****
Ares mengelus pelan surai Ansara, malam ini, kedua saudara itu menghabiskan waktu dengan bersantai di balkon kamar Ansara dengan memandang tebaran bintang indah yang menerangi langit gelap.
Ansara tidur beralaskan lengan Ares, gadis kecil itu masih sedikit takut dengan kejadian yang menimpanya tadi sore.
Saat ini, Daren sedang pergi untuk menelusuri musibah yang menimpa Ansara. Dan, meminta Ares untuk menemani sang kekasih, agar Ansara tidak takut dan merasa ia sendirian.
"Adik, tenanglah. Tidak perlu takut akan apapun, Abang, akan menjagamu. Kau tidak perlu merasa sendirian, sayang." Ucap Ares. Cowok itu mengecup pelan kepala Ansara.
Sejujurnya, Ares saat takut jika hal buruk menimpa sang adik. Ansara-nya begitu baik, adik kecil kesayangannya, tidak boleh terluka sedikitpun.
"Ada abang, yang akan selalu menjagamu. Tidak perlu khawatir, sayang." Tambahnya lagi.
Sedangkan Ansara, gadis itu hanya mengeratkan dekapannya pada sang kakak.
"An, takut sekali, Bang." Lirih Ansara.
Ares menatap sang adik, "tidak perlu takut, Daren akan mencari pelakunya. Dia akan ditangkap lalu diadili, atas perbuatan jahat yang dia lakukan." Ujar Ares menenangkan sang adik.
"Abang, apa kita akan baik baik saja?" Tanya Ansara.
Ares tersenyum, "tentu, tidak akan ada yang berani pada kita. Apalagi, pada adik kecilku."
Ansara membalas senyuman hangat dari Ares. "Setidaknya, sekarang An, tidak takut lagi, karena, An, memiliki Abang yang hebat." Katanya dengan riang.
"Ya, tentu saja. Abang sehebat itu," jawab Ares. Ansara hanya tertawa menanggapi jawaban sang kakak.
***
Louise terus menggerakan jari jemari nya, berselancar dengan berbagai macam kode yang terpampang nyata pada layar komputer miliknya saat ini.
Kevin memandang sengit laki-laki berambut ikal itu, mengapa menekan tombol pada keyboard sampai sekeras itu. Membuat fokus Kevin pada video yang ia tonton sedikit goyah.
"Lou! Pelan sedikit." Pintanya kesal.
Louise diam, laki-laki itu masih sibuk pada komputer dihadapannya. Serta, kunyahan pada permen karet di dalam rongga mulutnya.
"Tidak bisa! Ini perintah Daren. Benarkan, Ren?" Louise tersenyum penuh kemenangan, saat melihat Kevin hanya mendesah pasrah. Siapa yang akan berani menentang perintah dari Tuan muda Aldrich?
Bahkan sejak Louise dan Kevin masih anak anak, mereka memang sudah disiapkan untuk mendampingi penerus keluarga Aldrich. Keluarga Adtmaja dan Darsono, memang selalu menjalin kerja sama dengan keluarga Aldrich. Jika Louise di persiapan untuk menangani berbagai macam bentuk hukum dan teknologi, maka Kevin disiapkan untuk bagian keamanan.
"Baiklah, aku yang mengalah!" Kevin mematikan video pemotongan daging yang ia tonton.
"Mau kemana?" Tanya Daren, saat melihat Kevin berdiri dari duduknya.
"Bolehkah, diriku pergi sebentar?" Tanyanya pada Daren.
"Kau ingin menemui gadis berkacamata itu kan?" Tebak Louise. Lagi lagi, laki-laki itu memutar kursinya untuk berbalik dan melihat Kevin. Dan, sekarang Louise sudah menunjukan wajah penuh ledeknya.
"Bukan urusanmu!" Sentak Kevin.
Louise mencebik, "baiklah, aku akan menyelesaikan saja pekerjaanku."
"Pergilah, Vin. Kembali secepatnya!" Perintah Daren.
Kevin mengangguk, "terimakasih." Ia segera berjalan, menempelkan kartu akses untuk keluar dari markas Empat pilar.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villian
RomansaHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
