****
Ansara melangkah memasuki lobby AHS. Ia mendongak keatas, senyuman tipis terbit dikedua sudut bibirnya, saat melihat Daren sedang menatapnya begitu dalam dan tajam. Ya, setelah absen hampir dua minggu, sang pewaris keluarga Aldrich kembali melakukan aktivitas seperti biasa.
Ansara menyerit, saat melihat luka sobek disudut bibir Daren. Ansara menaikan sebelah alisnya tanda bertanya, namun, Daren hanya menggeleng. Setelah itu ia kembali melangkah meninggalkan Ansara yang masih melihat kepergian Daren.
"Darimana, dia mendapatkan luka itu?" Gumam Ansara. Setelah menarik napas, Ansara kembali melangkah menuju kelas. Hari ini ada kelas khusus yang harus diikuti Ansara, kelas yang memang disiapkan hanya untuk Ansara dan Empat pilar. Tentu dengan waktu dan mata pelajaran yang berbeda.
Tanpa Ansara sadari, Daren tidak benar-benar pergi, ia masih berdiri disana hanya dihalangi sebuah pilar. Senyum tipis terbit dikedua sudut bibirnya, ia senang, Ansara-nya masih sama. Masih memperdulikan dirinya, dan itulah yang Daren inginkan.
Ia menghapus bercak darah disudut bibirnya, sembari menyeringai tipis. "Kali ini, aku memaafkanmu, Ares. Karena ini memang kesalahanku." Ucap Daren.
Louise mendorong tubuh Ares, laki-laki ber-headband itu duduk dengan napaa yang tersengal-sengal menahan emosi.
"Kau bisa bicara dengan Daren, secara baik-baik." Saran Louise. Ia memijat pelan keningnya, di pagi hari yang menurut Louise akan menyenangkan, justru ia harus memisahkan pertengkaran antara Ares dan Daren.
"Adik gue menangis, akibat rencana bodohnya. Demi apapun, Lou. Gue akan memaafkan hal apapun kecuali membuat Ansara terluka!" Ucap Ares kesal.
Louise mendesah, "aku paham, tapi, kau memukuli Daren dengan membabi buta. Dia tidak membalasnya, itu yang jadi masalah. Kau tahu, bagaimana keluarga Aldrich." Jawab Louise.
"Aku tahu, dan, aku akan mengambil resiko apapun, Lou!" Jawab Daren.
Kevin menaruh Tab miliknya, dia mengelus pelan dagunya. "Tidak perlu khawatir, Daren akan mengampuni Ares. Bagaimanapun, Ares adalah orang yang disayangi Ansara. Daren begitu mendamba Ansara, melukai orang yang disayangi Ansara, tidak akan dilakukan oleh Daren." Papar Kevin. Ya, hanya Kevin yang mampu memahami pola pikir dari pewaris tunggal Aldrich tersebut.
"Kuharap begitu," jawab Louise.
***
Ansara menaruh tumpukan buku miliknya pada bangku taman di AHS. Ia baru saja menyelesaikan kelas khususnya.
"Cukup melelahkan ternyata," keluh Ansara.
Cahaya silau, dari sebelah kananya membuat Ansara menutup wajahnya untuk menghalau cahaya tersebut mengenai mata miliknya.
Khazama menggoyangkan glossy paper, yang keluar dari kamera polaroid berwarna abu miliknya.
"Cantik." Puji Khazama, saat melihat foto candid Ansara yang berhasil dia abadikan. Khazama menjadi penasaran dengan gadis pencuri kameranya tersebut, apalagi setelah melakukan interaksi pertama kaliny dengan Ansara di ruangan teater.
"Tidak sopan, Kak!" Gerutu Ansara.
"Sorry, gue gak sengaja." Jawab Khazama tanpa rasa bersalah.
Ansara hanya diam, ia kembali menatap hamparan bunga mawar putih, yang ternanam rapih dan tumbuh dengan sangat baik di taman AHS.
Khazama mengalihkan pandangannya melihat Ansara. Gadis itu sangat cantik saat sedang tersenyum seperti saat ini.
"Kenapa, kakak suka warna abu-abu?" Tanya Ansara tiba-tiba.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villian
RomansaHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
