Rania?

12 0 0
                                        

****

Lapangan indoor begitu riuh, suara sorak dan tepuk tangan memenuhi ruangan saat ini. Ya, kali ini ada pertandingan antara AHS dan SHS. Pertandingan persahabatan cabang olahraga Volley.

Ansara duduk di Tribune khusus bersama ketiga temannya, Ramitha, Tasya dan 3 anggota Empat pilar. Karena saat ini Daren sedang bertanding di lapangan.

Tasya hanya memandang Bianca dengan sengit, bagaimana bisa Louise jatuh cinta dengan perempuan licik seperti Bianca Bramantyo! Gadis yang di pandangi dengan sengit oleh Tasya itu, hanya tersenyum meledek Tasya. Seolah mengatakan pada gadis dengan aksesoris penuh gelang ditangannya itu, bahwa dia adalah pemenangnya.

Di seberang, ada Baraga yang duduk santai mengangkat sebelah kakinya untuk berpijak pada kursi yang laki-laki itu duduki, ia memandang Ansara dengan seksama dan lekat. Gadis kecil berbandana merah muda, sangat manis dan cantik sekali. Senyuman yang terbit dari kedua sudut bibirnya, menular pada mata yang melihatnya, garis melengkung nan indah ciptaan sang penentu.

"Cantik." Baraga menoleh, pada suara yang ada di sebelahnya.

"Bastard!" Umpat Baraga.

Khazama menghisap Vape miliknya kuat, "kenapa? Gue mengagumi kecantikan, putri bungsu Mahatma. Salah?" Ujar Khazama.

"Manusia kayak lo, mengagumi? It's bullshit!" Umpat Baraga.

Khazama terkekeh keras, ia membuang asal tangkai lolipop dari mulutnya.

"Lo serius amat, Ga. Kita kan pernah jadi teman," Khazama mengerlingkan mata meledek Baraga.

"Sekarang, sudah tidak. Mahawira Khazama!" Baraga berdiri, meninggalkan Tribune. Berada di dekat Khazama memang begitu menguras emosi.

Rania merogoh saku kemeja putihnya, ia tersenyum samar setelah melihat pesan didalam ponsel miliknya.

"An, gue pergi dulu ya. Kebelet nih tiba tiba," bisik Rania.

Ansara mengangguk, "iya, Ran. Mau ditemani?" Usul Ansara. Gadis kecil itu sudah ingin berdiri. Namun, Rania menekan pelan bahu Ansara.

"Tidak perlu, hanya sebentar." Tolak Rania.

"Hati- hati, Ran." Rania mengacungkan jempol saat mendengar ucapan Ansara.

"Mau kemana dia?" Tanya Kevin, yang kebetulan duduk di samping Ansara.

"Kamar kecil, Bang." Jawab Ansara.

Kevin mengangguk. Tapi, atensinya melihat keseluruh ruangan indoor ini. Sampai mata tegas itu, melihat ke arah depan tempat duduknya bersama Ansara. Senyuman menyeramkan nan dingin itu, keluar dari sudut bibir laki-laki keturunan Adtmaja itu.

"Kali ini, target yang diberikan, Daren. Terlihat lebih menantang!" Ucapnya dalam hati.

Khazama menghisap Vape-nya, dia ikut bangkit setelah melihat kepergian Rania Maulana. Tadi pagi, gadis itu mengiriminya pesan, dia mengetahui siapa yang mengambil kamera pocket milik Khazama.

***

Baraga mencoba memejamkan mata, menghilangkan seluruh gundah yang melanda perasaan serta pikirannya. Dia membuka kembali kedua matanya, menerawang langit cerah siang ini.

"Bun, maaf. Raga gagal sebagai anak untuk bunda dan sebagai kakak untuk Berlian." Ucapnya lirih. Bulir bening itu mencoba ia tahan agar tidak jatuh dan membasahi pipi.

"Sekarang lo bisa tenang, Lian. Pembunuh dan pemerkosa lo, udah di tangkap. Lo senang kan?" Monolog Baraga kembali.

Suara pintu di buka membuat Baraga terdiam, dia merasakan langkah kaki menatapi Rooftop gedung B.

The VillianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang