secara perlahan. Kamar dengan luas tiga kali dari kamar milik Ansara itu terasa begitu mencekam, ditambah Daren memang mengisi ruangan ini dengan dua warna kesukaannya Abu dan Hitam.

Dengan penerangan yang minim, Ansara yang sudah hafal tata letak kamar Daren segera melangkah mendekat pada sofa yang ada di dekat pintu balkon kamar tersebut. Semakin dekat, Ansara bisa melihat Daren. Laki-laki yang selalu berpenampilan rapih itu, kini terlihat sangat kacau dan berantakan.

Ansara menghapus kasar bulir bening yang membasahi pipinya, melihat Daren sekacau ini, membuat Ansara semakin merasa bersalah.

"Kak," lirih Ansara pelan. Namun, Daren diam tak bergeming. Laki-laki itu masih nyaman di posisinya, bersandar pada sofa panjang berwarna hitam. Ansara dapat melihat dengan jelas kedua mata yang selalu menatap tajam lawannya, sedang tertutup rapat saat ini. Daren yang sedang terlelap terlihat begitu tenang dan damai. Bahkan, dengan penampilan yang bisa dibilang kacau sekalipun, Daren masih tetap terlihat tampan dan dominan.

Ansara menjatuhkan diri, duduk disamping Daren. Melihat lengan laki-laki itu yang dipenuhi dengan balutan perban. Tangis Ansara pecah, dia merasa sangat bersalah, selama dia mengenal Daren, tidak pernah sekalipun, Daren menyakitinya. Laki-laki itu selalu memberikan hal yang terbaik untuk Ansara.

"Kak, jangan begini. Kamu buat aku merasa bersalah, Kak." Gumam Ansara. Dengan ragu, Ansara menyentuh wajah Daren yang terlihat pucat, bahkan bibir milik Daren yang biasanya selalu segar dan merah itu, kini terlihat kering.

"Kakak, memilih mati, An. Daripada hidup tanpamu." Ucap Daren pelan. Laki-laki itu masih tetap memejamkan matanya.

Suara tangisan Ansara semakin terdengar memilukan. Ia tidak tega melihat keadaan Daren saat ini.

"Ayo sembuh, Kak. Kamu bilang, akan menyelesaikan permainan ini secepat mungkin. Aku menunggunya, Kak." Jawab Ansara.

Daren tersenyum tipis, membuka kedua matanya. Ia mengangkat tangannya, untuk memegang wajah Ansara. Gadis kecil yang ia damba sejak kecil, gadis kecil yang membuat Daren mengerti apa itu senyuman dan pelukan penuh kasih sayang.

"Jangan pergi, An. Kakak mohon." Pinta Daren dengan suara serak dan beratnya.

Ansara menggeleng, "walaupun, kita tidak memiliki hubungan apapun. An, akan selalu disini, bersama kakak."

The VillianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang