****
Petugas yang datang, segera membawa jasad milik Rania yang sudah membiru. Jika dilihat dari waktu kepergian gadis berambut Bob itu untuk pergi ke toilet, sangat tidak wajar. Bagaimana bisa tubuhnya sudah membiru dan mengeluarkan bau tidak sedap seperti sudah meninggal beberapa hari lalu.
Ansara terus menangis di dalam dekapan Daren, ia menyesal karena tidak menemani Rania untuk pergi ke toilet. Andai saja, ia menemani Rania, semua ini tidak akan terjadi.
"Ini salah, An, kak." Rengek Ansara. Gadis itu masih menangis dengan tersedu-sedu.
Daren mengelus pelan kepala Ansara, "tidak, sayang. Ini takdir, kita tidak tahu kapan seseorang akan pergi." Jawab Daren. Ia mencoba menenangkan Ansara, Daren tidak perduli dengan kematian Rania. Yang ia pedulikan adalah keadaan Ansara, jika gadis kecilnya terus menangis, akan membuat Ansara kesakitan karena kesulitan bernapas.
Jingga dan Bianca saling mendekap, memberi kekuatan satu sama lain. Bagaimanapun mereka bertiga sudah menjalin pertemanan sejak di bangku sekolah menengah pertama, kepergian Rania yang tiba tiba dan janggal, meninggalkan luka dan kesedihan yang mendalam bagi keduanya.
Daren menggeser tubuhnya, menaruh kepala Ansara pada bantal yang ada di sofa. Dia harus mengangkat telepon dari James.
Daren berdiri, menghadap jendela dengan desain seluruhnya terbuat dari kaca.
"Bagaimana James?" Tanya Daren.
Daren mengeram, "bilang pada keluarga Maulana, jika kita akan memberikan kompensasi berupa uang duka. Ini bukan kelalaian sekolah! Gadis itu pemakai obat obatan terlarang."
"Jika mereka masih ingin mengusut lebih dalam, silahkan! Tapi, jangan salah kita, jika nama baik keluarga mereka akan hancur, setelah fakta yang sebenarnya terungkap." Sambung Daren kembali.
"Dengar James, tidak perlu memberitahu Fransisco dan Mommy. Aku masih bisa mengatasi masalah kecil ini." Setelah itu Daren mematikan sambungan tersebut, tanpa menunggu jawaban dari James.
"Menyusahkan saja!" Umpat Daren.
Dering ponselnya kembali menarik atensi Daren, ia kembali mengambil ponsel di dalam kemeja sekolahnya.
Memandang gambar yang di kirim oleh Kevin, Ia tersenyum miring. Apa mungkin, kali ini permainan berakhir lebih cepat dari dugaannya.
***
Daren memasuki markas Empat pilar yang berada di dalam hutan. Dia berjalan di dampingi oleh James dan Mark. Ya, pria bertubuh kekar yang merupakan pengawal pribadi yang di khususkan menjaga Ansara. Kini, sudah kembali setelah menyelesaikan tugas Negara menjaga Merlin. Harimau besar milik Ansara yang ada di kediaman Aldrich.
Daren menempelkan kartu aksesnya, lalu pintu di dengan otomatis langsung terbuka. Didalam sudah ada ketiga sahabatnya.
"Bagaimana, sudah memeriksa itu obat apa?" Tanya Daren. Ia menjatuhkan diri pada salah satu sofa, di samping Ares.
Kevin mencebikan bibirnya, "belum, butuh proses sekitar 3 sampai 4 jam, mungkin."
"Dimana kau mendapatkannya?" Ucap Daren bertanya. Ia mematik api untuk membakar rokok yang ada disela jarinya.
"Toilet, di dekat jasad gadis keluarga Maulana itu." Jawab Kevin. Laki-laki itu kembali sibuk dengan kegiatannya menonton beberapa video pemotongan daging.
"Kemungkinan, gadis itu mengkonsumsi obat tersebut secara berkelanjutan dan berlebihan." Ucap Louise memberikan opini.
Louise kembali menggeser beberapa foto dari jasad Rania, ya laki-laki penyuka minyak telon itu, berhasil mendapatkan beberapa gambar dari jasad Rania.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villian
Storie d'amoreHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
