Alergi

24 0 0
                                        

****

Kevin memandang sebuah rumah dengan lantai dua itu dengan tajam, dia tersenyum miring saat mengingat dulu tempat ini adalah tempat yang paling sering ia kunjungi. Rumah dari Qianna Manggala, mantan kekasihnya. Ya, saat ini status itu tepat untuk Kevin dan Qianna.

Kevin menyipitkan mata, saat melihat ada gadis yang sedang duduk di kursi roda. Rumah ini sudah hampir dua tahun, tidak ditempati. Namun, pagi ini. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika rumah putih itu kembali di huni.

Kevin memajukan mobil, untuk berhenti tepat di gerbang utama rumah tersebut. Ia turun lalu membenarkan sedikit letak kerah pada kemeja putihnya, saat melihat sekitar benar terdapat seseorang yang sedang menyusun beberapa bunga mawar merah ke dalam pot di atas meja.

Ia semakin penasaran, saat orang itu berbalik. Kevin merasa jantungnya berdetak dengan cepat, ia melihat disana ada Qianna. Benar gadis yang masih terlihat cantik walaupun sedikit lebih kurus dan pucat.

Kevin membuka gerbang itu dengan kuat, menimbulkan suara yang lumayan bisa terdengar oleh Qianna.

Qianna diam membisu, saat beberapa meter hadapannya berdiri, seorang laki-laki yang saat ia cintai hingga saat ini. Airmata nya terjatuh dengan tidak di tertahan, mengalir dengan deras membasahi pipi tirus gadis tersebut.

"Ke--vin,," lirih Qianna pelan.

Kevin menarik napas pelan, lalu berjalan melangkah mendekat kearah Qianna.

"Hai, Ki. Apa kabar?" Tanya Kevin datar.

"Ke--vin,," ucap Qianna lagi.

"Ya, ini aku. Kenapa?"

Qianna memutar kursi rodanya dengan cepat, mencoba bergegas untuk memasuki rumahnya.

Kevin diam tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya, ia tidak akan memaksa setidaknya Qianna ada di radius yang dekat dengannya. Ia tersenyum tipis, ia merasa sudah hilang akal.

"Tidak masalah, kita masih memiliki waktu yang cukup banyak, untuk membahas kepergianmu selama ini." Ucap Kevin memandang kepergian Qianna.

***

Sisil sedang menyisir pelan helai demi helai, Surai lembut nan panjang milik Ansara. Biasanya mereka akan mengobrol banyak hal, tapi, saat ini kembali seperti biasa hubungan antara majikan dan bawahan. Daren terus memandang Ansara tanpa henti sedetikpun, membuat Sisil merasa canggung, wanita itu takut melakukan kesalahan yang berakibat Tuan mudanya marah.

"Nona muda, Sudah selesai. Anda terlihat sangat cantik pagi ini," ucap Sisil formal. Membuat Ansara hanya tersenyum sambil menutup mulut dengan kedua tangannya, untuk meledek Sisil.

"Ada apa sayang?" Tanya Daren tiba-tiba.

Ansara menyengir, "tidak ada, Kak."

"Bagaimana apa Ansara cantik pagi ini?" Tanya Ansara yang sudah berdiri dihadapan Daren.

Daren berdiri dari duduknya, "cantik, selalu cantik." Ia membubuhkan satu kecupan di puncak kepala Ansara.

"Apa kegiatanmu hari ini?" Tanya Daren, sambil mengelus pipi sebelah kanan Ansara.

"Hari ini, An, ingin membuat kue bolu labu kukus. Bolehkan?" Ucap Ansara meminta izin.

"Siapa yang membantu?" Ujar Daren.

"Mommy dan Tyas. Nanti, kakak harus jadi orang pertama yang mencoba ya," pinta gadis itu.

"Tentu, kalau begitu, ayo sarapan. Setelah itu kakak ada beberapa urusan dengan James. Setelah selesai, kakak segera kemari." Ucap Daren, ia mengecup jemari Ansara.

The VillianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang