Mantra Cinta

21 0 0
                                        

****

Ramitha masuk ke ruangan khusus Empat pilar. Gadis itu menunduk bertumpu dengan dua tangan yang ada di lututnya. Napasnya memburu seperti habis berlari marathon.

Ares berdiri, menghampiri gadis yang pernah menjadi kekasihnya itu. Memberikan sebotol air mineral untuk Ramitha, agar napas gadis itu kembali normal kembali.

Louise menyerit heran, "kenapa, Rami?" Ucap Louise dengan penasaran.

"Bu Carolina, ditemukan tak bernyawa di ruangan kesenian, oleh petugas kebersihan tadi pagi." Ungkap Ramitha.

Semua atensi mengarah melihat Kevin, kecuali Daren. Laki-laki itu masih sibuk dengan ponsel digenggamnya bertukar pesan dengan Ansara.

"Kenapa? Kalian memandangku seperti tersangka?" Seru Kevin santai.

Louise menepuk jidatnya pelan, "kau tidak sedih? Dia kan kekasihmu." Jawab Louise.

"Aku sudah mengakhiri segalanya," sahut Kevin dengan tenang.

"Setidaknya, berdukalah untuk kematian Carolina." Sindir Louise. Ia memutar bola matanya kesal. Masih tetap mencurigai Kevin sebagai pelaku utamanya.

Daren berdiri, lalu berjalan pada kaca besar yang menampakkan bagaimana luasnya AHS. Ia menurunkan pandangannya, saat melihat beberapa mobil Polisi memasuki pekarangan AHS. Serta, kepala sekolah yang sibuk melakukan klarifikasi atas penemuan mayat Carolina pagi ini.

Daren menatap datar tanpa ekspresi. Namun, sedetik kemudian, seringai tipis muncul disudut bibirnya. Bukan, Kevin. Tapi, Daren lah pelakunya, dia yang menyuruh Kevin menghabisi nyawa guru muda itu. Karena wanita itu mencuri kartu akses milik Ansara yang terjatuh kemarin, setelah mengobati Daren.

Dan, dengan lancangnya, ia memasuki ruangan tersebut dimana Daren masih ada didalamnya tak segan-segan wanita itu mencoba menggoda Daren. Daren tidak menyukai kelancangan! Wanita gila harta seperti Carolina akan lebih baik mati. Daren memberi Kevin pilihan, untuk memilih Carolina atau Jingga. Dan, putra dari keluarga Adtmaja itu dengan lantang tetap memilih gadis berkacamata-nya. Serta, menerima tugas dari Daren untuk menghabisi nyawa wanita yang menjadi kekasih gelapnya itu.

Pernah dengar? Yang diam itu yang berbahaya! Dan, itulah Hugo Darendra Aldrich. Dia tidak suka ada yang melanggar aturannya! Pengeculian itu hanya untuk gadis kecil dengan bandana merah mudanya, yaitu Ansara Mahatma. Kesalahan apapun akan Daren maafkan, asalkan gadis itu selalu berada disampingnya.

"Kasian, Carolina." Kata Ares.

Daren menoleh untuk melihat kakak dari sang kekasihnya itu. Ya, walaupun Ansara belum menerima kembalinya hubungan keduanya, bagi Daren mereka tetap akan bersama.

"Sudah waktunya, tidak perlu diperpanjang." Sahut Daren.

Semua diam setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Daren.

"Bagaimana, sudah hampir selesai?" Tanya Daren pada Louise.

Louise mengacungkan dua jempolnya, "sebentar lagi, kenapa? Mau sedikit mengguncang media?" Tawar Louise, laki-laki itu masih mengunyah permen karetnya dengan cepat. Membuat ia berteriak kaget saat tak sengaja menggigit, mulut bagian dalamnya.

"Mampus!" Umpat Ramitha.

"Asu, Kowe, cok!" Balas Louise.

Daren menggeleng pelan, "tidak! Rapihkan saja semuanya, sebelum pertunanganku dengan Ansara. Kita akan menyelesaikan seluruh keluarga Rome!" Perintah Daren, mereka yang ada didalam ruangan itu mengangguk secara bersamaan.

Saat ini Ares dan Daren berdiri bersisihan, diatas Rooftop gedung A. Setelah menyelesaikan kelas khusus mereka. Daren menghisap rokok miliknya dengan kuat namun terlihat sangat tenang.

The VillianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang