***
Kematian misterius yang menimpa kepala sekolah AHS, kini sudah mulai redup. Desas desus itu sudah tidak terdengar lagi. Semua berjalan normal seperti biasa, seperti sebelum ada kejadian di malam pesta tahunan yang di gelar oleh Empat pilar.
Ansara, Bianca dan Jingga sedang menikmati waktu istirahat dengan makan dan bersantai di Kafetaria. Rania hari ini tidak masuk sekolah, gadis dengan rambut Bob itu bilang, jika sedang ada acara keluarga di luar kota.
"An, sebentar lagi kelulusan kelas dua belas, sekaligus liburan kenaikan kelas kita, lo udah ada rencana liburan kemana?" Tanya Jingga. Gadis itu memasukan sesuap bakso ke dalam mulutnya.
"An, berencana untuk melihat Aurora bersama Kak Daren." Jawab Ansara. Gadis kecil itu sedang menikmati sekotak susu Vanilla.
"Emang bukan main sih." Decak kagum Jingga pada kehidupan Ansara.
Ansara hanya tersenyum, gadis kecil itu masih sibuk menikmati susu Vanilla-nya.
Ramitha dan Tasya berdiri di hadapan Ansara dan teman temannya.
"Hai, An." Sapa Ramitha. Gadis berambut merah ikal itu, mengambil posisi duduk di samping Ansara. Menarik tangan Tasya untuk ikut bergabung dengannya.
"Ini, Tasya. Tunangan Louise," ucap Ramitha, mengenalkan sahabat kecilnya pada Ansara.
Ramitha menatap Bianca dengan sengit dan penuh dendam. Gadis licik ini pasti memanfaatkan kedekatannya dengan Ansara saat ini. Dan, Ramitha tidak akan membiarkan hal tersebut.
"An, Daren bilang sama gue, mulai sekarang selama lo di sekolah, lo harus berada di radius yang berdekatan sama gue." Ujar Ramitha menjelaskan kedatangannya menemui Ansara.
Ramitha akan melakukan apapun, untuk membalas segala kebaikan yang di berikan Ansara. Salah satunya, menjauhkan Ansara dari gadis gila seperti Bianca.
"Kenapa begitu, Kak?" Tanya Ansara bingung.
Ramitha tersenyum mengejek, menatap Bianca. "An, Kita tidak akan tahu, bahaya itu ada dimana. Jadi, itu adalah tugas gue untuk mengantisipasi hal tersebut, terjadi sama lo." Jelas Ramitha. Dia tersenyum puas dalam hati, melihat wajah memerah Bianca.
Ansara mengangguk, gadis itu tersenyum tipis. " Terimakasih, Kak."
"Sama sama, An. Oh, ya. Gue cuma mau bilang itu aja, karena gue sama Tasya ada jadwal latihan Cheers. Kalau ada masalah lo kabarin gue aja, An." Ujar Ramitha.
"Iya, Kak. Tenang saja, An, akan baik-baik saja." Jawab Ansara.
"Ramitha sialan! Lihat saja, sekuat apa kau bisa melindungi gadis bodoh ini." Ucap Bianca dalam hati.
***
Daren menopang dagu dengan sebelah tangannya, ia melihat dengan seksama rekaman CCTV pada komputer milik Louise. Cowok itu menyenderkan tubuhnya pada kursi.
Jika dilihat dari bulan, ini memang tepat dengan bulan kejadian penembakan yang dilakukan seseorang pada Daren. Namun, mereka tidak berhasil membunuh Daren, karena seorang gadis menghalanginya, dan, membuat dirinya yang menjadi korban dari penembakan tersebut.
"Enigma apa lagi kali ini?" Pikir Daren dalam hati.
Daren terus menekan Mouse di sebelah tangannya, ia terus melihat semua rekaman CCTV itu dengan seksama dan lebih teliti lagi.
"Bajingan mana, yang ingin membunuhku!" Geram Daren.
Namun, gerakan tangan Daren memperlambat rekaman itu pada menit setelah kepergian Kevin. Ya, terlihat sangat samar jika ada orang lain di balik tumpukan kardus di sebelah pintu masuk Rooftop.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villian
RomanceHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
