****
Ares yang sedang menonton pertandingan Baseball, terkejut saat melihat sang adik pulang dari sekolah sambil menangis tersedu-sedu. Laki-laki itu segera bangun untuk menghampiri adik kecilnya.
"Tyas! Biarkan Ansara bersamaku." Titah Ares. Ia merengkuh Ansara, memeluk dengan erat adik kecilnya itu.
Ares mengecup puncak kepala Ansara berkali-kali, "adik, apa yang membuatmu menangis sampai terdengar begitu menyakitkan, sayang." Tanya Ares lembut. Ia sudah mengelus punggung kecil Ansara, agar tangis adik kecilnya mereda.
"Katakan pada Abang, sayang. Siapa yang berani membuat adik kesayanganku bersedih hingga seperti ini." Sambung Ares kembali.
Ansara sesegukan, "Daren menghianatiku, bang! Dia tidak menyayangi, An, selama ini." Kata Ansara terbata-bata. Ia kembali menangis meraung.
Kedua tangan Ares mengepal dibelakang punggung Ansara, dia akan memberi Daren pelajaran karena membuat adik kecilnya sakit hati seperti ini. Ares sudah memperingatkan laki-laki itu untuk tidak gegabah dan berakhir melukai perasaan adik kesayangannya.
"Adik, kau tenang saja. Abang, akan memberi Daren pelajaran, karena membuatmu bersedih dan sakit hati!" Ucap Ares tertahan. Sungguh, saat ini Ares berusaha menahan mati-matian rasa kesalnya.
Ares merenggangkan dekapannya, ia memegang wajah Ansara, lalu tersenyum hangat. Wajah cantik adiknya kini sudah berubah kemerahan karena menangis.
Ares mengecup kedua mata Ansara, "jangan menangis lagi, Adikku. Aku akan menghajar Daren dengan kedua tanganku. Agar dia tahu, seberapa berharganya gadis yang dia buat menangis saat ini." Ujar Ares.
"Sekarang, adikku harus beristirahat agar tidak kelelahan." Ansara mengangguk. Ares menuntun Ansara untuk menaiki Lift menuju lantai dua mansion Mahatma.
***
Daren mengayunkan tongkat golf ditangannya dengan kuat, hingga menghancurkan beberapa guci milik Hellena. Teriakan keras Daren membuat seluruh penghuni Mansion menunduk ketakutan. Bahkan, beberapa pelayan wanita sudah gemetar seluruh tubuhnya. Akibat kemarahan tiba-tiba dari Tuan muda mereka.
"Sayang, Daren. Dengar Mommy, Nak." Kata Hellena. Ia mencoba memegang Daren agar amarah putra semata wayangnya itu mereda.
Tapi, Hellena langsung terhempas ketika Daren mendorongnya begitu kuat. James segera maju untuk membantu Nyonya besar berdiri.
"Tuan muda, saya harap hentikan amarah anda, Tuan. Anda bisa menyakiti Nyonya." Pinta James dengan hati-hati. Hidup bersama Daren sejak kecil membuat pria dengan tubuh kekar itu, paham akan watak sang Tuan.
Daren jatuh, dia menekuk kedua lututnya. Bahkan, Daren yang terkenal dengan sifat kejamnya itu meneteskan airmata.
Hellena menghampiri putranya lagi, ia merengkuh Daren kedalam dekapannya." Beritahu, Mommy, sayang. Apa yang membuatmu sekacau ini."
Daren meraung, ucapan Ansara terus terniang didalam pikirannya. Daren tidak ingin kehilang Ansara didalam hidupnya, Ansara adalah dunianya. Dia begitu mencintai Ansara, tidak akan ada perempuan lain dihatinya selain gadis kecil kesayangannya itu.
"Mom, bilang pada An, jika aku hanya mencintainya." Pinta Daren dengan pelan.
"Kau yang paling tahu, seberapa banyak aku menginginkan Ansara untuk hidupku, Mom." Lirih Daren kembali.
Hellena sudah menduga, kambuhnya amarah Daren pasti ada hubungannya dengan Ansara. Entah apa yang terjadi, sampai Daren bisa sekacau ini.
"Bilang padanya, Mom. Jangan tinggalkan aku! Bagaimana aku menjalani hidup jika tanpa Ansara, Mom." Hellena meneteskan airmatanya, dia tahu bagaimana putra semata wayangnya itu begitu besar mencintai Ansara.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villian
RomansaHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
