Putus?

13 0 0
                                        

****

Daren menghisap rokok yang ada disela jarinya, ia berdiri bersandar pada mobil hitam "Bugatti" miliknya. Ia sedang menunggu seseorang yang akan menemuinya untuk memberikan rekaman CCTV kediaman Rome.

"Lama sekali!" Keluh Daren. Saat ia melihat jam tangan yang melingkar di tangan kekarnya, ia melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, untuk mengintai keadaan sekitar.

Tak lama dapat Daren lihat, seorang pria berlari kearahnya. Daren menarik sedikit sudut bibirnya.

"Maaf, Tuan muda. Saya terlambat, Rome menyuruh saya membersihkan mobil dahulu." Papar pria itu.

Daren mengibaskan tangan, ia tak mau mendengar alasan apapun. Ia secara menodongkan tangannya, meminta rekaman yang dia inginkan.

Pria itu segera mengambil CD yang ada dibalik baju kemejanya, lalu, segera menyerahkan benda itu pada Daren.

"Bagus, bonusmu akan kukirim." Ucap Daren. Pria itu hanya mengulas senyum mendengar pujian yang dilontarkan oleh Pewaris keluarga Aldrich.

"Terimakasih banyak, Tuan muda." Ia membungkuk memberi hormat pada Daren.

"Pergilah!" Titah Daren.

Pria itu membungkuk sekali lagi, dan berbalik untuk kembali pada kediaman Rome.

"Sedikit lagi, permainan akan terlihat lebih sempurna." Gumam Daren pelan. Ia segera menggunakan kembali kacamata hitamnya, lalu, membuang sisa rokok miliknya. Memasuki mobil dan pergi meninggalkan pekarangan rumah keluarga Rome.

***

Ansara membuka loker miliknya, untuk memasukan baju untuk latihan Ballet nanti sore. Saat menutup pintu, ada tangan yang menahan pintu itu untuk tertutup.

"Hai, An." Sapa Megumi. Menampilkan senyuman terpaksanya pada Ansara.

Ansara diam menatap datar Megumi, "minggir! Jangan ganggu aku." Pinta Ansara.

Megumi tertawa, "lo masih takut, karena dulu, saat kita masih anak-anak, gue selalu ganggu lo?" Tanya Megumi. Gadis itu memainkan surai milik Ansara.

Ansara menghempaskan tangan Megumi, yang bertengger di surai hitam miliknya.

"Tidak! Kamu tidak semenakutkan itu." Jawab Ansara.

Megumi bertepuk tangan, "wah, sekarang Ansara bukan lagi gadis manja rupanya." Ledek Megumi sambil tertawa.

"Gak lucu!" Sahut Ansara kesal.

Megumi berdeham, "baiklah, gue cuma mau bilang sama lo, jauhi Daren! Ini perintah!" Ujar Megumi.

Ansara tersenyum tipis, "kamu siapanya, Kak?" Ucap Ansara remeh. Kali ini, dia akan melawan Megumi, tidak seperti saat mereka masih anak-anak, Ansara hanya selalu diam saja.

"Daren belum kasih tahu lo?" Tanya Megumi. Ansara hanya diam tak menjawab.

"Daren berjanji sama Papi gue, dia akan bertunangan sama gue. Dan, lo tahu apa?"

"Lo yang siapanya Daren! Bukan gue, Ansara." Sambung Megumi kembali.

Ansara mengepal kuat kedua tangan kecilnya, tidak! Daren tidak akan melakukan hal tersebut, laki-laki itu begitu mencintai Ansara. Tidak! Megumi pasti membohonginya.

"Jaga ucapanmu kak!" Bantah Ansara.

Megumi menepuk pipi Ansara, "tanyakan saja, pada kekasihmu."

Megumi menutup mulutnya menggunakan tangan, "Ups, calon tunangan gue, lebih tepatnya!" Gadis dengan rambut kuncir kuda itu berlalu meninggalkan Ansara, yang sudah menahan tangis. Apa Daren membohonginya kali ini. Itulah, yang saat ini berputar di kepala Ansara.

The VillianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang