***
Ares membuat pola pola absurd pada jendela kaca, tempat Capella bekerja part-time. Rintik gerimis membasahi bumi malam ini, membuat suasana yang seharian tadi panas karena terik matahari. Kini, menjadi sejuk dan dingin karena jatuhnya bulir bulir air dari langit hitam.
Ia merogoh saku celana, mengambil ponsel yang bergetar. Kedua sudut bibirnya, terangkat menampilkan senyuman tipis yang sungguh menawan. Membuat beberapa gadis di dalam ruangan ini teriak histeris, mengagumi ketampanan pewaris utama keluarga Mahatma tersebut.
Ansara mengirimi gambar roti panggang. Dan, yang membuat Ares tersenyum adalah adik kecilnya itu, selalu mengingat Ares dimanapun ia berada, makanan apa yang ia coba, gadis itu tidak akan lupa untuk membelikan Ares, dan mencoba setiap makanan yang menurut Ansara itu nikmat.
"Abang harus mencobanya, Kak Daren bilang nilainya hanya 6/10. Lidahnya bermasalah, Bang. Abang harus mencoba nya dan berkata jujur pada, An. Tentang rasanya ya!"
Ares tertawa kecil melihat pesan sang adik, selalu seperti itu kalimat yang akan ia kirimkan pada Ares. Ansara-nya selalu menggemaskan!
Saat mengalihkan atensi untuk melihat sang kekasih. Ares mengepal kesal kedua tangannya, dia berdiri menghampiri Capella yang di ganggu oleh dua laki-laki seusia dengan dirinya.
"Berapa nomornya?" Itulah kalimat yang samar samar di dengar oleh Ares.
"Dia kerja disini, jangan di ganggu!" Sahut Ares datar.
Laki-laki itu berdiri, mendorong Ares dengan kuat. Untung saja, tubuh besar Ares hanya bergerak sedikit.
Ares menangkis tangan, yang hendak melayangkan tinju pada wajahnya. Memutar tubuh laki-laki itu, dan membawa tangan laki-laki itu kebelakang tubuhnya sendiri.
"SAAA--KITTTT!!!!" Teriaknya. Ares semakin menekan kedalam tangan lemas itu.
"LEEEPAASSSS, BANGGGSAT!!!" Sambungnya kembali.
Ares menghempaskan tubuh itu dengan kasar, Ia menepuk kedua tangannya. Menatap tajam laki-laki yang sudah terjatuh dilantai itu.
"Bilang bokap lo, tender di bagian selatan milik bokap lo. Gak akan dapat satu persen pun investasi dari keluarga gue ataupun Aldrich!" Ujar Ares marah.
Laki-laki itu diam mematung, ia sangat tahu proyek yang diucapkan laki-laki bertubuh tegap di hadapannya itu adalah proyek yang belasan tahun di impikan oleh keluarga besarnya.
"Antares Mahatma," lirih laki-laki itu.
Ares terkekeh, "ya, itu gue."
"Selamat menikmati hidup. Dan, berteman dengan kemiskinan!" Sahut Ares. Ia segera menarik Capella, untuk pergi dari sana.
Laki-laki itu berteriak kesal, membuat dirinya menjadi tontonan khalayak ramai.
"Sial!!! Sial!!!" Teriaknya marah.
Ares membawa Capella untuk keluar dari Cafe, ia merogoh saku celananya mengambil sekotak rokok, mematik api untuk membakar benda itu, menghisapnya dengan kuat.
Capella menutup hidung, "Lo mau mati, merokok terus!" Seru Capella kesal.
"Bangsat tuh cowok!" Umpat Ares. Jujur, ia sungguh kesal dengan laki-laki itu. Anak dari kolega bisnis sang Ayah.
"Udahlah, Res. Gue udah biasa, orang berduit emang suka gitu kan?" Ucap Capella.
Ares menatap tajam kekasihnya itu, "gak semua, Ella."
"Gue gak gitu," sambungnya lagi.
Capella tertawa, "anceman lo tadi, namanya apa Res?" Tanya Capella.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villian
RomansHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
