****
Kepulan asap memenuhi ruangan terbengkalai dan pengap, seorang laki-laki duduk di atas meja sambil mengayunkan kaki nya santai. Tak lupa dengar beberapa kali suara siulan yang menggema di ruangan tersebut.
Suara pintu terbuka, mengalihkan atensinya. Ia tersenyum miring saat melihat gadis dengan model Bob datang menemuinya.
"Kasih gue obatnya!" Ucap Rania.
"Gue butuh, gue gak bisa fokus belajar, kalau gak di dorong sama obat itu." Tambahnya kembali.
Laki-laki berlencana merah itu tertawa kecil, membuang puntung rokok lalu menginjak keras menggunakan kakinya.
"Kalau gue gak mau kasih gimana?" Ujar Khazama. Ia mencoba memainkan emosi dari Rania Maulana.
Rania mendelik tak suka, "brengsek sih Lo, Ma!" Hardiknya.
"Rania, dengar. Gue gak mau kasih orang yang ceroboh seperti lo lagi!" Jawab Khazama.
"Lo lihat sendiri menggunakan mata kepala lo, gimana Ilham di tangkap karena kebodohannya. Kali ini, gue gak akan biarin, hal seperti itu terjadi kembali." Sambung Khazama.
"Lo yang paling tahu, siapa yang membongkar. Gue gak mau mereka curiga, kalau lo di dopping dengan obat obatan, jadi selamat mecari produsen baru." Tambahnya lagi.
Khazama menepuk pipi Rania pelan, "Masalah nilai lo turun, dan berakhir di siksa sama bokap lo, itu bukan urusan gue." Laki-laki memasukan kedua tangannya pada saku celana, berlalu meninggalkan Rania sendirian.
Rania berteriak marah, dia bahkan mendorong sebuah meja sampai terbalik dan jatuh, mengeluarkan suara dentuman yang amat keras dan nyaring.
"Gue gak mau mati! Gue gak mau di buang, karena cuma dengan gue berprestasi di sekolah, bokap gak akan pilih kasih lagi." Ucapnya lirih.
***
Ansara mengetuk pulpen berwarna merah muda di dagunya, ia sedang berusaha menyelesaikan soal fisika di hadapannya saat ini.
Daren melirik sejenak, melihat aktivitas apa yang sedang dilakukan sang kekasih.
Daren tersenyum tipis, saat melihat bibir mungil Ansara mencurut seperti anak bebek. Gadisnya pasti sedang kesusahan mengerjakan beberapa soal yang menjadi tugas rumahnya.
"Ada apa sayang?" Tanya Daren. Cowok itu berjalan, berdiri di belakang Ansara, melihat beberapa soal yang belum di selesaikan oleh sang Kekasih.
Ansara mendesah, "kak, An, kok gak bisa sepintar Bang Ares dan Kakak?" Tanya Ansara lesu.
Daren tersenyum tipis, ia mengelus pelan kepala Ansara. "Sayang, kepintaran bukan sebuah tolak ukur. Tidak perlu berpikiran yang tidak tidak, kerjakan apa yang kau bisa, tidak perlu memaksakan harus selesai saat itu juga, semua butuh proses, sayangku." Ujar Daren. Ia tidak ingin Ansara merasa bersedih.
Ansara tersenyum, "apa kakak bangga pada, Ansara?"
Daren memeluk Ansara dari belakang, menciumi pipi gadis kecilnya itu berkali-kali.
"Tentu, kau adalah kesayanganku, Ansara." Jawab Daren.
"Apapun keadaanmu, kau adalah hal penting bagiku. Tidak perlu bersusah payah untuk hal apapun, sayang." Sambung Daren kembali.
Ansara menoleh, melihat garis wajah tampan milik sang kekasih. Ia tersenyum tipis, lalu, mendaratkan satu kecupan di pipi Daren. "Terimakasih, Tuan muda Aldrich." Ucap Ansara sambil terkekeh.
"Kak!"
"Ada apa?"
Ansara memanyunkan bibir, dia ingin bercerita tentang hal yang dia alami saat di ruangan ganti, setelah selesai latihan Ballerina kemarin sore.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villian
RomanceHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
