***
"Kak Raga!!" Panggil Ansara keras.
Baraga yang sedang berjalan memasuki lobby dengan Ilham pun menoleh, ia tersenyum tipis bahkan sangat tipis.
Ansara berjalan mendekati keduanya, ia sedikit merasa risih dengan tatapan Ilham yang melihatnya seperti menilai dari atas hingga bawah.
"Ada apa Ansara?" Tanya Baraga.
Ansara meremas kedua tangannya pelan, "Kak Raga, punya waktu luang siang ini?" Ujar Ansara.
Baraga tersenyum, ia tahu Ansara sedang gugup untuk berbicara pada nya saat ini.
"Tidak,"
"Ada apa?" Tambahnya lagi.
"An, ingin mengunjungi Ayrin, Kak." Ucap Ansara menyampaikan keinginannya sejak kemarin, karena tidak memiliki nomor ponsel Baraga dan laki-laki itu memang jarang terlihat di lingkungan sekolah membuat Ansara mengurungkan niatnya.
"Boleh, pulang sekolah. Bagaimana?"
Ansara mengangguk, "baik, Kak. Sampai berjumpa kembali, nanti siang," Ansara tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Baraga.
Baraga tidak melepaskan pandangan untuk melihat setiap langkah kecil Ansara, ia bahkan tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Suka, sama dia?" Tanya Ilham.
"Ya, dia cantik. Bahkan, kata cantik tidak bisa mendefinisikan seorang Ansara Mahatma." Baraga melangkah meninggalkan Ilham yang masih diam di tempat.
Ilham tersenyum miring, "ya, gadis itu memang menarik. Dan, menggoda." Gumam Ilham. Tak lama, laki-laki itu langsung melangkah untuk menyusul Beraga.
"Lo biarin adik gue, masuk ke lingkungan mereka?" Tanya Ares sebal, melihat Daren yang hanya diam.
Daren terdiam, ia lalu menoleh pada Ares.
"Iya, sesuai keinginan, Ansara." Jawab Daren.
"Bodoh! Lo mau adik gue kenapa kenapa!" Sentak Ares marah.
"Tidak akan, tidak ada yang boleh menyakiti Ansara. Siapapun itu," jawab Daren tenang, ia tidak akan terpancing dengan amarah Ares saat ini.
"Ansara tahu apa yang dia lakukan. Dan, aku percaya gadisku adalah gadis yang pintar, memberikan kepercayaan padanya tidak terlihat buruk." Papar Daren menjelaskan secara singkat pada Ares.
"Res, benar kata Daren. Ansara, harus bisa mengerti kondisi lingkungannya. Agar untuk kedepannya, dia sudah terbiasa." Ujar Kevin menyetujui ucapan Daren.
"Terserah! Jika adikku terkena masalah,"
"Lo orang pertama, yang akan gue hancurin, Ren!" Ares menabrak bahu Daren, berlalu meninggalkan Daren dan Kevin.
"Dia hanya emosi, tidak perlu khawatir." Kata Kevin menenangkan keadaan.
"Tidak, Ansara akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Ansara tahu kemana dia harus kembali, setelah senang bermain-main." Jawab Daren.
"Tentu, Ansara hanya milikmu seorang." Jawab Kevin. Lalu, keduanya diam tanpa suara, sibuk dengan pikiran dan rencana-rencana selanjutnya akan apa dan bagaimana.
***
Kafetaria pagi ini heboh, gadis yang hampir dua bulan hilang saat acara perkemahan, kini kembali dengan rambut ikal merah yang merupakan ciri khas gadis bernama Ramitha Utama.
"RAMIIII!!!!" Teriak Tasya senang, ia berlari meninggalkan Anindhya di depan pintu masuk. Anindhya menegang hampir seluruh tubuhnya membeku, bagaimana tidak, gadis yang di habisi Ilham malam itu, kini ada di hadapannya, memandangnya dengan senyuman miring yang sangat mengesalkan di mata Anindhya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villian
RomantikHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
