Walaupun ada banyak payung, aku tetap memilih kehujanan asal itu bersamamu.
***
Daren membenarkan letak kacamata hitamnya, ia terus memantau seluruh kegiatan Ansara sedari tadi. Gadis kecil itu begitu menggemaskan saat ini, namun, yang membuat Daren menahan kesal adalah Ansara tertawa saat berbincang dengan Baraga.
"James!" Panggil Daren.
Pria bertubuh besar itu menoleh ke belakang untuk melihat Tuan mudanya. "Ada apa Tuan muda?"
Daren mengetuk dagu pelan, "menurutmu siapa yang lebih tampan?" Tanya Daren, ia menatap tajam James. Seolah menyuruh pria itu menjawab dengan jujur.
James berdeham pelan, "tentu anda Tuan,"
Daren memandang penuh selidik, "kau tidak membodohiku kan?
James semakin menjadi gugup, "tentu tidak, Tuan muda."
Daren menggerakkan jarinya, setelah itu James menghela napas lega. Pertanyaan random dari majikannya membuat dia harus menahan napas beberapa saat.
"Tentu, tidak ada yang lebih pantas, selain diriku." Gumam Daren dengan percaya diri.
Ia melepas kacamata hitamnya, membuka jas sekolahnya. Cowok itu menggulun kemeja putihnya sampai bagian siku. Memperlihatkan tatto kecil bertuliskan nama Ansara Mahatma.
Ia berjalan mendekati Ansara dan Baraga, Daren rasa waktu bermain Ansara telah usai. Saat ini, waktunya kembali ke tempat yang seharusnya.
"Ansara," Panggil Daren.
Ansara dan Baraga menoleh secara bersamaan, saat mendengar suara serak milik Daren.
Daren mendengus kesal, melihat wajah mengesalkan Baraga.
"Kakak, kenapa tidak bilang, jika ingin kemari?" Ansara berjalan menghampiri Daren.
Daren menarik Ansara ke dalam dekapannya, menghirum aroma Vanilla kekasihnya. Ia menatap Baraga dan tersenyum mengejek. Baraga hanya diam, dia tahu pewaris tunggal keluarga Aldrich itu sedang merasa cemburu dan takut tersaingi oleh dirinya.
"Kau takut?" Ucap Baraga menggerakkan bibirnya. Ia lalu tersenyum miring menjawab ledekan yang di beri Daren.
Ansara mengurai dekapan Daren, ia tersenyum manis. "Apa sudah waktunya kembali?" Ucapnya, ia menunduk sedih.
Daren menghela napas, Ansara-nya selalu tahu kelemahan dari Daren.
"Kau masih ingin disini?" Ansara mengangguk cepat. Daren diam, ia memandang sekitar. Suasana yang asing, namun, Daren merasa kehangatan di dalamnya.
"Kalau lo takut alergi, mending lo tunggu aja didalam mobil mewah lo itu!" Sindir Baraga, cowok itu sudah duduk lesehan bersama Ayrin dan Aiman. Yang kembali merakit Otok Otok untuk Ansara.
Ansara memandang waja kekasihnya itu, ia tahu Daren mungkin akan sulit beradaptasi di tempat seperti ini.
Daren mengenggam tangan Ansara, menarik gadis itu untuk duduk bergabung dengan Baraga.
"Tidak masalah, selama ada Ansara-ku." Ucap Daren penuh penekanan. Ansara tersenyum mendengar ucapan manis dari kekasihnya itu.
Baraga berdecih, "lihat seberapa lama, anak manja sepertimu, bertahan di tempat kumuh seperti ini." Tantang Baraga.
"Lihat saja, dan, berhenti berbicara, Baraga!" Sahut Daren kesal. Ansara hanya menggeleng pelan melihat pertikaian antara keduanya.
***
Ares sudah bersiap memukul bola yang akan dilemparkan oleh Pitcher, ia sudah bersiap mengayunkan tongkat baseball kesayangannya. Pukulan ini adalah penentu untuk kemenangan AHS di laga pertandingan persahabatan, hanya 1 poin lagi, AHS akan mengantongi kemenangan dengan mendapatkan 9 innings terlebih dahulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villian
RomansaHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
